Total Tayangan Halaman

Kamis, 18 April 2019

ZAT – MA’RIFAT SIFAT – HAKIKAT ASMA – THARIKAT AF’AL – SYARIAT
Adapun ZATnya Adapun SIFATnya Adapun ASMAnya Adapun AF’ALnya 
Nyata kepada nyata kepada nyata kepada nyata kepada
MA’RIFAT. HAKIKAT. THARIKAT. SYARIAT.

--- Adapun SYARIAT nyata kepada kelakuan TUBUH INSAN.
--- Adapun THARIKAT nyata kepada kelakuan HATI INSAN.
--- Adapun HAKIKAT nyata kepada kelakuan NYAWA INSAN.
--- Adapun MA’RIFAAT nyata kepada kelakuan FUAD INSAN.
Inilah rupa yang 4 perkara ini, jangan tidak diketahui risalah tersebut dibawah ini.

ZAT SIFAT ASMA AF’AL
MA’RIFAT HAKIKAT THARIKAT SYARIAT
RAHASIA NYAWA HATI TUBUH 
MIM HA MIM DAL

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Adapun asal tubuh ( lembaga ) terdiri dari 4 ( empat ) nasar ialah :
1). TANAH 2). AIR 3). ANGIN 4). API
Kesemuanya ini daripada NUR MUHAMMAD ( Muhammad Al – qur’an ).
Adapun asal kejadian diri terdiri dari 3 perkara ialah : 
1. BAPAK      2. IBU 3.       TUHAN
- Urat besar     - Rambut     - Penglihat
- Urat kecil       - Kulit           - Pendengar
- Tulang           - Daging       - Pengrasa
- Otak              - Darah         - Pencium
                                              -Nyawa
Ketiga perkara ini jumlahnya 13 ( tigabelas ) dan ini terhimpun dalam rukun 13 ( tigabelas – Rukun Sembahyang ( Hadist).

KONSEP INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI

 KONSEP INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI
Oleh Drs. H. Aceng Kosasih, M. Ag
PENDAHULUAN
Tasawwuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan mistisme diluar agama Islam,
mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhann,
sehingga disadari be
nar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Sedangkan intisari dan
mistisme, termasuk didalamnya sufisme ialah kesadaran akan adanya komunikasi dengan
Tuhan dengan jalan mengasingkan diri dan berkotemplasi.
Keinginan untuk berada sedekat mungkin dengan T
uhan itu, dikalangan sufi biasa
disebut kehidupan menyuci. Dan dalam menjalani kehidupan menyuci itu, mereka (kaum
sufi) berusaha untuk memalingkan dirinya dari kehidupan duniawi disamping senantiasa
berkontemplasi, yakni dengan jalan mendekati sifat yang
mirip dengan yang Mutlak.
Untuk itu tidak sembarang orang yang dapat melakukannya. Menurut kaum sufi, tingkat
pertama manusia yang hidup dengan mendekati kemiripan dengan Tuhan adalah Nabi,
kemudian para sufi istimewa dari yang istimewa, dan para wali. Keb
erhasilan dalam
mencapai tingkat hidup yang sempurna demikian tidaklah diperoleh karena kapasitasnya
sebagai manusia. Kaum sufi mengetahui bahwa hal itu dimungkinkan
karena seseorang
melalui proses penyucian hatinya lalu mencapai tingkat suci dengan jiwa s
ucinya lalu
mampu mengadakan kontak dengan yang Mutlak. Itulah cara hidup yang mendekati
”Kemiripan dengan Tuhan.”
Dalam dunia sufi berbagai macam aliran yang memiliki jalan yang berbeda untuk
dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Salah satunya, yang
akan penyusun bahas
adalah jalan (gagasan) yang dikemukakan seorang tokoh sufi, Al-Jili dengan gagasannya
Insan Kamil
BIOGRAFI AL-JILI

Nama aslinya ialah Abdul Karim Ibnu Ibrahim, adalah seorang sufi terkenal dari
negeri Baghdad. Riwayat hidupny
a tidak banyak diketahui orang. Para penulis hanya
menyebutkan bahwa ia lahir di al-jili, sebuah negeri di kawasan Baghdad, pada tahun
1365 M (767 H) dan meninggal dunia di tempat yang sama pada tahun 1409 M (811 H).
Jenjang pendidikan yang dilaluinya pun
sulit ditelusuri. Ia hanya diketahui pernah
berguru pada Abdul Qadir al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadariah
disamping itu ia
juga sempat berguru pada Syekh Syarafud-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti, seorang tokoh tasawwuf terkenal darinegeri Zabit Yaman.
Dalam dunia tulis menulis termasuk ahli sufi yang cukup kreatif, karengannya
tentang tasawwuf tidak kurang dari 20 buah, yangpalingterkenaldiantaranya”alInsanalKamilfima’rifati al-Awakir wa a-Awali” dan ”al-KahfwaarRaqim fi Syarh
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”. Konon bukunya disebut pertama, al-Insan al-Kamil pernah menggemparkan ulama-ulama sunnah dan fiqih pada masa itu.Ajaran al-Jili secara garis besar meliputi pengertian zat Mutlak, masalah ruh,tentang nur Muhammad dan Insan Kamil. Namun demikian penyusun hanya akanmembahas tentang Insan Kamil saja.INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI
Menurut Khan Sahib Khaja Khan, kata ”insan” dipandang berasal dari turunan
beberapa kata. Misalnya ”uns” yang artinya cinta. Sedangkan yang l
ain memandangnya
berasal kata ”nas” yang artinya pelupa, karena manusia hidup di dunia dimulai dari
terlupa dan berakhir dengan terlupa. Yang lain lagi berkata asalnya adalah ”ain san”,
”seperti mata”. Manusia adalah mata, dengan nama Tuhan menurunkan sifa
t dan asma-Nya secara terbatas. Insan Kamil, karenanya merupakan cermin yang merupakan
pantulan dari sifat dan asma Tuhan”.
Dalam Insan Kamil, Tuhan bukanlah sebuah layar bagi makhluk-Nya, dan makhluk tidak akan tertabiridari Khalik. Ia menjadi seimbangdalam kedua arah. Ia
adalah seseorang yang vtelah melaksanakan suluk (perjalanan pencarian) menuju Tuhan
dan bersama Tuhan, dan mencapai titik Haqiqat-i-Muhammadi, yang____________ (Al-
Quran 53:9), sebuah titik yang berjarak dua busur atau bahkan lebih dekat lagi. Ia
menjadi poros disekeliling dimana seluruh eksistensi mengelilingi dan menyinari hati
makhluk-makhluk lainnya. Dalam kenyataannya, ini adalah pola tidak langsung atau
tiruan dari individualitasnya. Ini adalah apa yang disebut Ibn Arabi sebagai
kebijaksanaan
individualitas. Penciptaan mulai dari Muhammad saw, artinya melalui Haqiqat
Muhammad, kebijaksanaan eksistensi mewujud secara lengkap dalam individualitasnya.
”Aku sudah menjadi nabi”ujar Rasul ”ketika Adam masih antara air dan lempung”,artinya
Aku sudah menjadi nabi
ketika Adam masih belum dalam pengetahuan Tuhan,
dan belum mendapatkan bentuknya mendunia.
Gagasan Insan Kamil al-Jili sebenarnya melanjutkan gagasan yang telah
dikemukakan Ibn Arabi. Menurut Ibn Arabi, manusia sempurna adalah
alam seluruhnya.
Karena Allah ingin melihat substansi-Nya dalam alam seluruhnya, yang meliputi seluruh
hal yang ada, yaitu karena hal ini bersifat wujud serta kepadanya itu Dia mengemukakan
rahasia-Nya, maka kemunculan manusia sempurna (Insan Kamil) menur
ut Ibn Arabiadalah esensi kecermelangan cermin alam. Ibn Arabi membedakan manusia sempurna
menjadi dua. Pertama manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia baru.
Kedua, manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia abadi. Karena itu
manusiasempurna adalah manusia baru yang abadi, yang muncul, bertahan, dan abadi.
Bagi Ibn Arabi, tegaknya alam justru oleh manusia dan alam ini akan tetap
terpelihara selama manusia sempurna masih ada. Manusia sempurna atau Haqiqat
Muhammad adalah sumber seluru
h hukum, kenabian, semua wali, atau individu-individumanusia sempurna (yaitu para sufi yang wali).
Kemudian al-Jili mempertegas gagasan mengenai Insan Kamil. Menurutnya,
Insan Kamil adalah Muhammad, karena mempunyai sifat-sifat al-Haq (Tuhan) dan al-Khaliq (makhluk) sekaligus. Dan sesungguhnya Insan Kamil itu adalah Ruh Muhammad
yang diciptakan dalam diri nabi-nabi, wali-wali, serta orang-orang soleh. Insna Kamil
merupakan cermin Tuhan (copy Tuhan) yang diciptkan atas nama-Nya, sebagai refleksi gambaran nama-nama dan sifat0sifat-Nya. Insan Kamil memiliki dua dimensi yaitu
kanan dan kiri. Yang kanan merupakan aspek lahir, seperti melihat, mendengar,
berkehendak. Sedangkan dimensi kirinya bercorak batin dan mutlak, seperti azali, baqa,
awal, dan akhir.Menurut al-Jili, Insan Kamil adalah dia yang berhadapan dengan Pencipta dan
pada saat yang sama juga dengan makhluk. Insan Kamil atau manusia sempurna
merupakan quib atau axis, tempat segala sesuatu berkeliling dari mula hingga akhir. Oleh
karena itu segala sesuatu menjadi ada, maka dia adalah satu (wahid) untuk selamanya.
Iamemiliki berbagai bentuk dan ia muncul dalam kana’is atau rupa yang bermacam-macam
. Untuk menghormati hal yang demikian, maka namanya dipanggil secara berbeda
dan untuk menghormati selaindaripadanya, maka panggilan nama yang demikiantidak
dipergunakan pada mereka. Siapakah dia? Nama sebenarnya adalah Muhammad, nama
untuk kehormatannya adalah Abdul Qosim, dan gelarnya Syamsudin atau Sang Menteri
Agama.Suatu pengalaman pernah dikemukakanoleh al-Jili, yakni menurutnya: “sekali
waktu saya bertemu dengan dia dalam wujudnya persis seperti syekh saya, Syarifuddin
Ismail al-Jabarti, tetapi saya tidak mengetahui bahwa dia (syekh) itu sebenarnya nabi,
padahal saya mengetahui bahwa dia (nabi) adalah syekh.
Ini adalah satu penglihatan yang
saya dapati di Zabit pada tah
un 796 H. Makna yang hakiki yang terdapat dalam peristiwa
ini adalah bahwsa nabi memiliki kekuatan untuk menampilkan diri dalam setiap bentuk.
Demikian keadaan Muhammad. Tetapi manakala ia dalam bentuk lain dan diketahui
bahwa ia Muhammad, maka akan ia panggil dengan nama sebagaimana yang terdapat
dalam bentuk tersebut. Nama Muhammad tidaklah bisa diterapkan kepada sesuatu
kecuali kepada ”ide tentang Muhammad” (al-Haqiqatul Muhammadiyya).
Dengandemikian, ketika muncul dalam bentuk Syibli, maka Syibli berkata kepada kawannya:
”saksikanlah bahwa saya adalah utusan Tuhan”, dan orang tersebut sebagai orang yang
telah bersatu dengan roh Muhammad mengenali Muhammad. Dan ia berkata: ”Saya bersaksi bahwasannya Anda adalah utusan Tuhan.”
Dari keterangan di atas nampak bahwa Haqiqat Muhammad atau Nur Muhammad
itu qadim, sebab dia sebagian dari Ahadiyah. Sebagian dari suatu dan satu. Dia tetap ada,
Haqiqat Muhammad itulah yang memenuhi tubuh Adam
dan tubuh Muhammad. Dan
apabila Muhammad telah mati seluruh tubuh namun Nur Muhammad atau Haqiqat
Muhammad tetap ada sebab dia sebagian dari Tuhan. Jadi, Allah, Adam, Muhammad
adalah satu. Dan Insan Kamil-pun adalah Allah jugadan Adam pada hakikatnya. Jadi,menurut al Jili,sebagaimana dikutip oleh Harun Nasution, manusia sempurna )InsanKamil) itu merupakan copy (nuskha) Tuhan.Namun demikian menurut keyakinan al-Jili, manusia tidak akan pernah sampai
kepada mengidentifikasi bahwa dirinya adalah sepenuhnya Tuhan. Dalam terminologi
kauum sufi, berpindahnya Tuhan ke dalam manusia sehingga terjadi persatuan antara
hamba dan Tuhan disebut esensi. Al
-
Jili dan kaum sufi pada umumnya merumuskan
Tuhan senagai esensi dan segala sesuatu yang ada dalam jagat raya memiliki unsur esensi
ilahi, sehingga makhluk manusia sangat dimungkinkan melakukan persatuan atau
pertemuan esensi dirinya dengan esensi Tuhan.
BEBERAPA TAHAPAN MENUJU KE TINGKAT INSAN KAMIL
Dengan menerima gagasan Ibn Arabi tentang kesatuan wujud, al-Jili
mengemukakan bahwa penampakkan dari Tuhan itu melalui tiga tahap manifestasi
beruntun yangdisebutnya: ”Kesatuan” (Ahadiah), ”Ke-Diaan” (Hiwiyah), dan ”Ke-Akuan” (Aniyah).
Pada tahap Ahadiah, Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-’ama, kabutke
gelapan, tanpa nama dan sifat. Pada tahap Huwiyah, nama dan sifat Tuhan telah
muncul, tetapi Ia masih dalam bentuk potensi. Pada tahap Aniyah, Tuhan menampakkan
diri dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Sungguhpun manusia merupakan penampakkan dari Tuhan yang paling sempurnadiantara semua makhluk-Nya, namun penampakkan diri Tuhan tidak sama pada semua
manusia. Penampakkan diri Tuhan yang sempurna hanya terdapat dalam Insan Kamil.
Dan jalan untuk menuju ke tingkatan Insan Kamil, menurut al-
Jili adalahdengan
pengamalan Islam, Iman, Shalah, Ihsan, Syahadah, Shiddiqiyah, dan Qurbah. Melalui
beberapa tahapan, yaitu: Mubtadi, Mutawasit, dan Ma’rifat yang kemudian mencapai
maqam khatam (penghabisan).Pada tingkat Mubtadi, seseorang sufi disinari oleh nama
-nama Tuhan, pada sufiyang demikian Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya seperti Pengasih,Penyayang, dan seterusnya. Pada tingkat Mutawasit, seorang sufi disinari oleh sifat-sifat
Tuhan seperti: Hayat, Ilmu, Qudrat, dan lain-lain. Pada sufi yang demikian Tuhanmenampakkan diri dengan sifat-sifat-Nya oleh zat Tuhan. Pada sufi yang demikian Tuhan menampakkan diri dengan zat-
Nya.Pada tingkatan ini seorang sufi mencapai maqam khatam, sehingga mencapai atau menjadi
Insan Kamil.Ia menjadi manusia sempurna, mempunyai sifat ketuhanan dan dalam
dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Ia adalah bayangan Tuhan yang sempurna.
Itulah beberapa gagasan mengenai konsep Insan Kamil menurut al-Jili.Wallahualam bis shawaab.

Selasa, 21 Maret 2017

PARADOKS WAHDATUL WUJUD DAN LILIN IBNU 'ARABI ADALAH AF'AL ALLAH SEMATA


Paradoks Wahdatul Wujud Dan Lilin Ibnu ‘Arabi

“Saya Allah (Ana Al-Haq), siapa lagi saya ini, sebab tidak ada sesuatu kecuali saya” demikian pernyataan Syekh Lemah Abang yang lebih di kenal Syekh Siti Jenar dalam “sidang paripurna” dengan para Wali di Girigajah di Gunung Kadaton. Ajaran Syekh Siti Jenar ini dalam lidah Jawa dikenal dengan istilah manunggaling kaula gusti sementara dalam term Arab di sebut Wahdatul Wujud. Konon ia diinspirasi oleh Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi.

Ajaran ini dianggap berbahaya bagi keteguhan iman umat Islam di Jawa, wabil khusus mereka yang baru saja mendengar “Islam”. Tak pelak, sidang paripurna para Wali itu memutuskan bahwa Siti Jenar harus dipenggal lehernya konon menurut cerita. Hal senada juga pernah dialami oleh Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri di bumi Aceh, meski mereka gagal dieksekusi karena melarikan diri. Tapi setidaknya mereka hidup menggelandang lantaran ajarannya.

Kita yang awam ini tentu dilumuri oleh sekian pertanyaan, benarkah Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri kafir karena kalimatnya? Bukankah Tuhan berkata bahwa ia lebih dekat dari urat leher manusia? Siapa lagi yang lebih dekat dengan urat leher manusia selain diri? Atau mungkinkah ada persaingan tidak sehat, artinya para Wali khawatir kalah pamor dengan Syekh Siti Jenar???...........................

Baiklah pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud memberi novum terhadap hukuman mati Siti Jenar maupun ketiga tokoh yang lain, dan tidak pula hendak berkisah tentang sejarah Wali Songo dan sejarah Aceh. Kalaupun itu perlu, diruang dan waktu yang berbeda akan lebih sempurna. Pengutipan kisah hidup Syekh Siti Jenar dan beberapa tokoh diatas lebih kepada agar memori kita akrab dengan istilah "Wahdatul Wujud" yang menjadi pokok persoalan tulisan ini.

Yang nantinya akan dikembangkan dalam kacamata Ibnu ‘Arabi. Setidaknya kita telah melakukan pemanasan dan rangsangan-rangsangan kearah dunia sufi dengan harapan kita dapat “klimaks” sempurna bersama pelukan dan sentuhan lembut pemikiran-pemikiran Si Belerang Merah (sebutan Ibnu Arabi).      

Diskursus Wahdatul Wujud di masyarakat kita, bisa dibilang kontraversial. Satu sisi memandang sebagai ajaran kekafiran karena menempatkan hamba sebagai yang inheren dengan khaliq, sehingga tidak ada bedanya antara yang menciptakan dan yang diciptakan. (zahirurabbi bhatinu Abdi)

Disisi lain memandang bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang riil, dia adalah realitas dari segala yang ada, diluar dirinya adalah nihil. Dengan demikian, manusia dan semesta adalah inheren dengan Tuhan. 

Kedua pandangan ini sulit untuk di damaikan dalam satu frame yang sama tentang kesatuan wujud. 
Inilah yang membuat Wahdatul Wujud sebagai sebentuk konsep inti sufisme tidak dapat diterima secara mentah-mentah dan menyeluruh oleh kalangan umat Islam di segenap penjuru dunia ahli syariat. 

Klaim-klaim semacam ini tak jarang memicu konflik horizontal. Di tengah polemik inilah, Ibnu ‘Arabi sebagai pendekar pilih tanding meyalakan lilin untuk menerangi dan melerai kedua pandangan tadi yang tengah bertikai diruang gelap. Lalu ia, memberikan jalan berbeda dengan mengkombinasikan filsafat dan perjalanan spritualnya, sebagaimana yang dikatakannya sendiri, ia telah menorobos batas-batas atau tirai-tirai tertentu hingga mencapai unity of being dan bahkan telah intim dengan Tuhan.

Meski tidak ada teks-teks Ibnu Arabi yang secara tegas menyatakan bahwa ajarannya adalah Wahdatul Wujud. Tetapi teorinya digolongkan sebagai "Wahdatul Wujud", itu semata-mata karena konsep metafisika ketuhanannya tidak bisa dipisahkan dengan konsep kesatuan wujud dengan cirinya sendiri.Misalnya pernyataan bahwa “pada segala hal adalah tanda bahwa ia adalah Dia”. “ia” bisa kita maknai sebagai makhluk dan “Dia” bisa kita maknai sebagai Tuhan.

Lebih jauh ditegaskan oleh Muhammad Al- Fayyald dalam Teologi Negatif Ibnu Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan, KH. Muhammad Sholikhin dalam Filsafat dan Metafisikan Dalam Islam: Sebuah Penejelajahan Nalar, Pengalaman Mistik dan Perjalanan aliran Manunggaling Kawula-Gusti, maupun yang dikatakan oleh William C. Chittik dalam Pengetahuan Spritual Ibnu ‘Arabi (The Sufi Path of Knowledge).

Dengan berpijak pada Futuhat Al-Makkiyah,Tarjuman Al-Asywaq dan Fusus Al-Hikam, ketiga komentator diatas bersepakat bahwa Ibnu ‘Arabi tidak hanya sebagai imago monde dan dedengkot dariWahdatul Wujud tetapi ia berhasil memberikan narasi dan rasionalisasi yang different dari pendahulu-pendahulunya. Lantas bagaimana sebenarnya Ibnu ‘Arabi menyalakan lilinnya? Sebelum itu mari kita ber-fatihah untuknya semoga diterangi alam kuburnya, Al-fatihah!

Jangan lupa saudara untuk membaca artikel ini agar serius dan lebih jelas dan gamblang  minum dulu air kopi dan hisap sebatang rokok.

Fatwa Wujud Ibnu ‘Arabi
Mendebat Wahdatul Wujud memang cukup rentan terperosok kedalam jurang Panteisme dan Monisme. Yang mana dalam pandangan Panteisme segala sesuatu adalah Tuhan, manusia dan dunia adalah Tuhan. 

Tuhan menciptakan semesta dari creatio ex nihilo sehingga manusia dan semesta adalah bagian dari Tuhan, pendek kata manusia ini adalah Tuhan.Sementara Monisme mengembalikan kejamakan pada suatu kesatuan, dalam hal ini tepat jika disebut persatuan dalam arti menyatukan entitas makhluk dengan Tuhan. 

Pertanyaannya, mana mungkin manusia yang kotor ini dipadukan dengan zat Tuhan. Jadi jelas Panteisme dan Monisme kafir dalam Islam.Hehehe...........

Secara sangat sederhana nan awam, Wahdatu Wujudadalah kesatuan eksistensi antara hamba dan sang khaliq. Pengertian ini jelas tidak representatif untuk mengungkap makna Whdatul Wujud. Ada banyak versi pemahaman tentang itu. Semakin kita menelusuru lorong-lorong definisi Wahdatul Wujud maka sepanjang lorong itu pula kita akan mendapat definisi yang berbeda. 

Jalaluddin Rumi, misalnya, mengatakan bahwa Wahdatul Wujud adalah suatu proses dari alam semesta yang selalu berubah dan hilang serta serentak diperbaharui tanpa istirahat sedetikpun dan hakekatnya adalah Tuhan.

Bagi Capt. Wahid Bakhsh Rabbani, ia berangkat dari pernyataan Al-Qur’an “Dia Adalah yang awal dan yang akhir, yang lahir dan yang batin” maka Wahdatul Wujud adalah kesatuan wujud secara totalitas, eksistensi dari semua hal adalah satu hal. Sementara pertunjukan kebenaran tertinggi adalah secara totalitas, dia adalah totalitas dan totalitas ini meliputi lahir dan batin.

Menurut Abu Yazid al-Bustami bahwa manusia adalah pancaran Nur ilahi oleh karena itu manusia hilang kesadarannya sebagai manusia, maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan. 

Bagi Al-Jilli bahwa manusia adalah nukhsoh atau copy Tuhan. Tuhan memiliki sifat pandai, berkehendak, mendengar dan seterusnya dan manusia juga memiliki sifat ini. Ia menunjukkan bahwa pada diri manusia terdapat nama dan sifat ilahi. Pada titik ini hampir sama dengan Ibnu ‘Arabi.    

Sementara bagi Ibnu ‘Arabi sendiri yang mengaku telah mendapat fath (pencerahan) mengajarkan bahwa keberadaan makhluk sebagai wujud nisbi tergantung pada keberadaan Tuhan sebagai wujud mutlak, atau manusia tercipta dari wujud ilahiah. 

Manusia paling sempurna adalah perwujudan dari penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Meski demikian, eksistensi manusia bukan berarti identitas akhir manusia itu sama dengan tuhan, atau Tuhan sama dengan manusia. Masing-masing berbeda. 

Manusia ada kerena Tuhan, muncul karena terkondisi dengan status kekurangan yang sesuai dengan dirinya. Dalam artian Tuhan ingin melihat dirinya di luar dirinya. Laksana manusia bercermin untuk mengoreksi dirinya. 

Tuhan adalah identik dan berbeda dengan alam, Tuhan adalah imanen dan transenden. Dengan kata lain mahluk atau yang dijadikan (mumkinul wujud), wujudnya bergantung pada wujud Tuhan yang bersifat wajib (wajibul wujud).

Pendek kata, yang sebenarnya punya wujud hanya satu, yaitu Tuhan. Wujud dari selain Tuhan adalah wujud bayangan atau modifikasi. Dengan kata lain Tuhan yang transenden meng-imanenkan dirinya agar dapat dikenali oleh mahluknya. Sampai disini ‘Arabi menepis tuduhan bahwa ajarannya dianggap cendrung Monisme dan Panteisme.

Transendensi dan Imanensi Al-Haqq
Simplenya Wahdatul Wujud ‘Arabi berintikan pandangan bahwa al-wujud pertama-tama adalah tunggal, satu atau esa. Konsisten dengan argumen bahwa hanya Allah yang dapat disebut al-wujud secara hakiki, dalam artian tidak ada al-wujud yang dapat disebut al-wujud selain Allah itu sendiri, atau sebaliknya bahwa Allah adalah al-wujud. Sementara bahwa al-wujud itu esa berarti ia tidak terduakan, ia adalah singular pada dirinya, unik pada dirinya dan distinct pada dirinya. Ia tidak tergantikan pada dirinya. Pada titik ini Wahdatul Wujud ‘Arabi tidak bisa dipisahkan bahkan bisa dikatakan identik dengan ajaran tauhid itu sendiri, yaitu keimanan bahwa Allah adalah esa. Ini bisa ditelusuri pada:

“tidak ada dalam Al-wujud selain Dia. Maka renungkanlah seperti aku merenungkannya niscaya engkau akan mendapatkannya Dia sebagaimana Dia adanya” dan “ Ketauhilah bahwa tauhid berarti upaya diri manusia atau pencari Tuhan untuk mengetahui bahwa Allah yang menciptkannya adalah Tunggal/Satu/Esa, tidak ada sekutu bagiNya dalam hal ketuhanan-Nya”.

Ibnu ‘Arabi juga menegaskan bahwa al-wujud bukanlah realitas yang dapat diketahui, al-wujud secara hakiki yakni al-wujud sebagai Allah tidak pernah terjangkau oleh pengetahuan apapun. “Tuhan” yang kita bicarakan hanya semata konsepsi tentang Tuhan atau konsepsi tentang konsepsi tentang konsep Tuhan, bukan zat Tuhan. Tuhan secara esensi tidak akan pernah terjangkau, sebagaimana Mazhab Kepanjen. juga mengatakan bahwa yang kita bicarakan hanyalah sebatas eksistensi Tuhan. Sehingga meski sampai teler ketika berbicara al-wujud sebenarnya kita tak pernah mengerti dan memahami zat Tuhan.


Pengakuan Tuhan akan dirinya di dalam Al- qur’an, atau yang lebih dikenal dengan manifestasi, teofani, atau penampakan juga tidak akan membawa pemahaman atau pengetahuan manusia pada esensi Tuhan. Semua itu hanya jalan mengenal Tuhan. Dalam hal ini Ibnu ‘Arabi mengangkat satu kasus firman Allah :

Allah telah berfirman “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” maka dia melakukan tanzih. “dan dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” maka Dia melakukan tasbih. Dan allah berfirman “tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya” dia telah melakukan tasbih dan memuji dirinya. “Dan dia Mendengar lagi Maha Melihat”, maka Dia melakukan tanzih dan menyendirikan dirinya.

Kata-kata “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” merupakan tanzih (Transenden) penghilangan Allah dari segala bentuk penyerupaan atau keserupaan, menegasikan segala bentuk kemiripan, analogi, simbolisai atau representasi. Artinya mustahil mendekati Tuhan. Tetapi secara bersamaan bahwa Tuhan dapat diserupakan karena “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Ungkapan “mendengar” dan “melihat” hanya bisa dibanyangkan pada mahluk selain Allah sehingga pada Allah mengandaikan adanya keserupaan atau penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, ini kemudian disebut Tasybih (Imanen). Sampai disini Tuhan adalah Transenden dan Imanen bagi ‘Arabi. Atau istilahnya lahut dan nasut bahwa pada makhluk ada sifat Ketuhanan dan pada Tuhan ada sifat kemanusiaan.

Selanjutnya, Ibnu ‘Arabi menegaskan adanya tasybih justru pada pernyataan yang mencerminkan tanzih. Ternyata ia menegaskan kembali bahwa keserupaan hanya milik selain Allah, bahwa Allah tidak serupa dalam keserupaannya. Dan tanzih pada pernyataan yang tasybih bermakna bahwa Tuhan “mendengar” bukan dalam arti mendengar seperti yang dapat dipahami atau dibanyangkan, dan ia “melihat” bukan dalam arti melihat seperti yang dapat dipahami atau dibayangkan. Ia melihat dan mendengar dengan caranya sendiri. Pada titik ini disimpulkan bahwa ajaran Ibnu ‘Arabi adalah teologi via negatif.

Dari penjelasan ini Ibnu ‘Arabi kembali memberi enforcement bahwa hanya ada satu realitas ultimate dalam seluruh penciptaan, dimana al-haqq memanifestasikan dirinya dalam makhluk. Al-haqq  sebagai merupakan sumber segala realitas, yang tidak bisa dibagi-bagi, kekal dan tidak berubah-ubah. Berbagai objek di alam semesta ini adalah Tuhan, namun ia tidak identik dengan objek-objek itu. Tuhan menjadi beraneka ragam hanya melalui sifat-sifat atau modifikasi-Nya. 

Dipandang dari hubungannya dengan sifat-sifat-Nya yang mengejawantah dalam keberagaman entitas-entitas yang mungkin, maka manusia adalah ciptaan (al-khalq). Akan tetapi, kegandaan itu : satu dan banyak, yang pertama dan terakhir, yang abadi dan temporal, yang wajib dan mungkin pada hakikatnya adalah realitas yang satu dan sama.

Bagi ‘Arabi manusia memang unik karena fakta bahwa mereka diciptakan menurut citra Tuhan dan dapat mengaktualisasikan semua sifat Tuhan di dalam dirinya. Ini melibatkan transformasi serempak, baik eksistensi maupun pengetahuan: manusia sempurna mulai mengenal Tuhan sebagai Tuhan dalam Diri-Nya, dan pada saat yang sama memanifestasikan sifat-sifat Tuhan melalui bentuk eksistensi sifat-sifat itu dalam kosmos.

Modalitas-modalitas kesempurnaan manusia sangat beragam, tetapi tahap tertinggi kesempurnaan menuntut agar sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al- hadhrah al-ilahiyah).

Pada poin ini seseorang disebut muhaqqiq (orang yang membenarkan) atau “pemilik dua mata”. Satu mata, orang itu melihat keunikannya sendiri sebagai makhluk, dengan lain mata, ia melihat kesamaannya dengan Tuhan. Ia menyaksikan dirinya dekat dengan Tuhan dan sekaligus jauh dari-Nya, riil dan tak riil, ada dan tak ada, transenden dan imanen.

“Pernikahan” Teolog dan Filsuf
Secara langsung atau tidak, transendensi dan Imanensi wujud ‘Arabi mengurai benang kusut paramutakllimin dan filosof. Ia laksana penghulu yang mempertemukan dan mengawinkan pertentangan keduanya, meski sebenarnya upaya singkronisai ini telah dilakukan oleh Al-Khindi sebelumnya. Tetapi problem pemikiran spekulasi dan ilham sebagai sumber pengetahuan bagai bara api yang selalu memanas diantara kalangan Fuqaha  dan filsuf.

Bagi teolog tidak ada persoalan yang fundamental, penting dan mendasar selain persoalan zat Tuhan. Pertanyaan tentang zat merupakan inti, substansi dan titik awal dari mana teologi membangun asumsi-asumsinya. Sehingga para teolog ansich berkutat pada wilayah zat Tuhan dan mengabaikan proses dan hasil pemikiran.

Sebaliknya, para filsuf dengan kekuatan rasionalisasi beserta perangkat - perangkatnya menafikan pengetahuan-pengetahuan spiritual. Filsuf termangu dengan area kosmos yang dijadikan pijakan sekaligus objek pengetahuannya.

Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa  keduanya kurang tepat karena sama-sama mengabaikan aspek-aspek penting pengetahuan. Kaum mutakallimin hanya memotret sisi tanzih ketuhanan dan mengabaikan serta tidak mengerti tentang kosmos, sebaliknya filosof terlalu dangkal memaknai pengetahuan yang hanya diukur dengan rasio dan berputar diwilayah tasybih. 

Tetapi ‘Arabi menghargai usaha keduanya, hal ini ditunjukkan dari sejarah biografinya bahwa ia banyak mengunjungi para teolog seperti Abdul Aziz al-Mahdawi, Abu Abdillah al-Daqqaq, Ibn Hirzihmi. Sementara filsuf yang ia kunjungi adalah Ibnu Ruysd, bahkan ia terlibat dialog yang cukup mengesankan dengan beliau. 

Sebagaiman dikutip oleh Zuhry:
Kemudian ia (Ibnu Rusyd) melontarkan satu pertanyaan “solusi apa yang telah kamu ketahui dari hasil kasyf dan ilhammu? Apakah ia sejajar dengan hasil pemikiran spekulatif” aku jawab”, “ya dan tidak”. Di diantara ya dan tidak ini, tidak ada arwah akan terbang jauh diatas meteri dan leher-leher akan terpisah dari tubuh-tubuhnya.

Meski tidak ada penjelasan yang spesifik tentang konteks dari pembicaraan ini, tetapi ini menunjukkan posisinya dalam berhadapan dengan filsuf. Ia menjawaban “ya dan tidak”. Jawaban “ya” dapat diartikan bahwa Ibnu ‘Arabi mengakui dirinya memperoleh pengetahuan tentang masalah ilham langsung dari Tuhan dalam sebuah “pencerahan” dan fath. Namun segera ia menambahkan “tidak”, yang menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut sama sekali berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh Ibn Rusyd dalam pemikiran spekulatif.

Namun demikian, bagi ‘Arabi para filosof dan teolog telah menipu diri dengan mengira bahwa mereka dapat mengetahui esensi (zat) Tuhan hanya dengan memikirkannya. Kerena ketidak mampuan akal dalam memahami tanzih dan tasybih, mereka mencoba menakwilkan ayat - ayat al-qur’an yang berbicara tentang Tuhan dalam batas - batas makhluk. Jika mereka dapat melihat dengan mata penyingkapan, mereka akan mengakui bahwa Tuhan mengungkapkan sifat penyingkapan diri-Nya sendiri melalui ayat-ayat al-qur’an. 

Tirai Disingkap
Setelah Ibnu ‘Arabi menjelaskan bagaimana Tanzih dan tasybih Tuhan, dan keberhasilannya mengurai benang kusut antara teolog dan filsuf. Ia memberikan preskripsi bahwa manusia mencapai Tuhan hanya melalui tajalli (penyingkapan, teofani, penyerupaan) Tuhan pada diri manusia. Dengan kata lain wujud tidak hanya berarti “menjadi” atau “mengada”, melainkan juga “menemukan” dan “ditemukan”. Ketika diterapkan pada Tuhan, kata itu berarti bahwa Tuhan ada dan mustahil tidak ada, dan bahwa dia menemukan diriNya sendiri. Wujud bukan hanya menunjukkan eksistensi, melainkan juga pengetahuan, keinsafan, dan kesadaran.

Pemaknaan realitas tunggal sebagai kesadaran diri berarti ia menemukan dirinya sendiri dan dalam menemukan diri sendiri itu ia mengetahui kemungkinan-kemungkinan perluasan dan penyebarannya sendiri yang tak terhingga.

Engkau tidak akan mengetahui sesuatupun tentang Tuhan kecuali melalui apa yang Dia tunjukkan pada kita dan dia semayamkan di dalam dirimu baik melalui ilham maupun ketersingkapan dari pernyataan diri Tuhan.

Jika ditelusuri pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arofa rabbahu” bahwa barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Dengan mengenali diri seorang hamba akan mampu mengenal Tuhan sesuai dengan penyingkapan diri-Nya, namun tidak dapat mengenalnya dalam keesaan zat-Nya. 

Diri manusia tidak cukup untuk tahu esensi Tuhan. Hal ini sejatinya akan membawa pada bahwa ketika seorang hamba memuja Tuhannya, sesungguhnya dia sedang memuja dirinya sendiri. Dia memuja Tuhan sesuai dengan penyingkapan dirinya-Nya pada jiwa, itu terbatas dan terumuskan oleh jiwa. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hamba tidak dapat memuja sesuatupun selain Tuhan, karena apapun yang dipuja oleh seseorang adalah penyingkapan diri Tuhan pada diri. 

Untuk membuat pemahaman yang gamblang Ibnu ‘Arabi menyampaikan analogi yang pernah dikatakan oleh Junaid al-Bagdadi :Junaid mengatakan “Warna air sesuai dengan warna gelasnya”, maka demikian pula halnya dengan penyingkapan diri yang mengambil tempat di dalam locus pengejawantahan. Seorang Gnostik dapat  menangkap hal ini secara konstan. Dia senantiasa mengalami penyingkapan diri secara konstan pula: Seorang Gnostik tahu bahwa dia menyatakan diri dan mengapa menghendakinya. Namun, bagiamanapun juga, hanya yang nyata yang mengetahui Dia menyatakan-diri.

Perpijak dari analogi diatas, cara pandang masing-masing orang menjadi penting  bahkan sebuah kemutlakan, karena tentu masing-masing orang punya gelas yang berbebeda untuk mengambil air pada kolam yang sama. Jadi, tidak ada dua orang yang memiliki argumen yang sama tentang Tuhan, karena satu keadaan mustahil di jumpai dalam diri dua orang. 

Inilah Tuhan yang mengejawantahkan diri-Nya pada jiwa. Pengejawantahan diri itu berbeda dari apa yang dialami oleh jiwa lain. Tuhan yang saya kenal melalui pengenalan diri saya adalah Tuhan dalam keimanan saya sendiri. Jadi jelas bahwa akar dari eksistensi pengetahuan tentang Tuhan adalah pengetahuan tentang diri, diri adalah lautan tak bertepi sehingga pengetahuan tentangnya tidak memiliki akhir. Dengan kata lain tidak ada pengetahuan akhir tentang Tuhan. Tetapi lagi-lagi pengetahuan diberikan melalui penyingkapan ilahi.

Ibnu ‘Arabi “Pontang-Panting”
Penyingkapan Tuhan bukanlah barang “murahan” yang berserakan dimana-mana. Untuk mendapat pencerahan dari Tuhan harus melalui pertobatan (tawbah) yang sungguh-sungguh. Ibnu ‘Arabi memulai langkah ini sejak usianya masih belia, 20 tahun. Ia mengawalinya dengan kesadaran, bahwa selama ini ia terlalu terlena oleh dunia. Ia melakukan penyesalan terdalamnya dan benar-benar ingin berubah.

Dan tak lama, Ibnu ‘Arabi mendapat pencerahan (fath). Fath berarti “pembukaan”, “keterbukaan” atau “ketersingkapan”. Ketersingkapan ini menunjukkan adanya suatu rahasia yang datang dari sesuatu yang lain diluar diri seseorang. Dalam kasus ‘Arabi, fath datang dari Tuhan, ia pun semakin mantap untuk menempuh jalan tasawuf.   

Menurut pengakuannya selama memperoleh fath, pada saat yang bersamaan ia juga mengalami jadzbah atau ekstase. Dalam kondisi jadzbah, ia sering kehilangan kesadaran dan akal sehatnya karena kekuatan Tuhan yang datang tiba-tiba dan tidak terduga. Jadzbah biasanya dialami seorang sufi yang telah mencapai maqam yang tinggi dalam tasawuf. Namun Ibnu ‘Arabi telah mengalami itu lebih dini.  

Dalam upayanya mengenal Tuhan berkali-kali dihantui kegagalan. Perkenalannya dengan Tuhan ia alami begitu sendiri tanpa kehadiran siapapun. Ia bahkan tidak memiliki seorang guru yang membimbingnya. Satu-satunya guru yang memperkenalkannya kepada Tuhan adalah Nabi ‘Isa yang ditemui dalam mimpi, dan bukan secara fisik sebagaimana umumnya para sufi. Untuk mengenal Tuhan ia tidak punya apa-apa, selain kesungguhan dan usaha keras dalam beribadah.

Ibnu’ Arabi kemudian memutuskan untuk meninggalkan seluruh kekayaan dan memilih menjadi orang miskin yang tidak memiliki apa-apa selain pengabdiannya kepada Allah. Pada saat itulah ia mulai mencicipi manisnya pengabdian murni kepada Allah tanpa terikat dengan apapun di dunia. Ia telah melakukan pengabdian tertinggi yaitu penyerahan absolute pada Tuhan tanpa embel-embel kepemilikan apapun. 

Dalam beberapa karyanya, ia mengaku telah melakukan pelepasan total dari segala atribut yang dimiliki seorang hamba dan satu-satunya yang dia miliki adalah status ontologisnya sebagai “hamba” dan bukan yang lain. Bahkan ia sedikit “congkak” dengan mengaku bahwa tak ada satupun sufi yang telah mengalami pencapaian sebagai mana yang ia lakukan.

Ia juga mengkui bahwa dalam menjalani itu semua kerap dihadang cobaan. Cobaan paling berat adalah setelah megalami fatrah yaitu merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Fatrah adalah masa-masa diskontinuitas seorang sufi dengan Tuhan. Momen ini adalah momen paling genting dan menyakitkan bagi seorang sufi karena Tuhan yang ia cintai telah meninggalakan dirinya. Tetapi setelah mengalami masa fatrah perjalanan tasawuf Ibnu ‘Arabi semakin mudah. Beberapa kali ia mendapatkan anugrah. Misalnya, pada 586, di Kordoba, ia bermimpi bertemu dengan para nabi dan rasul.

Pengalaman-pengalamn semacam itu, membuat Ibnu ‘Arabi yakin bahwa Tuhan tidak bisa dikonsepsikan dengan pikiran, ia menyadari betapa terbatasnya wacana manusia yang berbicara tentang Tuhan. Dari sinilah ia kemudian mengkritik para teolog dan filsuf dan memberikan pandangan ketuhannya sendiri.

Kesimpulan
Jelas, bahwa lilin Ibnu ‘Arabi dalam dunia tidak padam dan bahkan tidak akan pernah padam, dan selalu menyinari ruang abu-abu antara hamba yang tasybih dengan Tuhan yang Tanzih. Klasifikasi itu semata untuk memudahkan kita dalam memahami bahwa ada realitas ultim yang mendasari dari segala yang ada di semesta ini. Karena yang ultimi begitu sempurna dan suci, maka pikiran manusia tidak akan pernah sampai padanya. Tak ada satu definisi yang mampu menjelaskan zatnya (Laysa Khamislihi Syaiun). Dengan kata lain hanya apabila Tuhan menyingkapkan diriNya manusia mampu mencapainya. 

Sebagai hamba mereka tidak akan menyengutukkan Allah dengan yang lain. Yang Wujud Hanya Allah. Akan tetap mengenali Asal Usul Dirinya dan mengembalikan Hak Allah yang diberikan kepadanya yaitu jasad & ruh dengan sempurna ( tidak akan memisahkan ruh & jasad atau SeZat-kan dirinya ).
Akan menjadi CERMIN BERKILAP bagi Allah dan menjaga RAHASIA dan AMANAH ALLAH serta mengembalikan rahasia dan amanah itu kepada Allah bila tiba masanya.
Menjalankan SYIAR ALLAH
Allah pula berjanji :
Ruh akan diberi Jasad sesifat dirinya ( ruh). Urusan kehidupan ruh didunia adalah semata-mata urusan Allah dan perbuatan manusia adalah Af’al Allah semata-mata.