Total Tayangan Halaman

Kamis, 05 Januari 2012

Wujud sempurna sama sekali tak bergantung pada sesuatu yang lain

Wujud sempurna sama sekali tak bergantung pada sesuatu yang lain sedangkan wujud tak sempurna bergantung pada yang lain. Poin ini merupakan mukadimah untuk menegaskan bahwa Wâjibul Wujûd (kemestian ada) tidak berupaya mencapai suatu tujuan tertentu dalam menciptakan. Yang Maha Kuat dan Maha Kaya (tak membutuhkan sesuatu)?. Suatu wujud bisa dikatakan yang Maha Kuat dan Maha Kaya, jika tidak bergantung pada selain dirinya dari tiga aspek: zat, sifat hakiki, kesempurnaan hakiki yang terkait dengan zat. Oleh karena itu, setiap wujud yang butuh dan bergantung kepada wujud lain dari dimensi zat, sifat hakiki, dan kesempurnaan (seperti bentuk, ilmu, kodrat, keindahan) ialah wujud yang tak sempurna, fakir, dan bukan “maha”.
Menurut Ibnu Sina, "Perlu diperhatikan bahwa setiap pelaku yang apabila melakukan suatu perbuatan maka dia akan menjadi lebih baik atau mengerjakan sesuatu baginya lebih baik daripada tidak melakukannya, jika perbuatan itu tidak dilakukan dan dia tak menciptakan sesuatu itu maka secara riil dia akan kehilangan kebaikan dan kesempurnaan, yakni dia tak memiliki kesempurnaan tertentu dan untuk memperolehnya ia mesti berusaha. Wujud yang membutuhkan upaya untuk mencapai suatu kesempurnaan tak bisa dikategorikan sebagai Wâjibul Wujûd, karena wujud seperti itu adalah wujud yang tak sempurna dan wujud yang tak sempurna bukanlah Wâjibul Wujûd. Dengan demikian, hal-hal yang berkaitan dengan Wâjibul Wujûd dan perbuatan-perbuatan-Nya sama sekali tidak bisa berhubungan dengan pencapian dan perolehan segala bentuk kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan".
Apabila manusia beranggapan bahwa wujud yang tinggi dan sempurna berusaha melakukan sesuatu di alam yang lebih rendah bagi wujud-wujud yang tak sempurna demi mencapai suatu tujuan kebaikan dan kesempurnaan bagi zat dan dirinya sendiri, maka anggapan itu keliru besar. Bahwa perilaku seperti itu bagi wujud yang tinggi dan sempurna merupakan suatu kebaikan, dan wujud sempurna itu akan tergolong sebagai pelaku yang baik, karena perbuatan seperti itu adalah kebaikan dan keindahan. Dari sisi ini mesti dipahami bahwa wujud sempurna melakukan sesuatu dikarenakan kelayakan kesempurnaan, keindahan, dan keagungan zat-Nya.
Jika wujud tinggi itu disimbolkan sebagai “tuhan”, sangatlah tidak rasional menganggap “tuhan” melakukan atau menciptakan sesuatu dikarenakan untuk mencapai dan memperolah sesuatu dibaliknya. Terkadang hal itu dilegitimasi dengan dalil perbuatan-perbuatan yang mesti “tuhan” lakukan karena mengandung tujuan bagi zat-Nya. Hal ini tidaklah benar, karena kalau demikian halnya maka Wâjibul Wujûd adalah wujud tak sempurna yang terus mengejar kesempurnaan dan kebaikan, sementara Wâjibul Wujûd dari sisi zat dan sifat-Nya sama sekali tidak mengandung kekurangan dan kelemahan. Maka dari itu, kita tidak bisa memandang keberadaan arah dan tujuan bagi kesempurnaan zat-Nya dalam segala perbuatan-Nya, bahkan Wâjibul Wujûd `adalah tujuan dan arah bagi segala wujud alam. Dalam konteks linguistic Dia bukanlah “tuhan” tapi Tuhan
Perbuatan Tuhan, adalah suatu bentuk "pemberian (al-jaud)" .Dalam pemberitaan (dalil), Tuhan sama sekali tidak mengandung satu maksud dan tujuan, karena Dia tidak dikatakan sebagai Maha Pemberi (Jawâd), bahkan disebut sebagai "Pencari Untung" jika demikian.
Sebagian teolog beranggapan bahwa Wâjibul Wujûd sebagai Pelaku Sempurna yang walaupun tak membutuhkan segala sesuatu, namun perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya disebabkan untuk kepentingan dan manfaat makhluk-makhluk-Nya, yakni tujuan-Nya adalah memberikan manfaat kepada yang lain, bukan Tuhan yang mengambil manfaat dan keuntungan dari perbuatan-Nya sendiri.
Untuk anggapan itu, Ibnu Sina menjawab "Memberikan manfaat kepada yang lain, jika dipandang sebagai tujuan bagi Wâjibul Wujûd maka tetap sebagai pertanda akan kelemahan dan kekurangan-Nya. Oleh karena itu, mustahil Tuhan sebagai wujud maha sempurna memiliki tujuan. Wujud yang tinggi dan sempurna tak mungkin melakukan sesuatu disebabkan oleh wujud-wujud yang rendah, sedemikian sehingga perbuatan-Nya itu bagi diri-Nya diletakkan sebagai tujuan,
Dengan demikian, jika suatu perbuatan mengandung tujuan maka pastilah mengandung kebaikan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, kalau Tuhan melakukan suatu perbuatan untuk manfaat makhluk dan Dia memiliki itu sebagai suatu kebaikan bagi diri-Nya, maka dipandang Dia mendapatkan keuntungan dari perbuatan-Nya. Dan bukan sebagai Pemberi Hakiki. Kesimpulannya, Pemberi Hakiki tidak memiliki tujuan dalam segala perbuatan-Nya dan secara mendasar wujud sempurna tidak menetapkan wujud rendah itu sebagai tujuan dan arah bagi perbuatan-perbuatannya".
Lanjut di edisi (2)-nya?
*Dikutip dari berbagai sumber

Selasa, 03 Januari 2012

Penetapan Wujud Non-Materi

 

Eksistensi tidak hanya terbatas pada materi dan realitas yang terindera. Dasar argumentasinya berpijak pada perkara-perkara yang bersifat universal (al-Kulli), artinya; "Kita bisa memahami suatu hakikat universal yang memiliki eksistensi eksternal dengan menelaah hal-hal yang partikular, namun realitas eksternal ini bukanlah realitas materi yang dapat diindera. Dan terkadang kita mendengar sebagian orang yang memiliki pikiran keliru dan menyangka bahwa eksistensi adalah indentik dengan wujud-wujud materi yang terindera. Dengan demikian, wujud-wujud non-materi tidak memiliki eksistensi hakiki”
Apabila kita menelaah secara serius dan sistematik benda-benda materi, maka kita akan memahami kesalahan pikiran kita. Terkadang kita menggunakan kata yang sama untuk sebagian benda, seperti penggunaan kata manusia yang mencakup individu-individu yang berbeda (iwan, wawan, zakwan dll). Penggunaan kata ini bukan semata-mata bersifat semantik, melainkan menceritakan suatu kenyataan hakiki. Apakah hakikat manusia yang terdapat dalam pikiran yang memiliki wujud eksternal atau bukan?.

Apabila makna universal ini (manusia) kita katakan sebagai maujud non-materi, maka perkataan ini mendukung dan membuktikan suatu hakikat dan wujud non-materi. Namun kalau kita mengasumsikan makna universal (manusia) ini sebagai wujud materi, maka wujud materi ini harus memiliki sifat-sifat tertentu seperti ukuran, tempat, dan kondisi yang dengan sifat-sifat ini ia dapat terindera. Setiap wujud yang memiliki sifat dan karakteristik tertentu tidak dapat diterapkan pada individu-individu yang berbeda, karena sifat-sifat khusus itu hanya berlaku baginya, bukan untuk wujud yang lain. 
Oleh karena itu, makna manusia, dari sisi bahwa ia merupakan makna dan hakikat universal, merupakan suatu hakikat yang non-materi. Suatu hakikat yang berada di alam rasional kita. Bahkan semua hakikat universal merupakan maujud-maujud yang bersifat non-materi”. 
Bisa jadi ketika kita mengkaji realitas alam ini, maka secara hakiki kita bisa melihat bahwa yang sebenarnya disebut sebagai manusia ialah hal-hal partikular yang bersifat materi, yakni yang disebut manusia hanyalah individu-individu yang memilki tangan, mata, dan telinga lahiriah ini. Namun, jika kita berpikir bahwa manusia hakiki adalah manusia yang memiliki tangan dan kaki lahiriah. Bagaimana kemudian manusia universal itu juga memiliki tangan dan anggota badan lain, namun tangan dan anggota badan ini bersifat universal. Manusia universal seperti ini ialah wujud non-materi yang memiliki kenyataan eksternal dan hakiki.
Di samping itu, sebagian sifat-sifat wujud materi seperti rasa malu, cinta, takut, marah, dan lain-lain, merupakan sifat-sifat yang tidak dapat terindera dan bukan kategori imajinasi. Seluruh sifat itu terdapat pada diri manusia. Oleh karena itu, ketika kita mampu mengetahui sifat-sifat hakiki non-materi yang ada pada makhluk hidup, lantas bagaimanakah dengan wujud yang sama sekali tidak terkait dengan wujud-wujud materi? Dengan ungkapan lain, kita memahami keberadaan suatu hakikat yang berhubungan dengan alam materi, namun tidak bisa dicerap dengan indera dan khayal. Lantas bagaimana kita bisa mengetahui eksistensi hakikat-hakikat yang sama sekali tidak terkait dengan alam materi dan tidak berada dalam ruang lingkup materi.
Ibnu Sina menjelaskan bahwa semua wujud yang memiliki eksistensi eksternal dan hakiki, dari sisi hakikat zatnya sendiri adalah wujud non-materi, bahkan suatu hakikat tunggal yang non-materi. Dengan demikian, suatu maujud yang memberikan hakikat (yang non-materi itu) kepada seluruh wujud pastilah merupakan realitas yang lebih bersifat non-materi.

Minggu, 01 Januari 2012

Argumen Imkan (realitas eksistensi)


Argumen Imkan (realitas eksistensi)

Tuhan tidak gaib, yang gaib justru diri kita sendiri. Bahkan wujud Tuhan itu lebih jelas dan lebih bercahaya dari wujud-wujud apapun selain-Nya. Karena itu, ketika kita menggunakan berbagai argumen untuk membuktikan wujud Tuhan, maka sebenarnya adalah hanya untuk "mengingatkan" kita akan realitas hakiki tersebut.
Argumen yang dipergunakan untuk menelaah realitas eksistensi dan wujud eksternal dalam menegaskan eksistensi hakiki Tuhan di sini, adalah argumen imkan dan wujub. Argumen Imkan atau kontingen, merupakan salah satu argumen rasional yang paling kuat dalam membuktikan eksistensi Tuhan. Karena tak satupun manusia berakal menolak dan memungkiri eksistensi dirinya dan realitas wujud-wujud di alam ini. Sementara argumen ini secara prinsipil berpijak pada penerimaan realitas eksistensi dan wujud hakiki.
Jalan dan metode untuk menyingkap wujud Tuhan, sebanyak realitas wujud ciptaan-Nya. Karena Tuhan memiliki banyak sisi (nama dan sifat-Nya), sehingga setiap sisi-Nya merupakan jalan yang bisa digunakan oleh para sulukiy. Namun demikian, terdapat jalan yang paling kuat dan sempurna dibanding yang lainnya. Dalam hal ini, kita harus memilih argumen yang paling sempurna dalam menegaskan eksistensi Tuhan. Sebab, setiap argumen merupakan jalan menuju kepada-Nya dalam kerangka akal teoritis. Semakin sempurna argumen, maka semakin sempurna pula pandangan dunia tauhid. Apabila pandangan dunia tauhid seseorang telah sempurna, maka akan sempurna pula tujuan hidup dan hakikat wujudnya.
Sebelum wujud Tuhan itu dapat kita buktikan lewat argumen ini, akan dijelaskan secara terperinci beberapa pendahuluan dan pengertian yang mendasar berkaitan dengan argumen ini. Dengan memahami pendahuluan ini, akan mudah bagi kita mengikuti alur-alur argumen dan memahami secara benar premis-premisnya.
Beberapa hal yang dimaksud antara lain:
Pengertian wujud kontingen (mumkin al-wujud), Wujud Wajib (wajib al-wujud) dan wujud mustahil (mumtani' al-wujud);
Pengertian keniscayaan;
Prinsip kausalitas;
Kemustahilan daur dan tasalsul.