Total Tayangan Halaman

Selasa, 21 Maret 2017

PARADOKS WAHDATUL WUJUD DAN LILIN IBNU 'ARABI ADALAH AF'AL ALLAH SEMATA


Paradoks Wahdatul Wujud Dan Lilin Ibnu ‘Arabi

“Saya Allah (Ana Al-Haq), siapa lagi saya ini, sebab tidak ada sesuatu kecuali saya” demikian pernyataan Syekh Lemah Abang yang lebih di kenal Syekh Siti Jenar dalam “sidang paripurna” dengan para Wali di Girigajah di Gunung Kadaton. Ajaran Syekh Siti Jenar ini dalam lidah Jawa dikenal dengan istilah manunggaling kaula gusti sementara dalam term Arab di sebut Wahdatul Wujud. Konon ia diinspirasi oleh Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi.

Ajaran ini dianggap berbahaya bagi keteguhan iman umat Islam di Jawa, wabil khusus mereka yang baru saja mendengar “Islam”. Tak pelak, sidang paripurna para Wali itu memutuskan bahwa Siti Jenar harus dipenggal lehernya konon menurut cerita. Hal senada juga pernah dialami oleh Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri di bumi Aceh, meski mereka gagal dieksekusi karena melarikan diri. Tapi setidaknya mereka hidup menggelandang lantaran ajarannya.

Kita yang awam ini tentu dilumuri oleh sekian pertanyaan, benarkah Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri kafir karena kalimatnya? Bukankah Tuhan berkata bahwa ia lebih dekat dari urat leher manusia? Siapa lagi yang lebih dekat dengan urat leher manusia selain diri? Atau mungkinkah ada persaingan tidak sehat, artinya para Wali khawatir kalah pamor dengan Syekh Siti Jenar???...........................

Baiklah pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud memberi novum terhadap hukuman mati Siti Jenar maupun ketiga tokoh yang lain, dan tidak pula hendak berkisah tentang sejarah Wali Songo dan sejarah Aceh. Kalaupun itu perlu, diruang dan waktu yang berbeda akan lebih sempurna. Pengutipan kisah hidup Syekh Siti Jenar dan beberapa tokoh diatas lebih kepada agar memori kita akrab dengan istilah "Wahdatul Wujud" yang menjadi pokok persoalan tulisan ini.

Yang nantinya akan dikembangkan dalam kacamata Ibnu ‘Arabi. Setidaknya kita telah melakukan pemanasan dan rangsangan-rangsangan kearah dunia sufi dengan harapan kita dapat “klimaks” sempurna bersama pelukan dan sentuhan lembut pemikiran-pemikiran Si Belerang Merah (sebutan Ibnu Arabi).      

Diskursus Wahdatul Wujud di masyarakat kita, bisa dibilang kontraversial. Satu sisi memandang sebagai ajaran kekafiran karena menempatkan hamba sebagai yang inheren dengan khaliq, sehingga tidak ada bedanya antara yang menciptakan dan yang diciptakan. (zahirurabbi bhatinu Abdi)

Disisi lain memandang bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang riil, dia adalah realitas dari segala yang ada, diluar dirinya adalah nihil. Dengan demikian, manusia dan semesta adalah inheren dengan Tuhan. 

Kedua pandangan ini sulit untuk di damaikan dalam satu frame yang sama tentang kesatuan wujud. 
Inilah yang membuat Wahdatul Wujud sebagai sebentuk konsep inti sufisme tidak dapat diterima secara mentah-mentah dan menyeluruh oleh kalangan umat Islam di segenap penjuru dunia ahli syariat. 

Klaim-klaim semacam ini tak jarang memicu konflik horizontal. Di tengah polemik inilah, Ibnu ‘Arabi sebagai pendekar pilih tanding meyalakan lilin untuk menerangi dan melerai kedua pandangan tadi yang tengah bertikai diruang gelap. Lalu ia, memberikan jalan berbeda dengan mengkombinasikan filsafat dan perjalanan spritualnya, sebagaimana yang dikatakannya sendiri, ia telah menorobos batas-batas atau tirai-tirai tertentu hingga mencapai unity of being dan bahkan telah intim dengan Tuhan.

Meski tidak ada teks-teks Ibnu Arabi yang secara tegas menyatakan bahwa ajarannya adalah Wahdatul Wujud. Tetapi teorinya digolongkan sebagai "Wahdatul Wujud", itu semata-mata karena konsep metafisika ketuhanannya tidak bisa dipisahkan dengan konsep kesatuan wujud dengan cirinya sendiri.Misalnya pernyataan bahwa “pada segala hal adalah tanda bahwa ia adalah Dia”. “ia” bisa kita maknai sebagai makhluk dan “Dia” bisa kita maknai sebagai Tuhan.

Lebih jauh ditegaskan oleh Muhammad Al- Fayyald dalam Teologi Negatif Ibnu Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan, KH. Muhammad Sholikhin dalam Filsafat dan Metafisikan Dalam Islam: Sebuah Penejelajahan Nalar, Pengalaman Mistik dan Perjalanan aliran Manunggaling Kawula-Gusti, maupun yang dikatakan oleh William C. Chittik dalam Pengetahuan Spritual Ibnu ‘Arabi (The Sufi Path of Knowledge).

Dengan berpijak pada Futuhat Al-Makkiyah,Tarjuman Al-Asywaq dan Fusus Al-Hikam, ketiga komentator diatas bersepakat bahwa Ibnu ‘Arabi tidak hanya sebagai imago monde dan dedengkot dariWahdatul Wujud tetapi ia berhasil memberikan narasi dan rasionalisasi yang different dari pendahulu-pendahulunya. Lantas bagaimana sebenarnya Ibnu ‘Arabi menyalakan lilinnya? Sebelum itu mari kita ber-fatihah untuknya semoga diterangi alam kuburnya, Al-fatihah!

Jangan lupa saudara untuk membaca artikel ini agar serius dan lebih jelas dan gamblang  minum dulu air kopi dan hisap sebatang rokok.

Fatwa Wujud Ibnu ‘Arabi
Mendebat Wahdatul Wujud memang cukup rentan terperosok kedalam jurang Panteisme dan Monisme. Yang mana dalam pandangan Panteisme segala sesuatu adalah Tuhan, manusia dan dunia adalah Tuhan. 

Tuhan menciptakan semesta dari creatio ex nihilo sehingga manusia dan semesta adalah bagian dari Tuhan, pendek kata manusia ini adalah Tuhan.Sementara Monisme mengembalikan kejamakan pada suatu kesatuan, dalam hal ini tepat jika disebut persatuan dalam arti menyatukan entitas makhluk dengan Tuhan. 

Pertanyaannya, mana mungkin manusia yang kotor ini dipadukan dengan zat Tuhan. Jadi jelas Panteisme dan Monisme kafir dalam Islam.Hehehe...........

Secara sangat sederhana nan awam, Wahdatu Wujudadalah kesatuan eksistensi antara hamba dan sang khaliq. Pengertian ini jelas tidak representatif untuk mengungkap makna Whdatul Wujud. Ada banyak versi pemahaman tentang itu. Semakin kita menelusuru lorong-lorong definisi Wahdatul Wujud maka sepanjang lorong itu pula kita akan mendapat definisi yang berbeda. 

Jalaluddin Rumi, misalnya, mengatakan bahwa Wahdatul Wujud adalah suatu proses dari alam semesta yang selalu berubah dan hilang serta serentak diperbaharui tanpa istirahat sedetikpun dan hakekatnya adalah Tuhan.

Bagi Capt. Wahid Bakhsh Rabbani, ia berangkat dari pernyataan Al-Qur’an “Dia Adalah yang awal dan yang akhir, yang lahir dan yang batin” maka Wahdatul Wujud adalah kesatuan wujud secara totalitas, eksistensi dari semua hal adalah satu hal. Sementara pertunjukan kebenaran tertinggi adalah secara totalitas, dia adalah totalitas dan totalitas ini meliputi lahir dan batin.

Menurut Abu Yazid al-Bustami bahwa manusia adalah pancaran Nur ilahi oleh karena itu manusia hilang kesadarannya sebagai manusia, maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan. 

Bagi Al-Jilli bahwa manusia adalah nukhsoh atau copy Tuhan. Tuhan memiliki sifat pandai, berkehendak, mendengar dan seterusnya dan manusia juga memiliki sifat ini. Ia menunjukkan bahwa pada diri manusia terdapat nama dan sifat ilahi. Pada titik ini hampir sama dengan Ibnu ‘Arabi.    

Sementara bagi Ibnu ‘Arabi sendiri yang mengaku telah mendapat fath (pencerahan) mengajarkan bahwa keberadaan makhluk sebagai wujud nisbi tergantung pada keberadaan Tuhan sebagai wujud mutlak, atau manusia tercipta dari wujud ilahiah. 

Manusia paling sempurna adalah perwujudan dari penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Meski demikian, eksistensi manusia bukan berarti identitas akhir manusia itu sama dengan tuhan, atau Tuhan sama dengan manusia. Masing-masing berbeda. 

Manusia ada kerena Tuhan, muncul karena terkondisi dengan status kekurangan yang sesuai dengan dirinya. Dalam artian Tuhan ingin melihat dirinya di luar dirinya. Laksana manusia bercermin untuk mengoreksi dirinya. 

Tuhan adalah identik dan berbeda dengan alam, Tuhan adalah imanen dan transenden. Dengan kata lain mahluk atau yang dijadikan (mumkinul wujud), wujudnya bergantung pada wujud Tuhan yang bersifat wajib (wajibul wujud).

Pendek kata, yang sebenarnya punya wujud hanya satu, yaitu Tuhan. Wujud dari selain Tuhan adalah wujud bayangan atau modifikasi. Dengan kata lain Tuhan yang transenden meng-imanenkan dirinya agar dapat dikenali oleh mahluknya. Sampai disini ‘Arabi menepis tuduhan bahwa ajarannya dianggap cendrung Monisme dan Panteisme.

Transendensi dan Imanensi Al-Haqq
Simplenya Wahdatul Wujud ‘Arabi berintikan pandangan bahwa al-wujud pertama-tama adalah tunggal, satu atau esa. Konsisten dengan argumen bahwa hanya Allah yang dapat disebut al-wujud secara hakiki, dalam artian tidak ada al-wujud yang dapat disebut al-wujud selain Allah itu sendiri, atau sebaliknya bahwa Allah adalah al-wujud. Sementara bahwa al-wujud itu esa berarti ia tidak terduakan, ia adalah singular pada dirinya, unik pada dirinya dan distinct pada dirinya. Ia tidak tergantikan pada dirinya. Pada titik ini Wahdatul Wujud ‘Arabi tidak bisa dipisahkan bahkan bisa dikatakan identik dengan ajaran tauhid itu sendiri, yaitu keimanan bahwa Allah adalah esa. Ini bisa ditelusuri pada:

“tidak ada dalam Al-wujud selain Dia. Maka renungkanlah seperti aku merenungkannya niscaya engkau akan mendapatkannya Dia sebagaimana Dia adanya” dan “ Ketauhilah bahwa tauhid berarti upaya diri manusia atau pencari Tuhan untuk mengetahui bahwa Allah yang menciptkannya adalah Tunggal/Satu/Esa, tidak ada sekutu bagiNya dalam hal ketuhanan-Nya”.

Ibnu ‘Arabi juga menegaskan bahwa al-wujud bukanlah realitas yang dapat diketahui, al-wujud secara hakiki yakni al-wujud sebagai Allah tidak pernah terjangkau oleh pengetahuan apapun. “Tuhan” yang kita bicarakan hanya semata konsepsi tentang Tuhan atau konsepsi tentang konsepsi tentang konsep Tuhan, bukan zat Tuhan. Tuhan secara esensi tidak akan pernah terjangkau, sebagaimana Mazhab Kepanjen. juga mengatakan bahwa yang kita bicarakan hanyalah sebatas eksistensi Tuhan. Sehingga meski sampai teler ketika berbicara al-wujud sebenarnya kita tak pernah mengerti dan memahami zat Tuhan.


Pengakuan Tuhan akan dirinya di dalam Al- qur’an, atau yang lebih dikenal dengan manifestasi, teofani, atau penampakan juga tidak akan membawa pemahaman atau pengetahuan manusia pada esensi Tuhan. Semua itu hanya jalan mengenal Tuhan. Dalam hal ini Ibnu ‘Arabi mengangkat satu kasus firman Allah :

Allah telah berfirman “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” maka dia melakukan tanzih. “dan dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” maka Dia melakukan tasbih. Dan allah berfirman “tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya” dia telah melakukan tasbih dan memuji dirinya. “Dan dia Mendengar lagi Maha Melihat”, maka Dia melakukan tanzih dan menyendirikan dirinya.

Kata-kata “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” merupakan tanzih (Transenden) penghilangan Allah dari segala bentuk penyerupaan atau keserupaan, menegasikan segala bentuk kemiripan, analogi, simbolisai atau representasi. Artinya mustahil mendekati Tuhan. Tetapi secara bersamaan bahwa Tuhan dapat diserupakan karena “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Ungkapan “mendengar” dan “melihat” hanya bisa dibanyangkan pada mahluk selain Allah sehingga pada Allah mengandaikan adanya keserupaan atau penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, ini kemudian disebut Tasybih (Imanen). Sampai disini Tuhan adalah Transenden dan Imanen bagi ‘Arabi. Atau istilahnya lahut dan nasut bahwa pada makhluk ada sifat Ketuhanan dan pada Tuhan ada sifat kemanusiaan.

Selanjutnya, Ibnu ‘Arabi menegaskan adanya tasybih justru pada pernyataan yang mencerminkan tanzih. Ternyata ia menegaskan kembali bahwa keserupaan hanya milik selain Allah, bahwa Allah tidak serupa dalam keserupaannya. Dan tanzih pada pernyataan yang tasybih bermakna bahwa Tuhan “mendengar” bukan dalam arti mendengar seperti yang dapat dipahami atau dibanyangkan, dan ia “melihat” bukan dalam arti melihat seperti yang dapat dipahami atau dibayangkan. Ia melihat dan mendengar dengan caranya sendiri. Pada titik ini disimpulkan bahwa ajaran Ibnu ‘Arabi adalah teologi via negatif.

Dari penjelasan ini Ibnu ‘Arabi kembali memberi enforcement bahwa hanya ada satu realitas ultimate dalam seluruh penciptaan, dimana al-haqq memanifestasikan dirinya dalam makhluk. Al-haqq  sebagai merupakan sumber segala realitas, yang tidak bisa dibagi-bagi, kekal dan tidak berubah-ubah. Berbagai objek di alam semesta ini adalah Tuhan, namun ia tidak identik dengan objek-objek itu. Tuhan menjadi beraneka ragam hanya melalui sifat-sifat atau modifikasi-Nya. 

Dipandang dari hubungannya dengan sifat-sifat-Nya yang mengejawantah dalam keberagaman entitas-entitas yang mungkin, maka manusia adalah ciptaan (al-khalq). Akan tetapi, kegandaan itu : satu dan banyak, yang pertama dan terakhir, yang abadi dan temporal, yang wajib dan mungkin pada hakikatnya adalah realitas yang satu dan sama.

Bagi ‘Arabi manusia memang unik karena fakta bahwa mereka diciptakan menurut citra Tuhan dan dapat mengaktualisasikan semua sifat Tuhan di dalam dirinya. Ini melibatkan transformasi serempak, baik eksistensi maupun pengetahuan: manusia sempurna mulai mengenal Tuhan sebagai Tuhan dalam Diri-Nya, dan pada saat yang sama memanifestasikan sifat-sifat Tuhan melalui bentuk eksistensi sifat-sifat itu dalam kosmos.

Modalitas-modalitas kesempurnaan manusia sangat beragam, tetapi tahap tertinggi kesempurnaan menuntut agar sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al- hadhrah al-ilahiyah).

Pada poin ini seseorang disebut muhaqqiq (orang yang membenarkan) atau “pemilik dua mata”. Satu mata, orang itu melihat keunikannya sendiri sebagai makhluk, dengan lain mata, ia melihat kesamaannya dengan Tuhan. Ia menyaksikan dirinya dekat dengan Tuhan dan sekaligus jauh dari-Nya, riil dan tak riil, ada dan tak ada, transenden dan imanen.

“Pernikahan” Teolog dan Filsuf
Secara langsung atau tidak, transendensi dan Imanensi wujud ‘Arabi mengurai benang kusut paramutakllimin dan filosof. Ia laksana penghulu yang mempertemukan dan mengawinkan pertentangan keduanya, meski sebenarnya upaya singkronisai ini telah dilakukan oleh Al-Khindi sebelumnya. Tetapi problem pemikiran spekulasi dan ilham sebagai sumber pengetahuan bagai bara api yang selalu memanas diantara kalangan Fuqaha  dan filsuf.

Bagi teolog tidak ada persoalan yang fundamental, penting dan mendasar selain persoalan zat Tuhan. Pertanyaan tentang zat merupakan inti, substansi dan titik awal dari mana teologi membangun asumsi-asumsinya. Sehingga para teolog ansich berkutat pada wilayah zat Tuhan dan mengabaikan proses dan hasil pemikiran.

Sebaliknya, para filsuf dengan kekuatan rasionalisasi beserta perangkat - perangkatnya menafikan pengetahuan-pengetahuan spiritual. Filsuf termangu dengan area kosmos yang dijadikan pijakan sekaligus objek pengetahuannya.

Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa  keduanya kurang tepat karena sama-sama mengabaikan aspek-aspek penting pengetahuan. Kaum mutakallimin hanya memotret sisi tanzih ketuhanan dan mengabaikan serta tidak mengerti tentang kosmos, sebaliknya filosof terlalu dangkal memaknai pengetahuan yang hanya diukur dengan rasio dan berputar diwilayah tasybih. 

Tetapi ‘Arabi menghargai usaha keduanya, hal ini ditunjukkan dari sejarah biografinya bahwa ia banyak mengunjungi para teolog seperti Abdul Aziz al-Mahdawi, Abu Abdillah al-Daqqaq, Ibn Hirzihmi. Sementara filsuf yang ia kunjungi adalah Ibnu Ruysd, bahkan ia terlibat dialog yang cukup mengesankan dengan beliau. 

Sebagaiman dikutip oleh Zuhry:
Kemudian ia (Ibnu Rusyd) melontarkan satu pertanyaan “solusi apa yang telah kamu ketahui dari hasil kasyf dan ilhammu? Apakah ia sejajar dengan hasil pemikiran spekulatif” aku jawab”, “ya dan tidak”. Di diantara ya dan tidak ini, tidak ada arwah akan terbang jauh diatas meteri dan leher-leher akan terpisah dari tubuh-tubuhnya.

Meski tidak ada penjelasan yang spesifik tentang konteks dari pembicaraan ini, tetapi ini menunjukkan posisinya dalam berhadapan dengan filsuf. Ia menjawaban “ya dan tidak”. Jawaban “ya” dapat diartikan bahwa Ibnu ‘Arabi mengakui dirinya memperoleh pengetahuan tentang masalah ilham langsung dari Tuhan dalam sebuah “pencerahan” dan fath. Namun segera ia menambahkan “tidak”, yang menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut sama sekali berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh Ibn Rusyd dalam pemikiran spekulatif.

Namun demikian, bagi ‘Arabi para filosof dan teolog telah menipu diri dengan mengira bahwa mereka dapat mengetahui esensi (zat) Tuhan hanya dengan memikirkannya. Kerena ketidak mampuan akal dalam memahami tanzih dan tasybih, mereka mencoba menakwilkan ayat - ayat al-qur’an yang berbicara tentang Tuhan dalam batas - batas makhluk. Jika mereka dapat melihat dengan mata penyingkapan, mereka akan mengakui bahwa Tuhan mengungkapkan sifat penyingkapan diri-Nya sendiri melalui ayat-ayat al-qur’an. 

Tirai Disingkap
Setelah Ibnu ‘Arabi menjelaskan bagaimana Tanzih dan tasybih Tuhan, dan keberhasilannya mengurai benang kusut antara teolog dan filsuf. Ia memberikan preskripsi bahwa manusia mencapai Tuhan hanya melalui tajalli (penyingkapan, teofani, penyerupaan) Tuhan pada diri manusia. Dengan kata lain wujud tidak hanya berarti “menjadi” atau “mengada”, melainkan juga “menemukan” dan “ditemukan”. Ketika diterapkan pada Tuhan, kata itu berarti bahwa Tuhan ada dan mustahil tidak ada, dan bahwa dia menemukan diriNya sendiri. Wujud bukan hanya menunjukkan eksistensi, melainkan juga pengetahuan, keinsafan, dan kesadaran.

Pemaknaan realitas tunggal sebagai kesadaran diri berarti ia menemukan dirinya sendiri dan dalam menemukan diri sendiri itu ia mengetahui kemungkinan-kemungkinan perluasan dan penyebarannya sendiri yang tak terhingga.

Engkau tidak akan mengetahui sesuatupun tentang Tuhan kecuali melalui apa yang Dia tunjukkan pada kita dan dia semayamkan di dalam dirimu baik melalui ilham maupun ketersingkapan dari pernyataan diri Tuhan.

Jika ditelusuri pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arofa rabbahu” bahwa barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Dengan mengenali diri seorang hamba akan mampu mengenal Tuhan sesuai dengan penyingkapan diri-Nya, namun tidak dapat mengenalnya dalam keesaan zat-Nya. 

Diri manusia tidak cukup untuk tahu esensi Tuhan. Hal ini sejatinya akan membawa pada bahwa ketika seorang hamba memuja Tuhannya, sesungguhnya dia sedang memuja dirinya sendiri. Dia memuja Tuhan sesuai dengan penyingkapan dirinya-Nya pada jiwa, itu terbatas dan terumuskan oleh jiwa. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hamba tidak dapat memuja sesuatupun selain Tuhan, karena apapun yang dipuja oleh seseorang adalah penyingkapan diri Tuhan pada diri. 

Untuk membuat pemahaman yang gamblang Ibnu ‘Arabi menyampaikan analogi yang pernah dikatakan oleh Junaid al-Bagdadi :Junaid mengatakan “Warna air sesuai dengan warna gelasnya”, maka demikian pula halnya dengan penyingkapan diri yang mengambil tempat di dalam locus pengejawantahan. Seorang Gnostik dapat  menangkap hal ini secara konstan. Dia senantiasa mengalami penyingkapan diri secara konstan pula: Seorang Gnostik tahu bahwa dia menyatakan diri dan mengapa menghendakinya. Namun, bagiamanapun juga, hanya yang nyata yang mengetahui Dia menyatakan-diri.

Perpijak dari analogi diatas, cara pandang masing-masing orang menjadi penting  bahkan sebuah kemutlakan, karena tentu masing-masing orang punya gelas yang berbebeda untuk mengambil air pada kolam yang sama. Jadi, tidak ada dua orang yang memiliki argumen yang sama tentang Tuhan, karena satu keadaan mustahil di jumpai dalam diri dua orang. 

Inilah Tuhan yang mengejawantahkan diri-Nya pada jiwa. Pengejawantahan diri itu berbeda dari apa yang dialami oleh jiwa lain. Tuhan yang saya kenal melalui pengenalan diri saya adalah Tuhan dalam keimanan saya sendiri. Jadi jelas bahwa akar dari eksistensi pengetahuan tentang Tuhan adalah pengetahuan tentang diri, diri adalah lautan tak bertepi sehingga pengetahuan tentangnya tidak memiliki akhir. Dengan kata lain tidak ada pengetahuan akhir tentang Tuhan. Tetapi lagi-lagi pengetahuan diberikan melalui penyingkapan ilahi.

Ibnu ‘Arabi “Pontang-Panting”
Penyingkapan Tuhan bukanlah barang “murahan” yang berserakan dimana-mana. Untuk mendapat pencerahan dari Tuhan harus melalui pertobatan (tawbah) yang sungguh-sungguh. Ibnu ‘Arabi memulai langkah ini sejak usianya masih belia, 20 tahun. Ia mengawalinya dengan kesadaran, bahwa selama ini ia terlalu terlena oleh dunia. Ia melakukan penyesalan terdalamnya dan benar-benar ingin berubah.

Dan tak lama, Ibnu ‘Arabi mendapat pencerahan (fath). Fath berarti “pembukaan”, “keterbukaan” atau “ketersingkapan”. Ketersingkapan ini menunjukkan adanya suatu rahasia yang datang dari sesuatu yang lain diluar diri seseorang. Dalam kasus ‘Arabi, fath datang dari Tuhan, ia pun semakin mantap untuk menempuh jalan tasawuf.   

Menurut pengakuannya selama memperoleh fath, pada saat yang bersamaan ia juga mengalami jadzbah atau ekstase. Dalam kondisi jadzbah, ia sering kehilangan kesadaran dan akal sehatnya karena kekuatan Tuhan yang datang tiba-tiba dan tidak terduga. Jadzbah biasanya dialami seorang sufi yang telah mencapai maqam yang tinggi dalam tasawuf. Namun Ibnu ‘Arabi telah mengalami itu lebih dini.  

Dalam upayanya mengenal Tuhan berkali-kali dihantui kegagalan. Perkenalannya dengan Tuhan ia alami begitu sendiri tanpa kehadiran siapapun. Ia bahkan tidak memiliki seorang guru yang membimbingnya. Satu-satunya guru yang memperkenalkannya kepada Tuhan adalah Nabi ‘Isa yang ditemui dalam mimpi, dan bukan secara fisik sebagaimana umumnya para sufi. Untuk mengenal Tuhan ia tidak punya apa-apa, selain kesungguhan dan usaha keras dalam beribadah.

Ibnu’ Arabi kemudian memutuskan untuk meninggalkan seluruh kekayaan dan memilih menjadi orang miskin yang tidak memiliki apa-apa selain pengabdiannya kepada Allah. Pada saat itulah ia mulai mencicipi manisnya pengabdian murni kepada Allah tanpa terikat dengan apapun di dunia. Ia telah melakukan pengabdian tertinggi yaitu penyerahan absolute pada Tuhan tanpa embel-embel kepemilikan apapun. 

Dalam beberapa karyanya, ia mengaku telah melakukan pelepasan total dari segala atribut yang dimiliki seorang hamba dan satu-satunya yang dia miliki adalah status ontologisnya sebagai “hamba” dan bukan yang lain. Bahkan ia sedikit “congkak” dengan mengaku bahwa tak ada satupun sufi yang telah mengalami pencapaian sebagai mana yang ia lakukan.

Ia juga mengkui bahwa dalam menjalani itu semua kerap dihadang cobaan. Cobaan paling berat adalah setelah megalami fatrah yaitu merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Fatrah adalah masa-masa diskontinuitas seorang sufi dengan Tuhan. Momen ini adalah momen paling genting dan menyakitkan bagi seorang sufi karena Tuhan yang ia cintai telah meninggalakan dirinya. Tetapi setelah mengalami masa fatrah perjalanan tasawuf Ibnu ‘Arabi semakin mudah. Beberapa kali ia mendapatkan anugrah. Misalnya, pada 586, di Kordoba, ia bermimpi bertemu dengan para nabi dan rasul.

Pengalaman-pengalamn semacam itu, membuat Ibnu ‘Arabi yakin bahwa Tuhan tidak bisa dikonsepsikan dengan pikiran, ia menyadari betapa terbatasnya wacana manusia yang berbicara tentang Tuhan. Dari sinilah ia kemudian mengkritik para teolog dan filsuf dan memberikan pandangan ketuhannya sendiri.

Kesimpulan
Jelas, bahwa lilin Ibnu ‘Arabi dalam dunia tidak padam dan bahkan tidak akan pernah padam, dan selalu menyinari ruang abu-abu antara hamba yang tasybih dengan Tuhan yang Tanzih. Klasifikasi itu semata untuk memudahkan kita dalam memahami bahwa ada realitas ultim yang mendasari dari segala yang ada di semesta ini. Karena yang ultimi begitu sempurna dan suci, maka pikiran manusia tidak akan pernah sampai padanya. Tak ada satu definisi yang mampu menjelaskan zatnya (Laysa Khamislihi Syaiun). Dengan kata lain hanya apabila Tuhan menyingkapkan diriNya manusia mampu mencapainya. 

Sebagai hamba mereka tidak akan menyengutukkan Allah dengan yang lain. Yang Wujud Hanya Allah. Akan tetap mengenali Asal Usul Dirinya dan mengembalikan Hak Allah yang diberikan kepadanya yaitu jasad & ruh dengan sempurna ( tidak akan memisahkan ruh & jasad atau SeZat-kan dirinya ).
Akan menjadi CERMIN BERKILAP bagi Allah dan menjaga RAHASIA dan AMANAH ALLAH serta mengembalikan rahasia dan amanah itu kepada Allah bila tiba masanya.
Menjalankan SYIAR ALLAH
Allah pula berjanji :
Ruh akan diberi Jasad sesifat dirinya ( ruh). Urusan kehidupan ruh didunia adalah semata-mata urusan Allah dan perbuatan manusia adalah Af’al Allah semata-mata.

Senin, 10 Agustus 2015

perbedaan ilmu dengan pengetahuan


Perbedaan Ilmu dengan Pengetahuan

1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Pada awalnya yang pertama muncul adalah filsafat dan ilmu-ilmu khusus merupakan bagian dari filsafat. Sehingga dikatakan bahwa filsafat merupakan induk atau ibu dari semua ilmu (mater scientiarum).  Karena objek material filsafat bersifat umum yaitu seluruh kenyataan, pada hal ilmu-ilmu membutuhkan objek khusus.  Hal ini menyebabkan berpisahnya ilmu dari filsafat.
Meskipun pada perkembangannya masing-masing ilmu memisahkan diri dari filsafat, ini tidak berarti hubungan filsafat dengan ilmu-ilmu khusus menjadi terputus. Dengan ciri kekhususan yang dimiliki setiap ilmu, hal ini menimbulkan batas-batas yang tegas di antara masing-masing ilmu. Dengan kata lain tidak ada bidang pengetahuan yang menjadi penghubung ilmu-ilmu yang terpisah. Di sinilah filsafat berusaha untuk menyatu padukan masing-masing ilmu. Tugas filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu pandangan hidup yang didasarkan atas pengalaman kemanusian yang luas.
Ada hubungan timbal balik antara ilmu dengan filsafat. Banyak masalah filsafat yang memerlukan landasan pada pengetahuan ilmiah apabila pembahasannya tidak ingin dikatakan dangkal dan keliru. Ilmu dewasa ini dapat menyediakan bagi filsafat sejumlah besar bahan yang berupa fakta-fakta yang sangat penting bagi perkembangan ide-ide filsafati yang tepat sehingga sejalan dengan pengetahuan ilmiah.
Dalam perkembangan berikutnya, filsafat tidak saja dipandang sebagai induk dan sumber ilmu, tetapi sudah merupakan bagian dari ilmu itu sendiri, yang juga mengalami spesialisasi.  Dalam taraf peralihan ini filsafat tidak mencakup keseluruhan, tetapi sudah menjadi sektoral.   Contohnya filsafat agama, filsafat hukum, dan filsafat ilmu adalah bagian dari perkembangan filsafat yang sudah menjadi sektoral dan terkotak dalam satu bidang tertentu. Dalam konteks inilah kemudian ilmu sebagai kajian filsafat sangat relevan untuk dikaji dan didalami .

2. Definisi Ilmu Pengetahuan

Membicarakan masalah ilmu pengetahuan beserta definisinya ternyata tidak semudah dengan yang diperkirakan. Adanya berbagai definisi tentang ilmu pengetahuan ternyata belum dapat menolong untuk memahami hakikat ilmu pengetahuan itu. Sekarang orang lebih berkepentingan dengan mengadakan penggolongan (klasifikasi) sehingga garis demarkasi antara (cabang) ilmu yang satu dengan yang lainnya menjadi lebih diperhatikan.
Pengertian ilmu     yang terdapat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu (Admojo, 1998). Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik, seperti metafisika.
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli diantaranya  adalah :
  • Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
  • Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
  • Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
  • Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
  • Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia. Lebih lanjut ilmu didefinisikan sebagai suatu cara menganalisis yang mengijinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : “ jika …. maka “.
  • Afanasyef, menyatakan ilmu adalah manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, katagori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Berdasarkan definisi di atas terlihat jelas ada hal prinsip yang berbeda antara ilmu dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
Pembuktian kebenaran pengetahuan berdasarkan penalaran akal atau rasional atau menggunakan logika deduktif. Premis dan proposisi sebelumnya menjadi acuan berpikir rasionalisme. Kelemahan logika deduktif ini sering pengetahuan yang diperoleh tidak sesuai dengan fakta.
Secara lebih jelas ilmu seperti sapu lidi, yakni sebagian lidi yang sudah diraut dan dipotong ujung dan pangkalnya kemudian diikat, sehingga menjadi sapu lidi. Sedangkan pengetahuan adalah lidi-lidi yang masih berserakan di pohon kelapa, di pasar, dan tempat lainnya yang belum tersusun dengan baik.

3. Objek Ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memenuhi ke dua objek tersebut.
Objek material adalah sesuatu hal yang dijadikan sasaran pemikiran (Gegenstand), sesuatu hal yang diselidiki atau sesuatu hal yang dipelajari. Objek material mencakup hal konkrit misalnya manusia,tumbuhan, batu ataupun hal-hal yang abstrak seperti ide-ide, nilai-nilai, dan kerohanian. Objek formal adalah cara memandang, cara meninjau yang dilakukan oleh peneliti terhadap objek materialnya serta prinsip-prinsip yang digunakannya. Objek formal dari suatu ilmu tidak hanya memberi keutuhan suatu ilmu, tetapi pada saat yang sama membedakannya dari bidang-bidang yang lain. Satu objek material dapat ditinjau dari berbagai sudut pandangan sehingga menimbulkan ilmu yang berbeda-beda.

4. Dasar Ilmu

Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar ontologi ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris. Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.
Ontologi merupakan salah satu objek lapangan penelitian kefilsafatan yang paling kuno.  Untuk memberi arti tentang suatu objek ilmu ada beberapa asumsi yang perlu diperhatikan yaitu asumsi pertama adalah suatu objek bisa dikelompokkan berdasarkan kesamaan bentuk, sifat (substansi), struktur atau komparasi dan kuantitatif asumsi. Asumsi kedua adalah kelestarian relatif artinya ilmu tidak mengalami perubahan dalam periode tertentu (dalam waktu singkat). Asumsi ketiga yaitu determinasi artinya ilmu menganut pola tertentu atau tidak terjadi secara kebetulan.
Epistemologi atau teori pengetahuan yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan ruang lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengetahuan yang dimiliki.
Sebagian ciri yang patut mendapat perhatian dalam epistemologi perkembangan ilmu pada masa modern adalah munculnya pandangan baru mengenai ilmu pengetahuan. Pandangan itu merupakan kritik terhadap pandangan Aristoteles, yaitu bahwa ilmu pengetahuan sempurna tak boleh mencari untung, namun harus bersikap kontemplatif, diganti dengan pandangan bahwa ilmu pengetahuan justru harus mencari untung, artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi ini .
Dasar aksiologi berarti sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh, seberapa besar sumbangan ilmu bagi kebutuhan umat manusia. Dasar aksiologi ini merupakan sesuatu yang paling penting bagi manusia karena dengan ilmu segala keperluan dan kebutuhan manusia menjadi terpenuhi secara lebih cepat dan lebih mudah.
Berdasarkan aksiologi, ilmu terlihat jelas bahwa permasalahan yang utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika.  Etika mengandung dua arti yaitu kumpulan pengetahuan mengenai penilaian terhadap perbuatan manusia dan merupakan suatu predikat yang dipakai untuk membedakan hal-hal, perbuatan-perbuatan atau manusia-manusia lainnya. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena disekelilingnya.

5. Prosedur Pencarian Ilmu

Salah satu ciri khas ilmu pengetahuan adalah sebagai suatu aktivitas, yaitu sebagai suatu kegiatan yang dilakukan secara sadar oleh manusia. Ilmu menganut pola tertentu dan tidak terjadi secara kebetulan. Ilmu tidak saja melibatkan aktivitas tunggal, melainkan suatu rangkaian aktivitas, sehingga dengan demikian merupakan suatu proses. Proses dalam rangkaian aktivitas ini bersifat intelektual, dan mengarah pada tujuan-tujuan tertentu.
Disamping ilmu sebagai suatu aktivitas, ilmu juga sebagai suatu produk. Dalam hal ini ilmu dapat diartikan sebagai kumpulan pengetahuan yang merupakan hasil berpikir manusia. Ke dua ciri dasar ilmu yaitu ujud aktivitas manusia dan hasil aktivitas tersebut, merupakan sisi yang tidak terpisahkan dari ciri ketiga yang dimiliki ilmu yaitu sebagai suatu metode.
Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada. Perkembangan ilmu sekarang ini dilakukan dalam ujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu kealaman mampu menjangkau objek potensi-potensi alam yang semula sulit diamati.
Pada umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu kealaman disebut siklus-empirik. Ini menunjukkan pada dua hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik menunjukkan pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregistrasi secara indrawi. Metode siklus-empirik mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runut dari segenap tahapan prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut sering kali dilakukan secara bersamaan.

Pembahasan

Sebelum penjabaran tentang perbedaan pengetahuan dan ilmu pengetahuan, perlu diuraikan tentang pengertian pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah untuk memudahkan dalam mendalami perbedaan antara pengetahuan dan ilmu pengetahuan.

Pengetahuan

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge.Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa difinisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).
Sedangkan secara terminologi definisi pengetahuan ada beberapa definisi.
  1. Pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu.  Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti dan pandai.  Pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.
  2. Pengetahuan adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.
  3. Pengetahuan adalah segenap apa yang kita ketahui tentang  suatu objek tertentu, termasuk didalamnya ilmu, seni dan agama. Pengetahuan ini merupakan khasanah kekayaan mental yang secara langsung dan tak langsung memperkaya kehidupan kita.
Pada dasarnya pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu, atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat berwujud barang-barang baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal, atau yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan.
Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupacommon sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
Ruang Lingkup pengetahuan secara ontologi, epistomologi dan aksiologi ada tiga yaitu Ilmu, Agama dan Seni pada skema berikut :

Ilmu

Pada prinsipnya ilmu merupakan usaha untuk mengorganisir dan mensitematisasikan sesuatu. Sesuatu tersebut dapat diperoleh dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari. Namun sesuatu itu dilanjutkan dengan pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode.
Ilmu dapat merupakan suatu metode berfikir secara objektif (objective thinking), tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia faktual. Ini diperoleh melalui observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya merupakan hal yang objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif). Ilmu sebagai milik manusia secara komprehensif yang merupakan lukisan dan keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.
Ilmu adalah kumpulan pengetahuan. Namun bukan sebaliknya kumpulan ilmu adalah pengetahuan. Kumpulan pengetahuan agar dapat dikatakan ilmu harus memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat yang dimaksudkan adalah objek material dan objek formal. Setiap bidang ilmu baik itu ilmu khusus maupun ilmu filsafat harus memenuhi ke dua objek tersebut. Ilmu merupakan suatu bentuk aktiva yang dengan melakukannya umat manusia memperoleh suatu lebih lengkap dan lebih cermat tentang alam di masa lampau, sekarang dan kemudian serta suatu kemampuan yang meningkat untuk menyesuaikan dirinya.
Ada tiga dasar ilmu yaitu ontologi, epistemologi dan aksiologi. Dasar ontologi ilmu mencakup seluruh aspek kehidupan yang dapat diuji oleh panca indera manusia. Jadi masih dalam jangkauan pengalaman manusia atau bersifat empiris. Objek empiris dapat berupa objek material seperti ide-ide, nilai-nilai, tumbuhan, binatang, batu-batuan dan manusia itu sendiri.
Pada umumnya metodologi yang digunakan dalam ilmu kealaman disebut siklus-empirik. Ini menunjukkan pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjukkan pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregistrasi secara indrawi. Metode siklus-empirik mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runut dari segenap tahapan prosedur ilmiah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut sering kali dilakukan secara bersamaan (Soeprapto, 2003).
Ilmu dalam usahanya untuk menyingkap rahasia-rahasia alam haruslah mengetahui anggapan-anggapan kefilsafatan mengenai alam tersebut. Penegasan ilmu diletakkan pada tolok ukur dari sisi fenomenal dan struktural.
Dimensi Fenomenal.
Dalam dimensi fenomenal ilmu menampakkan diri pada hal-hal berikut :
  1. Masyarakat yaitu suatu masyarakat yang elit yang dalam hidup kesehariannya sangat konsern pada kaidah-kaidah universaI, komunalisme, disinterestedness, dan skeptisme yang terarah dan teratur
  2. Proses yaitu olah krida aktivitas masyarakat elit yang melalui refleksi, kontemplasi, imajinasi, observasi, eksperimentasi, komparasi, dan sebagainya tidak pernah mengenal titik henti untuk mencari dan menemukan kebenaran ilmiah.
  3. Produk yaitu hasil dari aktivitas tadi berupa dalil-dalil, teori, dan paradigma-paradigma beserta hasil penerapannya, baik yang bersifat fisik, maupun non fisik.
Dimensi Struktural
Dalam dimensi struktural ilmu tersusun atas komponen-komponen berikut
  1. Objek sasaran yang ingin diketahui
  2. Objek sasaran terus menerus dipertanyakan tanpa mengenal titik henti
  3. Ada alasan dan dengan sarana dan cara tertentu objek sasaran tadi terus menerus dipertanyakan
  4. Temuan-temuan yang diperoleh selangkah demi selangkah disusun kembali dalam satu kesatuan sistem.
Ilmu dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu Ilmu Pengetahuan Abstrak, Ilmu Pengetahuan Alam dan Ilmu Pengetahuan Humanis.
Secara rinci seperti skema di bawah ini.
Berdasarkan skema di atas terlihat bahwa ilmu melingkupi tiga bidang poko yaitu ilmu pengetahuan abstrak, ilmu pengetahuan alam dan ilmu pengetahuan humanis. Ilmu pengetahuan abstrak meliputi metafisika, logika, dan matematika. Ilmu pengetahuan alam meliputi Fisika, kimia, biologi, kedokteran, geografi, dan lain sebagainya. Ilmu pengetahuan humanis meliputi psikologi, sosiologi, antropologi, hukum dan lain sebagainya.

Kesimpulan

Berdasarkan uaraian di atas dapat dibuat kesimpulan sebagai berikut :
  1. Ada perbedaan prinsip antara ilmu dengan pengetahuan. Ilmu merupakan kumpulan dari berbagai pengetahuan, dan kumpulan pengetahuan dapat dikatakan ilmu setelah memenuhi syarat-syarat objek material dan objek formal
  2. Ilmu bersifat sistematis, objektif dan diperoleh dengan metode tertentu seperti observasi, eksperimen, dan klasifikasi. Analisisnya bersifat objektif dengan menyampingkan unsur pribadi, mengedepankan pemikiran logika, netral (tidak dipengaruhi oleh kedirian atau subjektif).
  3. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik, pengetahuan merupakan  informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu.  Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka
  4. Dalam penulisan karangan ilmiah atau penulisan lainnya harus dibedakan antara ilmu dengan pengetahuan, agar kekaburan makna dari kata tersebut tidak terjadi.
  5. Penggabungan kata ilmu dengan pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan berkonotasi ganda, sehingga dalam penulisannya cukup dipakai salah satu kata sesuai dengan maknanya.

Saran

  1. Dalam penulisan karangan ilmiah atau penulisan lainnya harus dibedakan antara ilmu dengan pengetahuan, agar kekaburan makna dari kata tersebut tidak terjadi.
  2. Penggabungan kata ilmu dengan pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan berkonotasi ganda, sehingga dalam penulisannya cukup dipakai salah satu kata sesuai dengan maknanya.

CERAMAH GURU SEKUMPUL [GURU IJAI MARTAPURA] TENTANG NUR MUHAMMAD