Total Tayangan Halaman

Kamis, 18 April 2019

“Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.”

Prof Dr Nasaruddin Umar

“Seandainya bukan karena setan menyelimuti jiwa anak cucu Adam, niscaya mereka menyaksikan malaikat di langit.” (HR Ahmad).

(*Dalam redaksi yang lain “Seandainya setan-setan itu tidak mengelilingi qolbu anak Adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam malakut langit).

Suatu ketika, Nabi Muhammad SAW bersama Abu Bakar melewati sebuah pemakaman. Tiba-tiba, Nabi tersentak dan berhenti di salah satu makam. Abu Bakar bertanya, mengapa mereka berdua harus berhenti di makam itu. “Apakah engkau tak mendengar mayat ini merintih kesakitan disiksa lantaran tak bersih saat ia buang air?” tanya Rosul.

Abu Bakar (*kemungkinan) sama sekali tidak mendengar suara itu. Lalu, Nabi mengambil setangkai pohon dan ditancapkannya di atas makam serta menjelaskan sepanjang tangkai itu masih segar, selama itu pula siksaan orang di bawah makam tersebut diringankan.

Dalam kesempatan lain, Ibnu Katsir dan beberapa kitab tafsir lainnya menceritakan seorang pemuda pedalaman (a’robi) berjalan kaki selama tiga hari tiga malam untuk menjumpai Nabi sebab ia merasa telah melakukan dosa besar :

Pada Senin, ia meninggalkan desanya dan baru sampai di rumah Rosululloh pada Rabu. Saat ia sampai di rumah Nabi yang terhubung dengan masjid, pemuda itu menjumpai kenyataan bahwa banyak orang sedang bersedih. Ia heran dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Salah seorang sahabat menjelaskan, Nabi baru saja dimakamkan setelah ia wafat hari Senin, tiga hari lalu. Mendengar berita itu, si pemuda menangis histeris dan tidak ada yang berhasil menghentikannya. Si pemuda menjelaskan kalau ia baru saja melakukan dosa besar kemudian datang berjalan kaki dari jauh untuk menemui Rosululloh karena terdorong oleh satu ayat yang memberinya harapan.

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rosul, melainkan untuk ditaati dengan izin Alloh. Dan sungguh, sekiranya mereka telah menzholimi dirinya sendiri datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampun kepada Alloh dan Rosul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapat Alloh Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS an-Nisa/4:60).

Si pemuda berharap Rosululloh mau memintakan maaf kepada Alloh atas dosa besarnya sebagaimana isyarat ayat ini. Namun, Rosululloh sudah wafat, inilah yang membuat pemuda tersebut terus meratap. Menjelang subuh, penjaga makam Rosululloh didatangi Rosululloh dan mengatakan: “Fabasysyirhu annalloha qod ghofaro lahu (gembirakanlah pemuda itu karena Alloh sudah mengampuninya).” Setelah mendengar penjelasan itu, si pemuda langsung berhenti menangis. Ia yakin apa yang disampaikan penjaga makam benar-benar pernyataan Rosululloh. Sebab, ia bersandar pada hadits shohih, “Barang siapa bermimpi melihat aku, akulah yang sesungguhnya dilihat. Satu-satunya wajah yang tak bisa dipalsu iblis hanya wajahku.”

Pertanyaan yang mengemuka di sini adalah bagaimana Rosululloh bisa mendengarkan ratap tangis di sebuah makam, sedangkan orang lain tidak bisa mendengarnya?

Bagaimana pula Nabi bisa memahami kalau ada pemuda meratapi dosa besar di dekat makamnya dan menjamin kalau dosa pemuda itu diampuni Alloh SWT ?

Kekuatan apa yang dimiliki Nabi sehingga bisa mendengarkan dan memahami sesuatu yang menurut orang lain itu wilayah alam ghoib?

Apakah hanya Nabi yang dapat mengakses alam ghoib?

Dalam ilmu tasawuf, fenomena-fenomena yang dialami Nabi dapat dijelaskan.

Ketika seseorang mampu membuka tabir yang menghijab dirinya, dia bisa menembus masuk ke dalam suatu alam yang disebut dengan alam mitsal (istilah Ibnu ‘Arobi) atau alam khayal (istilah Al-Ghozali), yang diterjemahkan oleh William C Chittick dengan The Imaginal Worlds.

Alam mitsal biasa juga disebut dengan alam antara (barzakh) karena berada di antara alam syahadah mutlak dan alam ghoib.Ini menunjukkan bahwa alam barzakh bukan hanya alamnya orang yang sudah wafat, melainkan juga dapat diakses orang-orang yang masih hidup, tetapi diberi kekhususan oleh Alloh.

Dengan kata lain, tidak mesti harus menunggu kematian untuk mengakses alam barzakh.

Alam mitsal adalah alam spiritual murni, tetapi masih bisa bertransformasi ke alam syahadah.

Orang-orang yang diberi kemampuan memasuki alam ini memiliki kekhususan untuk mengaktifkan indra-indra spiritualnya sehingga mereka mampu berkomunikasi secara spiritual dengan alam-alam lain, termasuk dunia lain. Mereka bisa berkomunikasi interaktif dengan arwah yang meninggal jauh sebelumnya. Mereka pun dapat berkomunikasi dengan malaikat dan jin, termasuk dengan benda-benda alam, tumbuh-tumbuhan, dan hewan.

Ingat, tidak ada ‘benda mati’ dalam kamus Tuhan. Semua bisa bertasbih, “Tetapi, kita yang tidak mampu memahami tasbih mereka (wa lakin la ta’lamuna tasbihahum),” demikian penegasan Alloh.

Pengalaman ini banyak ditunjukkan di dalam Alquran dan hadits seperti peristiwa

Nabi Khidir yang diberi ilmu ladunni (min ladunni ‘ilman) dalam Suroh al-Kahfi. Dengan ilmunya itu, ia memahami masa depan anak kecil yang dibunuhnya. Nabi Sulaiman bisa berkomunikasi dengan malaikat, jin, burung-burung, ikan, dan angin.

Nabi Muhammad dalam beberapa hadits dijelaskan berdialog dengan binatang (unta dan kijang), berdialog dengan mimbar tua, dan berkomunikasi dengan nabi-nabi yang hidup jauh (*di masa) sebelumnya. Nabi secara intensif berkomunikasi dengan Jibril dan malaikat-malaikat lainnya.

Dalam literatur tasawuf, ternyata bukan hanya para nabi yang dapat mengakses alam barzakh dengan alam mitsalnya. Para wali (auliya’) dan orang-orang pilihan Tuhan pun melakukannya. Kitab Jami’ Karomatal-Auliya’ karya Syekh Yusuf bin Isma’il al-Nabhani (2 jilid) mengungkap sekitar 695 nama berkemampuan mengakses alam mitsal.

Hal itu ditandai dengan kemampuan mereka melakukan sesuatu yang bisa disebut dengan ‘perbuatan luar biasa’ (khoriq lil-’adah) atau karomah. Ternyata, banyak sekali di antara mereka yang dapat berkomunikasi aktif dengan Rosululloh, antara lain, Imam Al-Ghozali dan Ibnu ‘Arobi.

Jika Alloh menghendaki, Dia memberi kemampuan kepada kekasih-Nya mengakses alam terjauh sekalipun, seperti dijelaskan dalam firman-Nya, “(Dialah) yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memilki ‘Arasy, yang menurunkan wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya agar memperingatkan (manusia) tentang hari pertemuan (hari kiamat).” (Q.S. al-Mu’min/40:15).

Alam mitsal merupakan dambaan para pencari Tuhan (salik/murid). Namun, di sini perlu ditegaskan, jangan ada yang menjadikan alam mitsal sebagai tujuan. Mujahadah dan riyadhoh semata-mata dilakukan untuk memohon ridho Alloh, bukan untuk mencapai karomah atau untuk mengakses alam mitsal.

sumber : Republika

Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm)

Pengetahuan yang diperoleh melalui olah nalar disebut dengan ilmu ('ilm) dan pengetahuan yang diperoleh melalui olah batin disebut makrifat (ma'rifah). Secara kebahasaan, kata 'ilm berasal dari akar kata alima-ya'lamu, berarti mengetahui. Seakar kata dengan 'alam, berarti tanda, petunjuk, bendera.'Alamah berarti alamat atau suatu tanda yang melalui dirinya dapat diketahui sesuatu yang lain (ma bihi ya'lamu al-syai). Dalam pembahasan tentang alam dijelaskan segala sesuatu selain Allah (ma siwa Allah) adalah alam. Alam adalah tanda menunjuk kepada (adanya) Allah SWT. Alam juga sekaligus memberikan kesadaran dan pengetahuan tentang Allah SWT. Dari segi kebahasaan dapat ditangkap makna 'ilm dan 'alam memiliki konotasi fisik dan mekanik (hushuli).

Sedangkan, makrifah berasal dari kata 'arafa-yurif, memiliki berbagai makna yang lahir dari padanya, antara lain, mengetahui dan mengenal lebih dalam (i'rfah), pengakuan dosa (i'tiraf), wukuf di Arafah ('arrafah al-hujjaj), Padang Arafah ('arafat), tempat antara surga dan neraka (a'raf), bersetubuh ('arafah al-ma'ah), saling mengenal satu sama lain (ta'aruf), warisan tradisi lama yang positif ('urf), terkenal, masyhur (ma'ruf), ilmu pengetahuan luas (ma'arif), dan pengetahuan yang mendalam dan komprehensif ('irfan/ma'rifah). Dari segi kebahasaan dapat dipahami makna makrifat memiliki konotasi lebih tinggi dan agung (hudhuri).

Dengan perbedaan tersebut, dengan sendirinya antara ilmu dan makrifat memiliki ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang berbeda satu sama lain. Perbedaan ini bisa dipahami melalui perbedaan antara ilmu-ilmu hushuli dan ilmu-ilmu hudhuri (lebih lanjut mengenai hal ini lihat artikel terdahulu: "Antara Ilmu Hudhuri dan Ilmu Hushuli").

Secara ontologi, ilmu ('ilm) masih lebih banyak berkutat pada wilayah logika manusia. Referensi yang digunakan untuk memahami ilmu juga masih bersifat fisik dan visual, meskipun dalam tingkatannya yang lebih tinggi, khususnya dalam level filsafat makna, sudah ada yang mulai bertumpang tindih dengan level awal ontologi makrifat. Ontologi makrifat, sebagaimana arti dasarnya, lebih mengacu pada wilayah-wilayah yang dapat dikatakan asing bagi para ahli ilmu pengetahuan (saintis).

Meskipun demikian, sesungguhnya para saintis tidak bisa serta-merta menafikan keberadaan ontologi keilmuan makrifat karena secara de facto banyak peristiwa yang diungkap oleh pengetahuan makrifat sulit dibantah oleh para saintis. Sebutlah contoh tentang efek keberadaan Tuhan yang dulu dinafikan oleh para saintis positivisme, tetapi di dalam era posmodernisme mulai diberi ruang. Terakhir para saintis dalam era new age tidak bisa menyembunyikan adanya Godspot di dalam diri manusia. Kini para ilmuwan modern, sesekuler apa pun mereka, tidak dapat lagi terus-menerus 'menyerang' kaum agamawan (baca: agnostik) karena mereka sendiri meragukan dirinya sendiri.

Bahkan, di negara-negara maju sekarang sudah mulai demam kajian spiritual. Kabbalah (mistisisme Yahudi) yang dulu diharamkan oleh para Rabbi karena dianggap bid'ah kini laksana cendawan tumbuh di mana-mana. Di New York, tepatnya The Manhattan Center, yang terletak di 155 E/84 St, di jantung Kota New York berdiri tegak Kabbalah Center. Jauh sebelumnya, Karen Berg pernah mendirikan The National Research Institute of Kabbalah di Los Angeles, yang sampai sekarang ramai dikunjungi artis Hollywood dan ilmuwan Yahudi di sana. Di Eropa dan Amerika Latin juga demikian halnya. Lembaga-lembaga meditasi bahkan sudah dibuka di sejumlah universitas terkemuka. Buku-buku new age pernah mendominasi sejumlah toko buku di Amerika dan Eropa. Pusat-pusat sufistik akhir-akhir ini mungkin lebih ramai di Barat daripada di Timur. The Beshara School, sebuah lembaga spiritual yang bertaraf internasional, sudah mulai go public dan merambah hampir di seluruh negara. Begitu pun Ibnu 'Arabi Society, para anggotanya semakin besar, sebagaimana dapat dilihat di webnya. Pengikut Kabbani dan Bawa Muhaiyaddeen di AS juga semakin ramai dikunjungi pengikut. Di antara mereka bukan orang awam, tetapi sangat terdidik dan pejabat.

Meningkatnya gerakan sufisme di berbagai tempat menandakan adanya ketidakpuasan manusia terhadap capaian ilmu pengetahuan selama ini. Paling tidak kehausan intelektualitas manusia ternyata tidak mampu dipuaskan oleh ilmu pengetahuan ('ilm). Manusia menginginkan lebih dari sekadar ilmu yang hanya mampu memberikan kepuasan logika. Kepuasan sejati hanya dapat dirasakan manakala menyentuh aspek hakiki dari manusia yang namanya kepuasan batin. Justru kepuasan batin inilah yang kemudian mendatangkan kesadaran kemanusiaan yang lebih tinggi.

Untuk bisa sampai pada tingkat kepuasan batin ini dibutuhkan pengetahuan tingkat tinggi yang biasa disebut dengan makrifat, yang sesekali disebut irfan atau dalam istilah tasawuf biasa disebut dengan mukasyafah. Mukasyafah berarti penyingkapan tabir-tabir (hijab) yang selama ini menghijab manusia untuk mengakses sebuah dunia yang agung, di mana manusia bisa meraih kepuasan yang luar biasa.

Epistemologi makrifat lebih dari sekadar menempuh epistemologi keilmuan biasa. Persyaratan yang harus ada di dalam menggapai tingkat makrifat Al-Qusyairi ialah penyucian diri dari berbagai dosa dan maksiat, bersih dari urusan dan ketergantungan dunia, terus-menerus bermunajat di hadapan Allah dengan cara sirri, selalu memelihara kelembutan jiwa dan budi pekerti, serta penuh pengendalian dan mawas diri. Bagi orang yang mencapai tingkat mukasyafah (penyingkapan), ia akan berada pada tingkat musyahadah (penyaksian kepada zat Yang Mahamulia). Dalam keadaan seperti ini, manusia bisa memperoleh kepuasan intelektual hakiki yang tak terlukiskan.

Rawaim Ibnu Ahmad pernah menggambarkan orang yang mencapai tingkat makrifat bagaikan seorang menyaksikan cermin. Jika ia melihat cermin itu, akan tampak jelas Tuhannya. Zunnun al-Mishri melukiskan orang-orang yang bergaul dengan penerima makrifah seperti orang-orang yang bergaul dengan Allah SWT. Menurut al-Hallaj, "Jika seorang hamba telah sampai kepada makrifatullah, Allah akan membisikkan kepadanya dengan melalui hatinya dan menjaga hatinya dari kata hati yang tidak benar." Abu Yazid al-Busthami pernah ditanya perihal orang yang mencapai makrifat, ia menjawab, "Orang arif adalah penerbang dan orang zuhud itu pejalan kaki." Selanjutnya, ia menambahkan, "Ketika ia tidur ia tidak melihat selain Allah, ketika ia terjaga ia tidak melihat selain Allah, ia tidak beribadah selain kepada Allah."

Untuk urusan lebih teknik untuk memperoleh makrifat, Ahmad Ibnu Atho' berkomentar: "Makrifat itu memiliki tiga rukun, yaitu takut kepada Allah, malu kepada Allah, dan senang kepada Allah." Jadi, memang tidak gampang mencari dan menemukan makrifat. Hampir seluruh ulama sepakat bahwa cara untuk meraih sukses mencapai makrifat ialah kebersihan batin. Untuk itu, penyucian jiwa (tadzkiyah al-nafs) dan keindahan batin (tanwir al-qulub) serta niat yang tulus merupakan persyaratan mutlak yang harus diwujudkan di dalam diri murid.

Pada dasarnya, manusia itu memiliki kemampuan dan kecerdasan, bahkan makrifat. Hanya, mereka terkontaminasi oleh lingkungan sosial sehingga mereka perlu berzikir (mengingat kembali). Ayat yang sering dilibatkan kelompok ini, antara lain, fas'alu ahl al-dzikr inkuntum la ta'lamun. (Bertanyalah kalian kepada ahli zikir jika kalian tidak tahu); Afala tatadzakkarun (Mengapa kalian tidak mengingat kembali?), dan Aqim al-shala li dzikri (Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku). Kelompok ini mengedepankan penyucian diri dalam bentuk tazkirah, tashawwuf, tashwir, dan tazkiah untuk menjernihkan kembali pengetahuan inti yang pernah dibekalinya sejak lahir.

Menuntut ilmu-ilmu makrifat juga diperlukan kesantunan kepada guru (mursyid), sebagaimana dapat dilihat di lembaga-lembaga spiritual, termasuk dalam tradisi pondok pesantren. Ketawadhuan seorang murid dan kesantunan seorang guru atau kiai adalah adanya tradisi keluhuran dalam proses pencarian ilmu pengetahuan. Ini sejalan dengan ayat: "Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui." (QS al-Baqarah [2]: 151)

Prof Dr Nasaruddin Umar
Republika

Ulama Pelestari Kearifan Lontara Bugis

Tokoh 
ANREGURUTTA DAUD ISMAIL (1907-2006)
Ulama Pelestari Kearifan Lontara Bugis
Suku Bugis yang berdiam di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Tengah, namun demikian suku ini juga menyebar ke berbagai daerah di Nusantara. Dalam tradisi masyarakat Bugis, gelar Anregurutta dapat diibaratkan sebagai professor di dunia kademik. . Jika orang luar Sulawesi Selatan mendengar seseorang warga yang menyebutkan Anregurutta kepada seorang tokoh, tentu sang tokoh  tersebut termasuk kategori ulama yang disegani. Anregurutta menempati status sosialnya yang tinggi dan kedudukan terhormat di mata masyarakat Bugis.

Pemberian gelar Anregurutta bukanlah pemberian gelar akedemik, melainkan pengakuan yang timbul dari masyarakat, atas ketinggian ilmu, pengabdian dan jasanya dalam dakwah keislaman. Tidak semua yang mengajar agama dipanggil sebagai Anregurutta, tergantung dari tingkat keilmuannya. Selain itu, masyarakat Bugis juga meyakini adanya kelebihan Anregurutta berupa karomah, dalam bahasa Bugis disebut makarama.

Para muballigh misalnya, ada juga yang tetap dipanggil Ustadz, yaitu orang yang membawakan khutbah dan ceramah di masyarakat. Namun belum bisa dijadikan sebagai suatu rujukan bertanya berbagai hal keagamaan. Sementara posisi tingkat Anregurutta ini dijadikan sebagai tempat bertanya berbagai persoalan dan kehidupan secara umum. Ustadz dikenal hanya dalam kelompok kecil, misalnya kelompok pengajian dan ceramah-ceramah umum.

Salah satu di antara para pejuang dakwah islamiyah di tanah Bugis yang digelarai Anregurutta ini adalah Anregurutta Haji (AGH) Daud Ismail. Sosok ulama besar Sulawesi Selatan yang memiliki peran penting terhadap pengembangan syiar Islam di Sulawesi Selatan. Beliau adalah salah seorang arsitek berdirinya Datud Da’wa wal Irsyad (DDI) bersama almarhum AGH Abdurrahman Ambo Dalle dan AGH Muhammad Abduh Pabbajah serta ulama-ulama sunni Sulawesi Selatan lainnya. Gurutta Daud Ismail juga dikenal sebagai ulama ahli tafsir bahkan ia berhasil membuat tafsir (terjemahan) Al-Qur’an sebanyak 30 juz dalam bahasa Bugis.

Pendidikan Otodidak
Beliau Lahir di Cenrana Kecamatan Lalabata Kabupaten Soppeng tahun 1907 M., buah perkawinan dari pasangan H. Ismail dan Hj. Pompola. Daud Ismail mengawali pendidikannya dari kolong rumah. Di sana Gurutta mulai belajar mengaji Al-Qur’an pada orang tua kandungnya. Kemudian melanjutkan pendidikan ke pesantren-pesantren di Sengkang. Dari sinilah Daud Ismail memiliki banyak guru dari kalangan ulama Sengkang.

Daud Ismail adalah seorang yang otodidak, sejak kecil belajar sendiri untuk mengenal aksara Lontara dan Latin. Kendati demikian, beliau juga pernah menimba ilmu pada banyak guru, baik di Soppeng (Kabupaten Soppeng) maupun di Soppeng Riaja (Kabupaten Barru), Sulawesi Selatan.

Antara tahun 1925 – 1929 Daud Ismail juga belajar kitab qawaid di Lapasu Soppeng Riaja, sekitar 10 KM dari Mangkoso, 40 KM dari Kota Pare Pare. Di sana Daud Ismail belajar pada seorang ulama yang bernama Haji Daeng. Pada masa itu pula Daud Ismail belajar kepada Qadhi Soppeng Riaja, H, Kittab.

Setelah Anregurutta H. Muhammad As’ad kembali dari Tanah Suci dan mendirikan Pesantren Bugis di Sengkang pada tahun 1927 yang bernama Al-Madrasatul Arabiyah Al-Islamiyah (MAI), maka pada tahun 1930 Daud Ismail kembali ke Sengkang untuk belajar kepada Anregurutta H.M. As’ad dan termasuk santri angkatan II, setelah Anregurutta H. Abdurrahman Ambo Dalle.

MAI ini merupakan salah satu lembaga pendidikan tertua yang dikenal masyarakat di Sulawesi Selatan. MAI Sengkang Wajo didirikan pada bulan Zulkaidah 1348 H. atau bertepatan bulan Mei 1930 M. oleh Anregurutta As’ad yang baru saja kembali dari Mekkah pada tahun 1928 setelah menyelesaikan masa belajarnya pada Madrasah Al-Falah Mekah. Pada awal-awal berdirinya, MAI Sengkang Wajo hanya merupakan pengajian pesantren yang pelaksanaannya mengambil tempat di rumah kediaman Anregurutta As’ad sendiri. Setelah santrinya bertambah banyak tempat pelaksanaan pengajiannya dipindahkan ke Masjid Jami’ Sengkang.

Selama belajar di Sengkang Daud Ismail merasakan banyak sekali kemajuan khususnya dalam menguasai kunci ilmu-ilmu agama. Misalnya, Ilmu Qawaid, Ilmu Arudh, Ilmu Ushul Fiqhi, Ilmu Mantiq dan lain-lainnya. Hal itu cukup dirasakan oleh Daud Ismail karena metode mengajar yang diterapkan oleh Gurutta H.M. As’ad terbilang sudah lebih maju dari metode yang didapatkan sebelumnya. Sehingga menurut pengakuan Daud Ismail, santri-santrinya cepat menguasai apa yang diajarkan.

Salah satu kesan mendalam Daud Ismail kepada Anregurutta As`ad, ketika gurunya ini mengajarkan ilmu Arudh yang diajarkan setelah Shalat Isya, hingga larut malam. Bahkan terkadang sampai sekitar jam satu malam. Anehnya, Gurutta Daud Ismail hanya diajarkan ilmu Arudh ini selama satu malam saja. Keesokan harinya beliau langsung diberi kitab untuk dipelajari sendiri.

Inilah salah satu kelebihan dan keunikan Anregurutta As`ad dalam mendidik santri-santrinya. Misalnya, ketika belajar ilmu Arudh ini, Anregurutta As’ad hanya memilih sejumlah santri pilihan untuk diajar satu malam saja memberikan penjelasan kepada santrinya tanpa buku pegangan. Namun keesokan harinya santri-santrinya telah mampu menerapkannya dalam menelaah kitab kuning. Padahal ilmu Arudh termasuk salah satu cabang ilmu yang paling sukar dipelajari di dunia pesantren.

Setelah belajar langsung kepada Anregurutta As`ad di Sengkang,  Daud Ismail kemudian dipercayakan untuk mengajar pada tingkat Ibtidaiyah dan Tsanawiyah, meskipun beliau tetap belajar kepada Anregurutta As’ad. Kebetulan pada waktu itu, belum ada tingkat Aliyah. Sejak saat itulah, orang-orang mulai memanggilnya Gurutta (panggilan kehormatan setingkat di bawah Anregurutta) Daud Ismail.

Bersama Gurutta Daud Ismail ini pula Anregurutta As’ad membentuk tim pengajar. Sehingga Anregurutta As`ad tidak lagi langsung berhadapan dengan santri-santri baru (yunior). Tapi hanya berhadapan langsung dengan beberapa santri senior. Dari santri senior inilah kemudian mengajarkan kepada santri yang lain sesuai tingkatan masing-masing.

Gurutta Daud Ismail temasuk santri yang paling disayangi oleh Anregurutta As`ad. Hal itu dibuktikan dengan ketatnya pengawasan kepada beliau. Gurutta Daud Ismail tidak diizinkan meninggalkan pesantren, hingga memasuki masa sulit ketika harus meninggalkan Sengkang.

“Laing memetto gurutta Sade` usedding batena mappa`guru”, (Saya merasakan memang agak lain waktu saya belajar pada Gurutta Sade – panggilan akrab bagi Anregurutta Muhammad As`ad - dibanding waktu saya belajar di tempat lain), demikian kenang Gurutta Daud Ismail tentang gurunya ini.

Wasiat Sang Guru
Pada tahun 1942, ketika pecah perang dunia II, merupakan masa sulit yang dialami Gurutta Daud Ismail. Kondisi tersebut membuatnya terpaksa meninggalkan Sengkang untuk kembali ke kampung halamannya di Soppeng. Salah satu cobaan berat Gurutta Daud Ismail yang ketika ini adalah waktu itu adalah berpulangnya istri pertama ke Rahmatullah.

Tak lama kemudian, pada tahun 1942 – 1943 beliau diminta mengajar di Al-Madrasatul Amiriyah Watang soppeng menggantikan Sayyed Masse. Dan waktu itu juga beliau diangkat menjadi Imam Besar (Imam Lompo). Hingga akhirnya beliau memutuskan meninggalkan perguruan tersebut, karena dibatasi gerakannya oleh Nippon dan adanya latihan menjadi tentara Jepang (PETA).

Pada tahun 1942 M. ini pula Daud Ismail diangkat sebagai Imam Besar di Lalabata, Kabupaten Soppeng, sambil mengajar pada sebuah madrasah. Beliau juga pernah menjadi guru pribadi bagi keluarga Datu Pattojo, tepatnya pada tahun 1944. Karena diakui sebagai seorang ulama yang berilmu luas dan mendalam, Daud Ismail diangkat sebagai Kadhi (hakim) di Kabupaten Soppeng pada tahun 1947. Jabatan ini beliau sandang hingga tahun 1951. Kemudian antara tahun 1951-1953, beliau menjabat sebagai pegawai di bidang kepenghuluan pada Kantor Departemen Agama Kabupaten Bone. Sejak saat ini Daud Ismail telah mulai biasa disapa sebagai Anregurutta.

Sepeninggal Anregurutta As‘ad (1952 M), Anregurutta Daud Ismail diminta oleh para pemuka masyarakat Wajo dan sesepuh Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) untuk datang ke Sengkang melanjutkan pembinaan madrasah yang ditinggalkan oleh Anregurutta Muhammad As‘ad. Pada tahun 1953 nama Madrasah Arabiyah Islamiyah (MAI) diubah pada tahun 1953 menjadi Madrasah As‘adiyah sebagai penghormatan dan penghargaan kepada Anregurutta M. As‘ad.

Kembali ke Sengkang merupakan wasiat dari Anregurutta As’ad, bahwa Gurutta Daud Ismail harus kembali ke Sengkang untuk memimpin MAI. Maka meskipun dengan resiko harus meninggalkan status pegawai negerinya, Anregurutta tetap memenuhi wasiat gurunya tersebut. Namun. Anregurutta Daud Ismail hanya menetap dan memimpin MAI Sengkang selama 8 tahun. Karena adanya desakan dari Soppeng agar beliau kembali membina madrasah di daerahnya. apalagi waktu itu beliau merasa sudah ada kader-kader ulama yang dapat menggantikan Anregurutta Daud Ismail.

Setelah meninggalkan Sengkang pada tahun 1961, Anregurutta Daud Ismail kembali ke Soppeng. Ia mendirikan sekaligus mengetuai Yayasan Perguruan Islam Beowe (YASRIB) dan membuka Madrasah Muallimin pada tahun 1967. Pada masa ini Anregurutta Daud ismail juga diangkat  kembali menjadi Qadhi (untuk kedua kalinya) di Soppeng.

Menulis Kitab
Suku Bugis dikenal sebagai salah satu suku di Indonesia yang sangat kental menganut dan melaksanakan ajaran-ajaran agama Islam. Untuk keperluan itu, mereka sangat bergantung pada apa yang mereka peroleh dari al-Qur‘ân, sehingga tafsir al-Qur‘ân memegang peranan penting dalam kehidupan keagamaannya.

Atas dasar yang demikian, maka Anregurutta Daud Ismail melahirkan sebuah karya tafsir berbahasa Bugis. Upaya ini dimaksudkan untuk memberikan kemudahan kepada masyarakat Bugis untuk lebih mudah mengakses dan memahaminya. Terutama sekali adalah agar adanya aksara Lontara, yaitu huruf abjad bahasa Bugis, tidak lekas punah.

Tujuan beliau menyusun buku tafsirnya adalah untuk memelihara bahasa Bugis dari kepunahan. Untuk itu, beliau berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jemaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Anregurutta Daud Ismail berharap agar karyanya itu ditempatkan di masjid-masjid, sehingga jamaah dapat dengan mudah membacanya. Hal ini merupakan salah satu upaya mempertahankan eksistensi bahasa Bugis.

Sejarah eksistensi terjemah dan tafsir Al-Qur’an, di Sulawesi Selatan sendiri sudah cukup panjang. Upaya untuk menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an ke dalam bahasa Bugis telah dimulai sejak tahun 1948. Pada waktu itu, sebuah buku tafsir kecil terbit di Sengkang (Kab. Wajo) yang ditulis oleh Anregurutta M. As‘ad (w. 1952 M), guru dari Anregurutta Daud Ismail.

Karya lain yang pernah ditulis Anregurutta Daud Ismail, antara lain Ashshalatu Miftahu Kulli Khaer (bahasa Bugis), Carana Puasae, kitab-kitab ini ditulis dalam bahasa Bugis. Sementara Tafsir dan Tarjamah Al-Qur’an 30 Juz dalam bahasa Bugis merupakan karya tulis terbesarnya.

Anregurutta Daud Ismail memimpin Pondok Pesantren YASRIB sampai menghembuskan napas terakhirnya. Anregurutta Daud Ismail menghadap ke hadirat Allah SWT dalam usia 99 tahun pada Senin 21 Agustus 2006 sekitar pukul 20.00 WITA, setelah sempat dirawat selama tiga pekan, di Rumah Sakit Hikmah, Makassar. Anregurutta Daud Ismail masih menjabat sebagai Kadhi di Kabupaten Soppeng. Selain itu amanah yang masih disandangnya adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Soppeng tahun 1993-2005. Semoga Allah SWT meridhoi perjalanannya dan merahmati masyarakat yang ditinggalkannya. Amin. (Disadur oleh Syaifullah Amin dari berbagai sumber).
Komentar(3 komentar)
Selasa, 29/05/2012 21:29

Nama: SALAHUDDIN
gurutta dauda
saya adalah salah satu alumni dari pesantren yang didirikan oleh beliau (yasrib), saya sempat mengikuti pengajian-pengajian yang beliau kelola. ajaran tauhid beliau adalah AHLUSSUNNAH WAL JAMA"AH (Asy'ariyah) sebagaimana yang dianut mayoritas umat islam di asria tenggara. walaupun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan di timur tengah, namun keluasan ilmu alatnya seperti bahasa arab (nahwu, sharaf, balagah, arudhi) tidak diragukan. salah seorang murid beliau yang ahli bahasa arab KH. Abdul Gani (Gurutta Gani) pernah berkata "saya tidak tahu dimana lagi saya akan bertanya tentang nahwu sharaf sepeninggal gurutta". selain bahasa Arab, beliau juga menguasai ilmu ushul tafsir, ushul fiqhi, ushul hadits. beliau juga menjadi rujukan utama dalam masalah fiqhi di sulawesi selatan. selamat jalan GURUNDA TERCINTA semoga Allah swt membalas segala perjuangan gurunda. AMIN

4 PERKARA SUNNAH DILAKUKAN SEBELUM TIDUR

4 PERKARA SUNNAH DILAKUKAN SEBELUM TIDUR
Bismillaahirrohmaanirrohiim
Assalaamu’alaikum warohmatullaahi wabarokaatuh
mungkin sebagian orang sudah mengetahui 4 perkara Sunnah
sebelum tidur, semoga yang belum tau menjadi tau .
Rasulullah SAW berpesan kepada Aisyah ra :
"ya Aisyah, jangan engkau tidur sebelum melakukan empat perkara"
yaitu:
1. Sebelum kau khatam Al-qur'an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafa'at di hari akhir
3. Sebelum para muslim dan muslimat meridhoi kamu 
4. Sebelum kau melaksanakan ibadah haji dan umroh.
Bertanya Aisyah ra:
"Ya Rasulullah.. Bagaimana aku. dapat melaksanakan 4 perkara
seketika dalam semalam?"
Rasulullah SAW tersenyum dan bersabda :
1. "jika engkau tidur bacalah Surah Al-ikhlas 3x seakan-akan kau
menghatamkan Al-qur'an."
[ Bismillahir rohmaanir rohiim, Qulhualloohu ahad' Allahushshomad'
lam yalid walam yuulad' walam yakul lahuu kufuwan ahad' ] (3x)
2. "membaca sholawat untuk ku dan para nabi sebelum aku, maka
kami semua akan memberi syafa'at di hari kiamat."
[ Bismillaahir rohmaanir rohiim, Allahumma shollii 'alaa Muhammad
wa'alaa alii Muhammad ] (3x)
3. "Beristighfarlah untuk para muslimin dan muslimat maka mereka
akan meridhoi kamu."
[Astaghfirullahal 'azhiim alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul
qoyyum wa atuubu ilaih ] (3x)
4. "Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir, maka
seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh."
[ Subhanallahi Walhamdulillaahi walaailaaha illallahu allahu akbar ](3x)
Rasulullah SAW bersabda; ilmu yang bermanfaat ialah salah satu
amal yang kekal bagi orang yang mengajarnya, meski hanya 1 ayat,
dan meskipun kita sudah meninggal dunia..
Mari kita Berfastabiqul khairat.. 
(Tafsir Haqqi)
Semoga Bermanfaat

 

ZAT – MA’RIFAT SIFAT – HAKIKAT ASMA – THARIKAT AF’AL – SYARIAT
Adapun ZATnya Adapun SIFATnya Adapun ASMAnya Adapun AF’ALnya 
Nyata kepada nyata kepada nyata kepada nyata kepada
MA’RIFAT. HAKIKAT. THARIKAT. SYARIAT.

--- Adapun SYARIAT nyata kepada kelakuan TUBUH INSAN.
--- Adapun THARIKAT nyata kepada kelakuan HATI INSAN.
--- Adapun HAKIKAT nyata kepada kelakuan NYAWA INSAN.
--- Adapun MA’RIFAAT nyata kepada kelakuan FUAD INSAN.
Inilah rupa yang 4 perkara ini, jangan tidak diketahui risalah tersebut dibawah ini.

ZAT SIFAT ASMA AF’AL
MA’RIFAT HAKIKAT THARIKAT SYARIAT
RAHASIA NYAWA HATI TUBUH 
MIM HA MIM DAL

BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM

Adapun asal tubuh ( lembaga ) terdiri dari 4 ( empat ) nasar ialah :
1). TANAH 2). AIR 3). ANGIN 4). API
Kesemuanya ini daripada NUR MUHAMMAD ( Muhammad Al – qur’an ).
Adapun asal kejadian diri terdiri dari 3 perkara ialah : 
1. BAPAK      2. IBU 3.       TUHAN
- Urat besar     - Rambut     - Penglihat
- Urat kecil       - Kulit           - Pendengar
- Tulang           - Daging       - Pengrasa
- Otak              - Darah         - Pencium
                                              -Nyawa
Ketiga perkara ini jumlahnya 13 ( tigabelas ) dan ini terhimpun dalam rukun 13 ( tigabelas – Rukun Sembahyang ( Hadist).

KONSEP INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI

 KONSEP INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI
Oleh Drs. H. Aceng Kosasih, M. Ag
PENDAHULUAN
Tasawwuf atau sufisme sebagaimana halnya dengan mistisme diluar agama Islam,
mempunyai tujuan memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhann,
sehingga disadari be
nar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Sedangkan intisari dan
mistisme, termasuk didalamnya sufisme ialah kesadaran akan adanya komunikasi dengan
Tuhan dengan jalan mengasingkan diri dan berkotemplasi.
Keinginan untuk berada sedekat mungkin dengan T
uhan itu, dikalangan sufi biasa
disebut kehidupan menyuci. Dan dalam menjalani kehidupan menyuci itu, mereka (kaum
sufi) berusaha untuk memalingkan dirinya dari kehidupan duniawi disamping senantiasa
berkontemplasi, yakni dengan jalan mendekati sifat yang
mirip dengan yang Mutlak.
Untuk itu tidak sembarang orang yang dapat melakukannya. Menurut kaum sufi, tingkat
pertama manusia yang hidup dengan mendekati kemiripan dengan Tuhan adalah Nabi,
kemudian para sufi istimewa dari yang istimewa, dan para wali. Keb
erhasilan dalam
mencapai tingkat hidup yang sempurna demikian tidaklah diperoleh karena kapasitasnya
sebagai manusia. Kaum sufi mengetahui bahwa hal itu dimungkinkan
karena seseorang
melalui proses penyucian hatinya lalu mencapai tingkat suci dengan jiwa s
ucinya lalu
mampu mengadakan kontak dengan yang Mutlak. Itulah cara hidup yang mendekati
”Kemiripan dengan Tuhan.”
Dalam dunia sufi berbagai macam aliran yang memiliki jalan yang berbeda untuk
dapat berada sedekat mungkin dengan Tuhan. Salah satunya, yang
akan penyusun bahas
adalah jalan (gagasan) yang dikemukakan seorang tokoh sufi, Al-Jili dengan gagasannya
Insan Kamil
BIOGRAFI AL-JILI

Nama aslinya ialah Abdul Karim Ibnu Ibrahim, adalah seorang sufi terkenal dari
negeri Baghdad. Riwayat hidupny
a tidak banyak diketahui orang. Para penulis hanya
menyebutkan bahwa ia lahir di al-jili, sebuah negeri di kawasan Baghdad, pada tahun
1365 M (767 H) dan meninggal dunia di tempat yang sama pada tahun 1409 M (811 H).
Jenjang pendidikan yang dilaluinya pun
sulit ditelusuri. Ia hanya diketahui pernah
berguru pada Abdul Qadir al-Jailani, seorang pendiri dan pemimpin tarekat Qadariah
disamping itu ia
juga sempat berguru pada Syekh Syarafud-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti, seorang tokoh tasawwuf terkenal darinegeri Zabit Yaman.
Dalam dunia tulis menulis termasuk ahli sufi yang cukup kreatif, karengannya
tentang tasawwuf tidak kurang dari 20 buah, yangpalingterkenaldiantaranya”alInsanalKamilfima’rifati al-Awakir wa a-Awali” dan ”al-KahfwaarRaqim fi Syarh
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim”. Konon bukunya disebut pertama, al-Insan al-Kamil pernah menggemparkan ulama-ulama sunnah dan fiqih pada masa itu.Ajaran al-Jili secara garis besar meliputi pengertian zat Mutlak, masalah ruh,tentang nur Muhammad dan Insan Kamil. Namun demikian penyusun hanya akanmembahas tentang Insan Kamil saja.INSAN KAMIL MENURUT AL-JILI
Menurut Khan Sahib Khaja Khan, kata ”insan” dipandang berasal dari turunan
beberapa kata. Misalnya ”uns” yang artinya cinta. Sedangkan yang l
ain memandangnya
berasal kata ”nas” yang artinya pelupa, karena manusia hidup di dunia dimulai dari
terlupa dan berakhir dengan terlupa. Yang lain lagi berkata asalnya adalah ”ain san”,
”seperti mata”. Manusia adalah mata, dengan nama Tuhan menurunkan sifa
t dan asma-Nya secara terbatas. Insan Kamil, karenanya merupakan cermin yang merupakan
pantulan dari sifat dan asma Tuhan”.
Dalam Insan Kamil, Tuhan bukanlah sebuah layar bagi makhluk-Nya, dan makhluk tidak akan tertabiridari Khalik. Ia menjadi seimbangdalam kedua arah. Ia
adalah seseorang yang vtelah melaksanakan suluk (perjalanan pencarian) menuju Tuhan
dan bersama Tuhan, dan mencapai titik Haqiqat-i-Muhammadi, yang____________ (Al-
Quran 53:9), sebuah titik yang berjarak dua busur atau bahkan lebih dekat lagi. Ia
menjadi poros disekeliling dimana seluruh eksistensi mengelilingi dan menyinari hati
makhluk-makhluk lainnya. Dalam kenyataannya, ini adalah pola tidak langsung atau
tiruan dari individualitasnya. Ini adalah apa yang disebut Ibn Arabi sebagai
kebijaksanaan
individualitas. Penciptaan mulai dari Muhammad saw, artinya melalui Haqiqat
Muhammad, kebijaksanaan eksistensi mewujud secara lengkap dalam individualitasnya.
”Aku sudah menjadi nabi”ujar Rasul ”ketika Adam masih antara air dan lempung”,artinya
Aku sudah menjadi nabi
ketika Adam masih belum dalam pengetahuan Tuhan,
dan belum mendapatkan bentuknya mendunia.
Gagasan Insan Kamil al-Jili sebenarnya melanjutkan gagasan yang telah
dikemukakan Ibn Arabi. Menurut Ibn Arabi, manusia sempurna adalah
alam seluruhnya.
Karena Allah ingin melihat substansi-Nya dalam alam seluruhnya, yang meliputi seluruh
hal yang ada, yaitu karena hal ini bersifat wujud serta kepadanya itu Dia mengemukakan
rahasia-Nya, maka kemunculan manusia sempurna (Insan Kamil) menur
ut Ibn Arabiadalah esensi kecermelangan cermin alam. Ibn Arabi membedakan manusia sempurna
menjadi dua. Pertama manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia baru.
Kedua, manusia sempurna dalam kedudukannya sebagai manusia abadi. Karena itu
manusiasempurna adalah manusia baru yang abadi, yang muncul, bertahan, dan abadi.
Bagi Ibn Arabi, tegaknya alam justru oleh manusia dan alam ini akan tetap
terpelihara selama manusia sempurna masih ada. Manusia sempurna atau Haqiqat
Muhammad adalah sumber seluru
h hukum, kenabian, semua wali, atau individu-individumanusia sempurna (yaitu para sufi yang wali).
Kemudian al-Jili mempertegas gagasan mengenai Insan Kamil. Menurutnya,
Insan Kamil adalah Muhammad, karena mempunyai sifat-sifat al-Haq (Tuhan) dan al-Khaliq (makhluk) sekaligus. Dan sesungguhnya Insan Kamil itu adalah Ruh Muhammad
yang diciptakan dalam diri nabi-nabi, wali-wali, serta orang-orang soleh. Insna Kamil
merupakan cermin Tuhan (copy Tuhan) yang diciptkan atas nama-Nya, sebagai refleksi gambaran nama-nama dan sifat0sifat-Nya. Insan Kamil memiliki dua dimensi yaitu
kanan dan kiri. Yang kanan merupakan aspek lahir, seperti melihat, mendengar,
berkehendak. Sedangkan dimensi kirinya bercorak batin dan mutlak, seperti azali, baqa,
awal, dan akhir.Menurut al-Jili, Insan Kamil adalah dia yang berhadapan dengan Pencipta dan
pada saat yang sama juga dengan makhluk. Insan Kamil atau manusia sempurna
merupakan quib atau axis, tempat segala sesuatu berkeliling dari mula hingga akhir. Oleh
karena itu segala sesuatu menjadi ada, maka dia adalah satu (wahid) untuk selamanya.
Iamemiliki berbagai bentuk dan ia muncul dalam kana’is atau rupa yang bermacam-macam
. Untuk menghormati hal yang demikian, maka namanya dipanggil secara berbeda
dan untuk menghormati selaindaripadanya, maka panggilan nama yang demikiantidak
dipergunakan pada mereka. Siapakah dia? Nama sebenarnya adalah Muhammad, nama
untuk kehormatannya adalah Abdul Qosim, dan gelarnya Syamsudin atau Sang Menteri
Agama.Suatu pengalaman pernah dikemukakanoleh al-Jili, yakni menurutnya: “sekali
waktu saya bertemu dengan dia dalam wujudnya persis seperti syekh saya, Syarifuddin
Ismail al-Jabarti, tetapi saya tidak mengetahui bahwa dia (syekh) itu sebenarnya nabi,
padahal saya mengetahui bahwa dia (nabi) adalah syekh.
Ini adalah satu penglihatan yang
saya dapati di Zabit pada tah
un 796 H. Makna yang hakiki yang terdapat dalam peristiwa
ini adalah bahwsa nabi memiliki kekuatan untuk menampilkan diri dalam setiap bentuk.
Demikian keadaan Muhammad. Tetapi manakala ia dalam bentuk lain dan diketahui
bahwa ia Muhammad, maka akan ia panggil dengan nama sebagaimana yang terdapat
dalam bentuk tersebut. Nama Muhammad tidaklah bisa diterapkan kepada sesuatu
kecuali kepada ”ide tentang Muhammad” (al-Haqiqatul Muhammadiyya).
Dengandemikian, ketika muncul dalam bentuk Syibli, maka Syibli berkata kepada kawannya:
”saksikanlah bahwa saya adalah utusan Tuhan”, dan orang tersebut sebagai orang yang
telah bersatu dengan roh Muhammad mengenali Muhammad. Dan ia berkata: ”Saya bersaksi bahwasannya Anda adalah utusan Tuhan.”
Dari keterangan di atas nampak bahwa Haqiqat Muhammad atau Nur Muhammad
itu qadim, sebab dia sebagian dari Ahadiyah. Sebagian dari suatu dan satu. Dia tetap ada,
Haqiqat Muhammad itulah yang memenuhi tubuh Adam
dan tubuh Muhammad. Dan
apabila Muhammad telah mati seluruh tubuh namun Nur Muhammad atau Haqiqat
Muhammad tetap ada sebab dia sebagian dari Tuhan. Jadi, Allah, Adam, Muhammad
adalah satu. Dan Insan Kamil-pun adalah Allah jugadan Adam pada hakikatnya. Jadi,menurut al Jili,sebagaimana dikutip oleh Harun Nasution, manusia sempurna )InsanKamil) itu merupakan copy (nuskha) Tuhan.Namun demikian menurut keyakinan al-Jili, manusia tidak akan pernah sampai
kepada mengidentifikasi bahwa dirinya adalah sepenuhnya Tuhan. Dalam terminologi
kauum sufi, berpindahnya Tuhan ke dalam manusia sehingga terjadi persatuan antara
hamba dan Tuhan disebut esensi. Al
-
Jili dan kaum sufi pada umumnya merumuskan
Tuhan senagai esensi dan segala sesuatu yang ada dalam jagat raya memiliki unsur esensi
ilahi, sehingga makhluk manusia sangat dimungkinkan melakukan persatuan atau
pertemuan esensi dirinya dengan esensi Tuhan.
BEBERAPA TAHAPAN MENUJU KE TINGKAT INSAN KAMIL
Dengan menerima gagasan Ibn Arabi tentang kesatuan wujud, al-Jili
mengemukakan bahwa penampakkan dari Tuhan itu melalui tiga tahap manifestasi
beruntun yangdisebutnya: ”Kesatuan” (Ahadiah), ”Ke-Diaan” (Hiwiyah), dan ”Ke-Akuan” (Aniyah).
Pada tahap Ahadiah, Tuhan dalam keabsolutannya baru keluar dari al-’ama, kabutke
gelapan, tanpa nama dan sifat. Pada tahap Huwiyah, nama dan sifat Tuhan telah
muncul, tetapi Ia masih dalam bentuk potensi. Pada tahap Aniyah, Tuhan menampakkan
diri dengan nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya.
Sungguhpun manusia merupakan penampakkan dari Tuhan yang paling sempurnadiantara semua makhluk-Nya, namun penampakkan diri Tuhan tidak sama pada semua
manusia. Penampakkan diri Tuhan yang sempurna hanya terdapat dalam Insan Kamil.
Dan jalan untuk menuju ke tingkatan Insan Kamil, menurut al-
Jili adalahdengan
pengamalan Islam, Iman, Shalah, Ihsan, Syahadah, Shiddiqiyah, dan Qurbah. Melalui
beberapa tahapan, yaitu: Mubtadi, Mutawasit, dan Ma’rifat yang kemudian mencapai
maqam khatam (penghabisan).Pada tingkat Mubtadi, seseorang sufi disinari oleh nama
-nama Tuhan, pada sufiyang demikian Tuhan menampakkan diri dalam nama-nama-Nya seperti Pengasih,Penyayang, dan seterusnya. Pada tingkat Mutawasit, seorang sufi disinari oleh sifat-sifat
Tuhan seperti: Hayat, Ilmu, Qudrat, dan lain-lain. Pada sufi yang demikian Tuhanmenampakkan diri dengan sifat-sifat-Nya oleh zat Tuhan. Pada sufi yang demikian Tuhan menampakkan diri dengan zat-
Nya.Pada tingkatan ini seorang sufi mencapai maqam khatam, sehingga mencapai atau menjadi
Insan Kamil.Ia menjadi manusia sempurna, mempunyai sifat ketuhanan dan dalam
dirinya terdapat bentuk (shurah) Allah. Ia adalah bayangan Tuhan yang sempurna.
Itulah beberapa gagasan mengenai konsep Insan Kamil menurut al-Jili.Wallahualam bis shawaab.

Selasa, 21 Maret 2017

PARADOKS WAHDATUL WUJUD DAN LILIN IBNU 'ARABI ADALAH AF'AL ALLAH SEMATA


Paradoks Wahdatul Wujud Dan Lilin Ibnu ‘Arabi

“Saya Allah (Ana Al-Haq), siapa lagi saya ini, sebab tidak ada sesuatu kecuali saya” demikian pernyataan Syekh Lemah Abang yang lebih di kenal Syekh Siti Jenar dalam “sidang paripurna” dengan para Wali di Girigajah di Gunung Kadaton. Ajaran Syekh Siti Jenar ini dalam lidah Jawa dikenal dengan istilah manunggaling kaula gusti sementara dalam term Arab di sebut Wahdatul Wujud. Konon ia diinspirasi oleh Al-Hallaj dan Ibnu ‘Arabi.

Ajaran ini dianggap berbahaya bagi keteguhan iman umat Islam di Jawa, wabil khusus mereka yang baru saja mendengar “Islam”. Tak pelak, sidang paripurna para Wali itu memutuskan bahwa Siti Jenar harus dipenggal lehernya konon menurut cerita. Hal senada juga pernah dialami oleh Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri di bumi Aceh, meski mereka gagal dieksekusi karena melarikan diri. Tapi setidaknya mereka hidup menggelandang lantaran ajarannya.

Kita yang awam ini tentu dilumuri oleh sekian pertanyaan, benarkah Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, Syamsuddin As-Samatrani dan Nuruddin Ar-Raniri kafir karena kalimatnya? Bukankah Tuhan berkata bahwa ia lebih dekat dari urat leher manusia? Siapa lagi yang lebih dekat dengan urat leher manusia selain diri? Atau mungkinkah ada persaingan tidak sehat, artinya para Wali khawatir kalah pamor dengan Syekh Siti Jenar???...........................

Baiklah pada kesempatan ini, saya tidak bermaksud memberi novum terhadap hukuman mati Siti Jenar maupun ketiga tokoh yang lain, dan tidak pula hendak berkisah tentang sejarah Wali Songo dan sejarah Aceh. Kalaupun itu perlu, diruang dan waktu yang berbeda akan lebih sempurna. Pengutipan kisah hidup Syekh Siti Jenar dan beberapa tokoh diatas lebih kepada agar memori kita akrab dengan istilah "Wahdatul Wujud" yang menjadi pokok persoalan tulisan ini.

Yang nantinya akan dikembangkan dalam kacamata Ibnu ‘Arabi. Setidaknya kita telah melakukan pemanasan dan rangsangan-rangsangan kearah dunia sufi dengan harapan kita dapat “klimaks” sempurna bersama pelukan dan sentuhan lembut pemikiran-pemikiran Si Belerang Merah (sebutan Ibnu Arabi).      

Diskursus Wahdatul Wujud di masyarakat kita, bisa dibilang kontraversial. Satu sisi memandang sebagai ajaran kekafiran karena menempatkan hamba sebagai yang inheren dengan khaliq, sehingga tidak ada bedanya antara yang menciptakan dan yang diciptakan. (zahirurabbi bhatinu Abdi)

Disisi lain memandang bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya yang riil, dia adalah realitas dari segala yang ada, diluar dirinya adalah nihil. Dengan demikian, manusia dan semesta adalah inheren dengan Tuhan. 

Kedua pandangan ini sulit untuk di damaikan dalam satu frame yang sama tentang kesatuan wujud. 
Inilah yang membuat Wahdatul Wujud sebagai sebentuk konsep inti sufisme tidak dapat diterima secara mentah-mentah dan menyeluruh oleh kalangan umat Islam di segenap penjuru dunia ahli syariat. 

Klaim-klaim semacam ini tak jarang memicu konflik horizontal. Di tengah polemik inilah, Ibnu ‘Arabi sebagai pendekar pilih tanding meyalakan lilin untuk menerangi dan melerai kedua pandangan tadi yang tengah bertikai diruang gelap. Lalu ia, memberikan jalan berbeda dengan mengkombinasikan filsafat dan perjalanan spritualnya, sebagaimana yang dikatakannya sendiri, ia telah menorobos batas-batas atau tirai-tirai tertentu hingga mencapai unity of being dan bahkan telah intim dengan Tuhan.

Meski tidak ada teks-teks Ibnu Arabi yang secara tegas menyatakan bahwa ajarannya adalah Wahdatul Wujud. Tetapi teorinya digolongkan sebagai "Wahdatul Wujud", itu semata-mata karena konsep metafisika ketuhanannya tidak bisa dipisahkan dengan konsep kesatuan wujud dengan cirinya sendiri.Misalnya pernyataan bahwa “pada segala hal adalah tanda bahwa ia adalah Dia”. “ia” bisa kita maknai sebagai makhluk dan “Dia” bisa kita maknai sebagai Tuhan.

Lebih jauh ditegaskan oleh Muhammad Al- Fayyald dalam Teologi Negatif Ibnu Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan, KH. Muhammad Sholikhin dalam Filsafat dan Metafisikan Dalam Islam: Sebuah Penejelajahan Nalar, Pengalaman Mistik dan Perjalanan aliran Manunggaling Kawula-Gusti, maupun yang dikatakan oleh William C. Chittik dalam Pengetahuan Spritual Ibnu ‘Arabi (The Sufi Path of Knowledge).

Dengan berpijak pada Futuhat Al-Makkiyah,Tarjuman Al-Asywaq dan Fusus Al-Hikam, ketiga komentator diatas bersepakat bahwa Ibnu ‘Arabi tidak hanya sebagai imago monde dan dedengkot dariWahdatul Wujud tetapi ia berhasil memberikan narasi dan rasionalisasi yang different dari pendahulu-pendahulunya. Lantas bagaimana sebenarnya Ibnu ‘Arabi menyalakan lilinnya? Sebelum itu mari kita ber-fatihah untuknya semoga diterangi alam kuburnya, Al-fatihah!

Jangan lupa saudara untuk membaca artikel ini agar serius dan lebih jelas dan gamblang  minum dulu air kopi dan hisap sebatang rokok.

Fatwa Wujud Ibnu ‘Arabi
Mendebat Wahdatul Wujud memang cukup rentan terperosok kedalam jurang Panteisme dan Monisme. Yang mana dalam pandangan Panteisme segala sesuatu adalah Tuhan, manusia dan dunia adalah Tuhan. 

Tuhan menciptakan semesta dari creatio ex nihilo sehingga manusia dan semesta adalah bagian dari Tuhan, pendek kata manusia ini adalah Tuhan.Sementara Monisme mengembalikan kejamakan pada suatu kesatuan, dalam hal ini tepat jika disebut persatuan dalam arti menyatukan entitas makhluk dengan Tuhan. 

Pertanyaannya, mana mungkin manusia yang kotor ini dipadukan dengan zat Tuhan. Jadi jelas Panteisme dan Monisme kafir dalam Islam.Hehehe...........

Secara sangat sederhana nan awam, Wahdatu Wujudadalah kesatuan eksistensi antara hamba dan sang khaliq. Pengertian ini jelas tidak representatif untuk mengungkap makna Whdatul Wujud. Ada banyak versi pemahaman tentang itu. Semakin kita menelusuru lorong-lorong definisi Wahdatul Wujud maka sepanjang lorong itu pula kita akan mendapat definisi yang berbeda. 

Jalaluddin Rumi, misalnya, mengatakan bahwa Wahdatul Wujud adalah suatu proses dari alam semesta yang selalu berubah dan hilang serta serentak diperbaharui tanpa istirahat sedetikpun dan hakekatnya adalah Tuhan.

Bagi Capt. Wahid Bakhsh Rabbani, ia berangkat dari pernyataan Al-Qur’an “Dia Adalah yang awal dan yang akhir, yang lahir dan yang batin” maka Wahdatul Wujud adalah kesatuan wujud secara totalitas, eksistensi dari semua hal adalah satu hal. Sementara pertunjukan kebenaran tertinggi adalah secara totalitas, dia adalah totalitas dan totalitas ini meliputi lahir dan batin.

Menurut Abu Yazid al-Bustami bahwa manusia adalah pancaran Nur ilahi oleh karena itu manusia hilang kesadarannya sebagai manusia, maka pada dasarnya ia telah menemukan asal mula yang sebenarnya yaitu nur ilahi atau dengan kata lain ia menyatu dengan Tuhan. 

Bagi Al-Jilli bahwa manusia adalah nukhsoh atau copy Tuhan. Tuhan memiliki sifat pandai, berkehendak, mendengar dan seterusnya dan manusia juga memiliki sifat ini. Ia menunjukkan bahwa pada diri manusia terdapat nama dan sifat ilahi. Pada titik ini hampir sama dengan Ibnu ‘Arabi.    

Sementara bagi Ibnu ‘Arabi sendiri yang mengaku telah mendapat fath (pencerahan) mengajarkan bahwa keberadaan makhluk sebagai wujud nisbi tergantung pada keberadaan Tuhan sebagai wujud mutlak, atau manusia tercipta dari wujud ilahiah. 

Manusia paling sempurna adalah perwujudan dari penampakan diri Tuhan yang paling sempurna. Meski demikian, eksistensi manusia bukan berarti identitas akhir manusia itu sama dengan tuhan, atau Tuhan sama dengan manusia. Masing-masing berbeda. 

Manusia ada kerena Tuhan, muncul karena terkondisi dengan status kekurangan yang sesuai dengan dirinya. Dalam artian Tuhan ingin melihat dirinya di luar dirinya. Laksana manusia bercermin untuk mengoreksi dirinya. 

Tuhan adalah identik dan berbeda dengan alam, Tuhan adalah imanen dan transenden. Dengan kata lain mahluk atau yang dijadikan (mumkinul wujud), wujudnya bergantung pada wujud Tuhan yang bersifat wajib (wajibul wujud).

Pendek kata, yang sebenarnya punya wujud hanya satu, yaitu Tuhan. Wujud dari selain Tuhan adalah wujud bayangan atau modifikasi. Dengan kata lain Tuhan yang transenden meng-imanenkan dirinya agar dapat dikenali oleh mahluknya. Sampai disini ‘Arabi menepis tuduhan bahwa ajarannya dianggap cendrung Monisme dan Panteisme.

Transendensi dan Imanensi Al-Haqq
Simplenya Wahdatul Wujud ‘Arabi berintikan pandangan bahwa al-wujud pertama-tama adalah tunggal, satu atau esa. Konsisten dengan argumen bahwa hanya Allah yang dapat disebut al-wujud secara hakiki, dalam artian tidak ada al-wujud yang dapat disebut al-wujud selain Allah itu sendiri, atau sebaliknya bahwa Allah adalah al-wujud. Sementara bahwa al-wujud itu esa berarti ia tidak terduakan, ia adalah singular pada dirinya, unik pada dirinya dan distinct pada dirinya. Ia tidak tergantikan pada dirinya. Pada titik ini Wahdatul Wujud ‘Arabi tidak bisa dipisahkan bahkan bisa dikatakan identik dengan ajaran tauhid itu sendiri, yaitu keimanan bahwa Allah adalah esa. Ini bisa ditelusuri pada:

“tidak ada dalam Al-wujud selain Dia. Maka renungkanlah seperti aku merenungkannya niscaya engkau akan mendapatkannya Dia sebagaimana Dia adanya” dan “ Ketauhilah bahwa tauhid berarti upaya diri manusia atau pencari Tuhan untuk mengetahui bahwa Allah yang menciptkannya adalah Tunggal/Satu/Esa, tidak ada sekutu bagiNya dalam hal ketuhanan-Nya”.

Ibnu ‘Arabi juga menegaskan bahwa al-wujud bukanlah realitas yang dapat diketahui, al-wujud secara hakiki yakni al-wujud sebagai Allah tidak pernah terjangkau oleh pengetahuan apapun. “Tuhan” yang kita bicarakan hanya semata konsepsi tentang Tuhan atau konsepsi tentang konsepsi tentang konsep Tuhan, bukan zat Tuhan. Tuhan secara esensi tidak akan pernah terjangkau, sebagaimana Mazhab Kepanjen. juga mengatakan bahwa yang kita bicarakan hanyalah sebatas eksistensi Tuhan. Sehingga meski sampai teler ketika berbicara al-wujud sebenarnya kita tak pernah mengerti dan memahami zat Tuhan.


Pengakuan Tuhan akan dirinya di dalam Al- qur’an, atau yang lebih dikenal dengan manifestasi, teofani, atau penampakan juga tidak akan membawa pemahaman atau pengetahuan manusia pada esensi Tuhan. Semua itu hanya jalan mengenal Tuhan. Dalam hal ini Ibnu ‘Arabi mengangkat satu kasus firman Allah :

Allah telah berfirman “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” maka dia melakukan tanzih. “dan dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat” maka Dia melakukan tasbih. Dan allah berfirman “tidak ada sesuatu pun yang menyerupainya” dia telah melakukan tasbih dan memuji dirinya. “Dan dia Mendengar lagi Maha Melihat”, maka Dia melakukan tanzih dan menyendirikan dirinya.

Kata-kata “tidak ada sesuatupun yang menyerupainya” merupakan tanzih (Transenden) penghilangan Allah dari segala bentuk penyerupaan atau keserupaan, menegasikan segala bentuk kemiripan, analogi, simbolisai atau representasi. Artinya mustahil mendekati Tuhan. Tetapi secara bersamaan bahwa Tuhan dapat diserupakan karena “Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. Ungkapan “mendengar” dan “melihat” hanya bisa dibanyangkan pada mahluk selain Allah sehingga pada Allah mengandaikan adanya keserupaan atau penyerupaan Allah dengan makhluk-Nya, ini kemudian disebut Tasybih (Imanen). Sampai disini Tuhan adalah Transenden dan Imanen bagi ‘Arabi. Atau istilahnya lahut dan nasut bahwa pada makhluk ada sifat Ketuhanan dan pada Tuhan ada sifat kemanusiaan.

Selanjutnya, Ibnu ‘Arabi menegaskan adanya tasybih justru pada pernyataan yang mencerminkan tanzih. Ternyata ia menegaskan kembali bahwa keserupaan hanya milik selain Allah, bahwa Allah tidak serupa dalam keserupaannya. Dan tanzih pada pernyataan yang tasybih bermakna bahwa Tuhan “mendengar” bukan dalam arti mendengar seperti yang dapat dipahami atau dibanyangkan, dan ia “melihat” bukan dalam arti melihat seperti yang dapat dipahami atau dibayangkan. Ia melihat dan mendengar dengan caranya sendiri. Pada titik ini disimpulkan bahwa ajaran Ibnu ‘Arabi adalah teologi via negatif.

Dari penjelasan ini Ibnu ‘Arabi kembali memberi enforcement bahwa hanya ada satu realitas ultimate dalam seluruh penciptaan, dimana al-haqq memanifestasikan dirinya dalam makhluk. Al-haqq  sebagai merupakan sumber segala realitas, yang tidak bisa dibagi-bagi, kekal dan tidak berubah-ubah. Berbagai objek di alam semesta ini adalah Tuhan, namun ia tidak identik dengan objek-objek itu. Tuhan menjadi beraneka ragam hanya melalui sifat-sifat atau modifikasi-Nya. 

Dipandang dari hubungannya dengan sifat-sifat-Nya yang mengejawantah dalam keberagaman entitas-entitas yang mungkin, maka manusia adalah ciptaan (al-khalq). Akan tetapi, kegandaan itu : satu dan banyak, yang pertama dan terakhir, yang abadi dan temporal, yang wajib dan mungkin pada hakikatnya adalah realitas yang satu dan sama.

Bagi ‘Arabi manusia memang unik karena fakta bahwa mereka diciptakan menurut citra Tuhan dan dapat mengaktualisasikan semua sifat Tuhan di dalam dirinya. Ini melibatkan transformasi serempak, baik eksistensi maupun pengetahuan: manusia sempurna mulai mengenal Tuhan sebagai Tuhan dalam Diri-Nya, dan pada saat yang sama memanifestasikan sifat-sifat Tuhan melalui bentuk eksistensi sifat-sifat itu dalam kosmos.

Modalitas-modalitas kesempurnaan manusia sangat beragam, tetapi tahap tertinggi kesempurnaan menuntut agar sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al- hadhrah al-ilahiyah).

Pada poin ini seseorang disebut muhaqqiq (orang yang membenarkan) atau “pemilik dua mata”. Satu mata, orang itu melihat keunikannya sendiri sebagai makhluk, dengan lain mata, ia melihat kesamaannya dengan Tuhan. Ia menyaksikan dirinya dekat dengan Tuhan dan sekaligus jauh dari-Nya, riil dan tak riil, ada dan tak ada, transenden dan imanen.

“Pernikahan” Teolog dan Filsuf
Secara langsung atau tidak, transendensi dan Imanensi wujud ‘Arabi mengurai benang kusut paramutakllimin dan filosof. Ia laksana penghulu yang mempertemukan dan mengawinkan pertentangan keduanya, meski sebenarnya upaya singkronisai ini telah dilakukan oleh Al-Khindi sebelumnya. Tetapi problem pemikiran spekulasi dan ilham sebagai sumber pengetahuan bagai bara api yang selalu memanas diantara kalangan Fuqaha  dan filsuf.

Bagi teolog tidak ada persoalan yang fundamental, penting dan mendasar selain persoalan zat Tuhan. Pertanyaan tentang zat merupakan inti, substansi dan titik awal dari mana teologi membangun asumsi-asumsinya. Sehingga para teolog ansich berkutat pada wilayah zat Tuhan dan mengabaikan proses dan hasil pemikiran.

Sebaliknya, para filsuf dengan kekuatan rasionalisasi beserta perangkat - perangkatnya menafikan pengetahuan-pengetahuan spiritual. Filsuf termangu dengan area kosmos yang dijadikan pijakan sekaligus objek pengetahuannya.

Ibnu ‘Arabi mengatakan bahwa  keduanya kurang tepat karena sama-sama mengabaikan aspek-aspek penting pengetahuan. Kaum mutakallimin hanya memotret sisi tanzih ketuhanan dan mengabaikan serta tidak mengerti tentang kosmos, sebaliknya filosof terlalu dangkal memaknai pengetahuan yang hanya diukur dengan rasio dan berputar diwilayah tasybih. 

Tetapi ‘Arabi menghargai usaha keduanya, hal ini ditunjukkan dari sejarah biografinya bahwa ia banyak mengunjungi para teolog seperti Abdul Aziz al-Mahdawi, Abu Abdillah al-Daqqaq, Ibn Hirzihmi. Sementara filsuf yang ia kunjungi adalah Ibnu Ruysd, bahkan ia terlibat dialog yang cukup mengesankan dengan beliau. 

Sebagaiman dikutip oleh Zuhry:
Kemudian ia (Ibnu Rusyd) melontarkan satu pertanyaan “solusi apa yang telah kamu ketahui dari hasil kasyf dan ilhammu? Apakah ia sejajar dengan hasil pemikiran spekulatif” aku jawab”, “ya dan tidak”. Di diantara ya dan tidak ini, tidak ada arwah akan terbang jauh diatas meteri dan leher-leher akan terpisah dari tubuh-tubuhnya.

Meski tidak ada penjelasan yang spesifik tentang konteks dari pembicaraan ini, tetapi ini menunjukkan posisinya dalam berhadapan dengan filsuf. Ia menjawaban “ya dan tidak”. Jawaban “ya” dapat diartikan bahwa Ibnu ‘Arabi mengakui dirinya memperoleh pengetahuan tentang masalah ilham langsung dari Tuhan dalam sebuah “pencerahan” dan fath. Namun segera ia menambahkan “tidak”, yang menunjukkan bahwa pengetahuan tersebut sama sekali berbeda dengan pengetahuan yang diperoleh Ibn Rusyd dalam pemikiran spekulatif.

Namun demikian, bagi ‘Arabi para filosof dan teolog telah menipu diri dengan mengira bahwa mereka dapat mengetahui esensi (zat) Tuhan hanya dengan memikirkannya. Kerena ketidak mampuan akal dalam memahami tanzih dan tasybih, mereka mencoba menakwilkan ayat - ayat al-qur’an yang berbicara tentang Tuhan dalam batas - batas makhluk. Jika mereka dapat melihat dengan mata penyingkapan, mereka akan mengakui bahwa Tuhan mengungkapkan sifat penyingkapan diri-Nya sendiri melalui ayat-ayat al-qur’an. 

Tirai Disingkap
Setelah Ibnu ‘Arabi menjelaskan bagaimana Tanzih dan tasybih Tuhan, dan keberhasilannya mengurai benang kusut antara teolog dan filsuf. Ia memberikan preskripsi bahwa manusia mencapai Tuhan hanya melalui tajalli (penyingkapan, teofani, penyerupaan) Tuhan pada diri manusia. Dengan kata lain wujud tidak hanya berarti “menjadi” atau “mengada”, melainkan juga “menemukan” dan “ditemukan”. Ketika diterapkan pada Tuhan, kata itu berarti bahwa Tuhan ada dan mustahil tidak ada, dan bahwa dia menemukan diriNya sendiri. Wujud bukan hanya menunjukkan eksistensi, melainkan juga pengetahuan, keinsafan, dan kesadaran.

Pemaknaan realitas tunggal sebagai kesadaran diri berarti ia menemukan dirinya sendiri dan dalam menemukan diri sendiri itu ia mengetahui kemungkinan-kemungkinan perluasan dan penyebarannya sendiri yang tak terhingga.

Engkau tidak akan mengetahui sesuatupun tentang Tuhan kecuali melalui apa yang Dia tunjukkan pada kita dan dia semayamkan di dalam dirimu baik melalui ilham maupun ketersingkapan dari pernyataan diri Tuhan.

Jika ditelusuri pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arofa rabbahu” bahwa barang siapa yang mengenal dirinya akan mengenal Tuhannya. Dengan mengenali diri seorang hamba akan mampu mengenal Tuhan sesuai dengan penyingkapan diri-Nya, namun tidak dapat mengenalnya dalam keesaan zat-Nya. 

Diri manusia tidak cukup untuk tahu esensi Tuhan. Hal ini sejatinya akan membawa pada bahwa ketika seorang hamba memuja Tuhannya, sesungguhnya dia sedang memuja dirinya sendiri. Dia memuja Tuhan sesuai dengan penyingkapan dirinya-Nya pada jiwa, itu terbatas dan terumuskan oleh jiwa. Ini juga sekaligus menunjukkan bahwa hamba tidak dapat memuja sesuatupun selain Tuhan, karena apapun yang dipuja oleh seseorang adalah penyingkapan diri Tuhan pada diri. 

Untuk membuat pemahaman yang gamblang Ibnu ‘Arabi menyampaikan analogi yang pernah dikatakan oleh Junaid al-Bagdadi :Junaid mengatakan “Warna air sesuai dengan warna gelasnya”, maka demikian pula halnya dengan penyingkapan diri yang mengambil tempat di dalam locus pengejawantahan. Seorang Gnostik dapat  menangkap hal ini secara konstan. Dia senantiasa mengalami penyingkapan diri secara konstan pula: Seorang Gnostik tahu bahwa dia menyatakan diri dan mengapa menghendakinya. Namun, bagiamanapun juga, hanya yang nyata yang mengetahui Dia menyatakan-diri.

Perpijak dari analogi diatas, cara pandang masing-masing orang menjadi penting  bahkan sebuah kemutlakan, karena tentu masing-masing orang punya gelas yang berbebeda untuk mengambil air pada kolam yang sama. Jadi, tidak ada dua orang yang memiliki argumen yang sama tentang Tuhan, karena satu keadaan mustahil di jumpai dalam diri dua orang. 

Inilah Tuhan yang mengejawantahkan diri-Nya pada jiwa. Pengejawantahan diri itu berbeda dari apa yang dialami oleh jiwa lain. Tuhan yang saya kenal melalui pengenalan diri saya adalah Tuhan dalam keimanan saya sendiri. Jadi jelas bahwa akar dari eksistensi pengetahuan tentang Tuhan adalah pengetahuan tentang diri, diri adalah lautan tak bertepi sehingga pengetahuan tentangnya tidak memiliki akhir. Dengan kata lain tidak ada pengetahuan akhir tentang Tuhan. Tetapi lagi-lagi pengetahuan diberikan melalui penyingkapan ilahi.

Ibnu ‘Arabi “Pontang-Panting”
Penyingkapan Tuhan bukanlah barang “murahan” yang berserakan dimana-mana. Untuk mendapat pencerahan dari Tuhan harus melalui pertobatan (tawbah) yang sungguh-sungguh. Ibnu ‘Arabi memulai langkah ini sejak usianya masih belia, 20 tahun. Ia mengawalinya dengan kesadaran, bahwa selama ini ia terlalu terlena oleh dunia. Ia melakukan penyesalan terdalamnya dan benar-benar ingin berubah.

Dan tak lama, Ibnu ‘Arabi mendapat pencerahan (fath). Fath berarti “pembukaan”, “keterbukaan” atau “ketersingkapan”. Ketersingkapan ini menunjukkan adanya suatu rahasia yang datang dari sesuatu yang lain diluar diri seseorang. Dalam kasus ‘Arabi, fath datang dari Tuhan, ia pun semakin mantap untuk menempuh jalan tasawuf.   

Menurut pengakuannya selama memperoleh fath, pada saat yang bersamaan ia juga mengalami jadzbah atau ekstase. Dalam kondisi jadzbah, ia sering kehilangan kesadaran dan akal sehatnya karena kekuatan Tuhan yang datang tiba-tiba dan tidak terduga. Jadzbah biasanya dialami seorang sufi yang telah mencapai maqam yang tinggi dalam tasawuf. Namun Ibnu ‘Arabi telah mengalami itu lebih dini.  

Dalam upayanya mengenal Tuhan berkali-kali dihantui kegagalan. Perkenalannya dengan Tuhan ia alami begitu sendiri tanpa kehadiran siapapun. Ia bahkan tidak memiliki seorang guru yang membimbingnya. Satu-satunya guru yang memperkenalkannya kepada Tuhan adalah Nabi ‘Isa yang ditemui dalam mimpi, dan bukan secara fisik sebagaimana umumnya para sufi. Untuk mengenal Tuhan ia tidak punya apa-apa, selain kesungguhan dan usaha keras dalam beribadah.

Ibnu’ Arabi kemudian memutuskan untuk meninggalkan seluruh kekayaan dan memilih menjadi orang miskin yang tidak memiliki apa-apa selain pengabdiannya kepada Allah. Pada saat itulah ia mulai mencicipi manisnya pengabdian murni kepada Allah tanpa terikat dengan apapun di dunia. Ia telah melakukan pengabdian tertinggi yaitu penyerahan absolute pada Tuhan tanpa embel-embel kepemilikan apapun. 

Dalam beberapa karyanya, ia mengaku telah melakukan pelepasan total dari segala atribut yang dimiliki seorang hamba dan satu-satunya yang dia miliki adalah status ontologisnya sebagai “hamba” dan bukan yang lain. Bahkan ia sedikit “congkak” dengan mengaku bahwa tak ada satupun sufi yang telah mengalami pencapaian sebagai mana yang ia lakukan.

Ia juga mengkui bahwa dalam menjalani itu semua kerap dihadang cobaan. Cobaan paling berat adalah setelah megalami fatrah yaitu merasa ditinggalkan oleh Tuhan. Fatrah adalah masa-masa diskontinuitas seorang sufi dengan Tuhan. Momen ini adalah momen paling genting dan menyakitkan bagi seorang sufi karena Tuhan yang ia cintai telah meninggalakan dirinya. Tetapi setelah mengalami masa fatrah perjalanan tasawuf Ibnu ‘Arabi semakin mudah. Beberapa kali ia mendapatkan anugrah. Misalnya, pada 586, di Kordoba, ia bermimpi bertemu dengan para nabi dan rasul.

Pengalaman-pengalamn semacam itu, membuat Ibnu ‘Arabi yakin bahwa Tuhan tidak bisa dikonsepsikan dengan pikiran, ia menyadari betapa terbatasnya wacana manusia yang berbicara tentang Tuhan. Dari sinilah ia kemudian mengkritik para teolog dan filsuf dan memberikan pandangan ketuhannya sendiri.

Kesimpulan
Jelas, bahwa lilin Ibnu ‘Arabi dalam dunia tidak padam dan bahkan tidak akan pernah padam, dan selalu menyinari ruang abu-abu antara hamba yang tasybih dengan Tuhan yang Tanzih. Klasifikasi itu semata untuk memudahkan kita dalam memahami bahwa ada realitas ultim yang mendasari dari segala yang ada di semesta ini. Karena yang ultimi begitu sempurna dan suci, maka pikiran manusia tidak akan pernah sampai padanya. Tak ada satu definisi yang mampu menjelaskan zatnya (Laysa Khamislihi Syaiun). Dengan kata lain hanya apabila Tuhan menyingkapkan diriNya manusia mampu mencapainya. 

Sebagai hamba mereka tidak akan menyengutukkan Allah dengan yang lain. Yang Wujud Hanya Allah. Akan tetap mengenali Asal Usul Dirinya dan mengembalikan Hak Allah yang diberikan kepadanya yaitu jasad & ruh dengan sempurna ( tidak akan memisahkan ruh & jasad atau SeZat-kan dirinya ).
Akan menjadi CERMIN BERKILAP bagi Allah dan menjaga RAHASIA dan AMANAH ALLAH serta mengembalikan rahasia dan amanah itu kepada Allah bila tiba masanya.
Menjalankan SYIAR ALLAH
Allah pula berjanji :
Ruh akan diberi Jasad sesifat dirinya ( ruh). Urusan kehidupan ruh didunia adalah semata-mata urusan Allah dan perbuatan manusia adalah Af’al Allah semata-mata.