Total Tayangan Halaman

Sabtu, 31 Agustus 2013

Imam Ghozali, Mengenal Allah

Imam Ghozali, Mengenal Allah
Silakan di Share agar lebih banyak orang yang ikut membaca:

Imam Ghozali memiliki karya yang sangat terkenal, yaitu Ihya’ Ulumuddin, sel ain itu dia pula mempunyai karya yang lain: “Munqid min Dhalal, Maqashid Falasifah, Tahafut Falasifah, Iqtishad fi I’tiqad, Jam Awam’an ‘Ilm Kalam, Mi’yar ‘Ilm, Al-Mustashfa (ushul Fiqh), Minhaj “Abidin, Kimia’ Sa’adah, Risalah Laduniyyah, Misykat al-Anwar, Madhmun bih ‘ala Ghair Ahlil, Maqshid Asna fi Syarkh Asma’ Allah al-Husna, dll. Karya Imam Ghozali sangat banyak  dan semuanya bermanfaat. Sementara menurut Ibn Khallikan Ihya’ Ulumuddin dipandang sebagai karya Imam Ghozali yang paling bagus serta luas. Karya Imam Ghozali tersebut menjadi semacam babakan baru dalam sejarah kehidupan pemikiran serta rohaniah Islam.
Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin, Ilmu Tasawuf  terbagi menjadi dua: Tasawuf sebagai ilmu Mu’amalah, inilah yang diuraikan dalam Ihya’ Ulumuddin. Kedua, ilmu Tasawuf sebagai ilmu mukasyafah, menurut Imam Ghozali, ilmu ini tersendiri serta tidak boleh dituliskan. Sebagaimana kata Imam Ghozali , “Fana ialah salah satu tingkatan ilmu mukasyafah. Dari dirinya muncul imajinasi orang yang menyatakan terjadinya hulul  atau penyatuan dan yang menyatakan: Aku inilah Yang Maha Benar!……ini benar-benar keliru, seperti kelirunya orang yang mem vonis cermin sebagai merah hanya karena memantulkan warna merah.”
Mengenai Tauhid, Imam  Ghozali membaginya menjadi empat.
Pertama Tauhid seorang yang menyatakan Tidak ada Tuhan kecuali Allah, sementara kalbunya melalaikan makna ucapakannya, tauhidnya orang munafik.
Kedua, Tauhid yang membenarkan makna ungkapan-ungkapan Syahadat, tauhidnya orang-orang awam.
Ketiga, Tauhidnya orang yang menyaksikan kebenaran ungkapan tersebut secara kasyf dengan cahaya Yang Maha Benar, tauhidnya orang-orang yang  akrab dengan Allah, para muqorrobin.
Keempat tauhid seorang yang tidak melihat dalam wujud kecuali hal yang tunggal, tauhidnya orang-orang yang benar, para shiddiqin, para sufi menyebutnya kefanaan dalam tauhid.
Kebahagiaan, Imam  Ghozali berpendapat, dalam Kimia’ al-Sa’adah, “Seandainya Anda memandang kearah ilmu, anda niscaya melihatnya bagaikan begitu lezat.  Sehingga ilmu itu dipelajari karena manfaatnya. Anda pun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat  serta kebahagiaanya, dan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Namun hal ini mustahil tercapai kecuali dengan ilmu tersebut. Dan yang paling tinggi peringkatnya, sebagai hak umat manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut yaitu amal, yang mengantarnya kepada kebahagiaan tersebut, dan kebahagiaan tersebut mustahil tercapai kecuali dengan ilmu serta amal. Dan ilmupun tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu cara beramal. Jadi asal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu sebenarnya ilmu.
” Kelezatan khusus kolbu adalah pengenalan terhadap Allah, dan kalbu memang tercipta untuk mengenal Allah. Kelezatan tertinggi dan terluhur pengenalan terhadap Allah. Manusia tidak hanya menikmati kelezatan pengenalan terhadap Allah setelah meninggal dunia saja, tapi diapun bisa menikmatinya ketika dalam keadaan sadar, yaitu ketika dia mampu menyaksikan berbagai hakekat realitas tertinggi, dan kepadanya pun alam malakut disingkapkan. Semua ini mustahil tercapai kecuali dengan keterpalingannya dari berbagai pesona materi, ilusi, serta kelezatan yang fana.” Kata Imam Ghozali.
Apa Anda sependapat dengan Imam Ghozali?


ILMU TASAWUF

ILMU TASAWUF

Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.
Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.
Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .
Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.
Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak
Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”
Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.
Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.

Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).
Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.

Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.

Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.
Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.
Ilmu Tasawuf itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.
Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.
Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.

Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
Firman Allah yang artinya,

[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.

[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47) http://sufismenews.blogspot.com/

ILMU PAPPEJEPPU SEBUAH TASAWUF VERSI BUGIS

ILMU PAPPEJEPPU SEBUAH TASAWUF VERSI BUGIS



Oleh : Muh.Risani.Syam.


Jati diri suatu suku bangsa, ditentukan oleh budaya suku bangsa itu, begitu pula halnya dengan Suku Bugis. Budaya yang menjiwai orang orang Bugis, bukan hanya menyangkut, adat istiadat, atau hubungan antar sesama manusia,tapi juga hubungan manusia dengan Tuhannya. Gabungan dua kutub , yaitu hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhannya, menyatu dalam jiwa manusia Bugis sebagai perwujudan budaya,dalam kehidupan. Ada satu hal pemahaman dalam budaya mereka ketika ia berdiri pada sebuah keyakinan dengan memegang prinsip bahwa ; Seddimi Tau, Watanna mi maega artinya, Pada hakikatnya manusia hanya satu, hanya raganya yang banyak. Rupanya pemahaman inilah yang kemudian melahirkan sebuah bentuk ilmu tasawuf versi Bugis, yang disebut Ilmu Pappejeppu. Pengertian seddimi tau atau manusia hanya satu, hanya dipahami oleh orang orang yang mengenal dan yang mendalami ilmu pappejeppu, Didalam ilmu pappejeppu, dikenal bahwa dalam diri manusia, disamping raganya, juga terdapat ROH dan NYAWA, didalam ilmu Pappejeppu, dipahami bahwa ROH adalah percikan cahaya yang terpolarisasi dari Nur Ilahi, sedang NYAWA adalah seberkas percikan cahaya yang terpolarisasi dari NUR Muhammad, polarisasi kedua cahaya tersebut kemudian bersinergi, yang melahirkan letupan yang disebut NAPAS. Peranan dan manifestasi Napas inilah yang kemudian menjadi inti ajaran ilmu pappejeppu. Dari napas tersebut kemudian memancarkan lagi gelombang magnetis ke berbagai cakrawala dari segala penjuru alam pemikiran manusia, yang kemudian melahirkan cabang cabang tempat bertenggernya ilmu pengetahuan (Science), Ilmu Pappejeppu, Ilmu Mistik, dan Ilmu mantera. Khusus untuk ilmu mistik, dan ilmu mantera, semuanya tidak terlepas dari peranan napas. Walaupun hal ini nampaknya luput dari perhatian baik yang mendalami Ilmu Tasawuf atau Sufisme, ataupun ilmu pappejeppu itu sendiri. Korelasi napas yang terpolarisasi, kedalam bentuk ilmu Mistik, dan ilmu mantera, juga memberikan inspirasi, dan analisa, bahwa peranan napas pada setiap, manusia telah memberikan keyakinan prinsip seddimi Tau atau hanya satu manusia, bagi pengamal ilmu pappejeppu, hal ini oleh penulis mencoba mengungkap, pada buku ini, pada bagian lainnya. Rupanya prinsip seddimi tau atau manusia hanya satu, kurang disosialisasikan pada masyarakat umum, hal ini mungkin karena perinsip ini memilki nilai filosofi yang mendalam sehingga tidak mudah dicerna oleh orang yang tidak memahami ilmu pappejeppu. Selanjutnya bahwa Ilmu Pappejeppu ini telah dikenal dikalangan orang Bugis, jauh sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah daerah Bugis, masuknya ajaran Islam yang, diiringi masuknya, ajaran tasawuf dari berbagai aliran Sufi, juga banyak mewarnai Ilmu Pappejeppu dalam berbagai kesamaan pandangan, namun disisi lain juga banyak perbedaannya. Ketika Ilmu Tasawuf Sufisme, menuntut manusia untuk hidup penuh kepasrahan, dan hidup Zuhud, maka orang Bugis dengan ilmu pappejepu yang dimilkinya, justru ia harus bangkit, dan berjuang, untuk melawan kepasrahan dan nasib, “ “ “(Sebagaimana Fiirman Allah SWT yang menyatakan Inna Laha La yugayirru ma bi kaomeng, hatta yugayiru ma bi anfusihim, artinya, Tidaklah berubah nasib seseorang atau kaum kecuali ia yang merubahnya,) “ hal ini guna meningkatkan kwalitas hidupnya di dunia, dan kwalitas hidup (ROH) yang ada pada dirinya ketika ia kembali ke Rahmatullah, sehingga orang orang yang memahami betul ilmu Pappejeppu, ketika ia menghadapi sakratul maut dengan berani berkata bahwa, nyawa saya tidak akan saya lepas kalau hanya suruhannya ( Malaikatul Maut) yang datang menjemput, kecuali dirinya, sama seperti ketika aku lahir ke Bumi melihat cahaya Dunia. Ilmu Pappejeppu bukanlah sebuah ilmu untuk diketahui, tapi sebuah ilmu hanya untuk dipahami. Sebagaimana pemahaman Ahli Pappejeppu, bahwa Allah SWT, ia tidak mau diketahui, hanya ia mau dipahami.

Bangkitnya orang Bugis untuk menentukan nasib ditangannya, tidak terlepas dari sebuah perinsip hidup yang menjiwai mereka yang mengatakan , Resopa temmangingngi malomo naletei pammase Dewata artinya : Hanya dengan kerja keras secara terus menerus tanpa kenal putus asa, akan mendapatkan Rachmat dari Allah SWT. Oleh karena itu ilmu Pappejeppu bagi orang Bugis bukanlah ilmu Tasawuf yang menghanyutkan manusia masuk kedalam Taqarrub untuk bertajalli, sebagai tujuan hidup, yang tidak lagi memperdulikan kehidupan disekelilingnya. Dan pandangan mereka terhadap orang orang yang hanyut dan tenggelam dalam taqarrub untuk bertajalli akan menjadikan manusia tersebut hanya menjadi beban dunia. Sebaliknya dalam ilmu pappejeppu Justru ber tajalli dalam ilmu Pappejepu bukan tujuan, tapi ia merupakan pegangan dan bekal manusia Bugis dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Salah satu pengertian ilmu pappejeppu tidak hanya berada dalam alam gaib, yang tidak memiliki wujud realita tertentu, dan hanya dapat dihayati dan direnungkan dalam aktivitas narasi manusia, tapi juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mewujudkan sesuatu yang bermanfaat, atau sesuatu yang dapat dipetik hasilnya dari hasil Pappejeppu yang bersumber dari pemahaman interaksi antara manusia dengan Tuhannya. Perbedaan lain antara ilmu tasawuf atau Sufisme dengan ilmu Pappejepu, dimana sebelum memasuki ajaran ilmu Tasawuf atau Sufisme,terlebih dahulu seseorang harus masuk kedalam salah satu aliran Tariqat, katakanlah aliran Tariqat yang paling populer di Indonesia adalah aliran Naqsyabandiah, bahwa seseorang yang masuk kedalam aliran Tariqat ini, terlebih dahulu ia harus di bay’at, sebagai bentuk kesetiaan dan kepatuhan yang mengikat dirinya terhadap Mursyid atau syaikh, maupun terhadap aliran itu. Disamping itu dalam ajaran sufisme manusia hanya dituntun untuk melakukan berbagai bentuk dzikir, utamanya dzikir yang menyangkut IZMU JALALAH, dengan berbagai metode dan latihan. Sedang dalam menuntut ilmu Pappejeppu, NAPAS adalah merupakan mediator satu satunya seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Begitupula hubungan antara murid dan guru tidak ada suatu keterikatan, atau terhadap mursyid maupun terhadap aliran, karena ilmu pappejeppu tidak memiliki aliran, hanya satu hal yang menjadi Sumpah seseorang murid terhadap mursyidnya adalah sang murid dilarang keras mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun tanpa ada izin dari mursyid. Dalam ilmu pappejeppu, sebenarnya tidak dikenal Guru dan Murid, seseorang yang mengajarkan dengan menunjukkan jalan tentang tata cara Pappejepu, hanya sebuah panggilan, untuk berbagi ilmu.