Total Tayangan Halaman

Sabtu, 31 Agustus 2013

Tentang Gradasi Wujud dan Gerak Substansi (TANYA JAWAB)

Tentang Gradasi Wujud dan Gerak Substansi Oleh Ustad SInar Agama
Oleh Anggelia Sulqani Zahra  (Berkas) · 
Muhammad Dudi Hari Saputra:

Salam Ustad.. yang bergradasi itu wujud atau mahiyah?
Kemudian gradasi itu sndiri apa Ustad?
Trakhir, Gerak substansi apakh pada mahiyah atau pada wujud?

Syukron ya Afwan..

Sinar Agama :

Salam dan trims pertanyaannya:

(1). yang bergradasi itu adalah wujud dan juga mahiyyah, tetapi yang umum adalah wujud, karena mahiyyah/esensi pada tahap tertentu sudah ditendang keluar gelanggang oleh Mulla Shadra ra.

(2). Gradasi itu adalah perbedaan wujud yang kembali kepada wujud itu sendiri.

(3). Substansi itu adalah bagian esensi/mahiyyah, jadi gerak substansi sudah tentu gerak esensi,.

SEmua ini sudah ditulis mungkin berkali-kali di cetatan, karena coba antum lihat rinciannya disana.

Muhammad Dudi Hari Saputra :

Syukron Ustad..
Dlm kaitannya tentang tasykik al wujud (gradasi wujud) dri wujud wajib menyebabkan adanya wujud mumkin,apkh melalui gerak/mengalir?
Jika iya, maka inilah kebingungan saya Ustad.. Apa yang mmbedakan antara gerak/mngalir nya wujud dengan gerak nya substansi?

Mohon penjelasannya Ustad.. Syukron

Sinar Agama :

Gerak itu adalah perubahan sesuatu yang mungkin ke sesuatu yang lain yang dimungkinkan itu dalam waktu (perlahan = dalam waktu). Kalau non materi bagaimana bisa bergerak?


Muhammad Dudi Hari Saputra :

Prnah dijelaskan bgini Ustad..
Perumpamaan gradasi wujud itu seperti air yang mengalir dan air yang mengalir td mengalami perbedaan kualitas (essensi) setelah berada disungai,selokan,sawah dan laut, tetapi perbedaan td bukan berasal dri luar tetapi kembali ke kesamaanya yaitu air..
Kmudian saya berusaha mnyimpulkan bhwa dalam wujud pun ad gerak yaitu seperti mengalir nya air td..

Mohon dikoreksi jika saya salah Ustad...
Dan kemudian mnyambung pembahasan kembali..
Jka gerak itu hnya ada pada essensi/tajalli..
maka bagaimana proses wujud yang 1/mutlak/universal kemudian bsa menjadi banyak/relatif/partikular?

 saya prnah dijelaskan kira2 bgini.. Bhwa pemahaman akal manusia tentang wujud yang bergradasi itu hnya ada pada realitas pahaman (wujud dzihni) tetapi pada realitas ekstensi (wujud mishdaq) itu satu dan tidak terbatas..
Dan kemudian Ustad..
 yang saya pahami bhwa essensi itu  adalah wujud pahaman manusia dalam memandang realitas wujud tetapi wujud itu sendiri secara realitasnya tidak mmiliki essensi (krn essensi hakikatnya  adalah pahaman akal manusia) dan karena realitas wujud adalah wujud itu sndiri maka mustahil dia plural dan particular..

dan ditahap ini saya sudah menendang essensi dri pahaman sy..
Nah kmudian saya mncoba memahami jika yang ad hnya wujud, lalu realitas yang bnyak ini sprti saya,dia,meja,kursi dll apkh juga wujud??
 saya jwb, iya dia ada (wujud) hnya sja ada2 yang saya sebut td adalah ada yang diadakan oleh yang lain (mumkin al-wujud) dan ada2 yang pernah tiada pastilah diadakan oleh ada yang lain yaitu ada yang pasti tidak diadakan oleh yang lain (wajib al-wujud)

Mohon dikoreksi Ustad jka pemahaman saya keliru..

Sinar Agama :

 tidak semua esensi itu, bergerak.Karena esensi non materi tidak bergerak. Esensi itu bukan tajalli. Kalau tajalli, jangan esensi, wujud esensi saja sudah ditolak mentah2.

Wujud yang bergradasi itu adalah wujud luar, bukan wujud dlam akal. Ngapain bahas kegradasian wujud kalau hanya di dalam akal saja? Makah antum mau bahas gunung emas yang hanya ada di pahaman antum???! Walau itu boleh2 saja, tetapi apa gunanya bagi kehidupan antum. Apakah dengan gunung khayal itu dpt menemukan Tuhan dan menemukan diri antum?

Tujuan akhir filsafat adalah menemukan Allah dan diri kita dan semua konsep filsafat itu dibuat untuk yang berguna supaya diaplikasikan. Bukan kerjaan yang tidak ada gunanya.

Muhammad Dudi Hari Saputra :

Afwan Ustad jika saya bertanya hal-hal yang teoritis ini..
Krn ini tuntutan hidup saya utk mncari kaidah filsafat yang benar2 tepat (krn saya sering ditanya mngenai filsafat oleh adik2/tmn2 saya dikampus) akn sgt bersalah saya jika salah dalam mnjelaskannya,afwan..bkn berarti saya mninggalkan yang praktis dri agama..Afwan Ustad.. :)

Sinar Agama :

Muh. Mengapa antum  seperti  orang baru kenal saja? Antum boleh bertanaya apa saja, filsafat kek, Kalam kek, sejarah kek, Qur an kek, fikih kek ... dst. tidak ada batasan di dinding alfakir ini. Yang penting saya bisa membantu, maka saya akan senang sekali dan bersyukur padaNya. sudah kubilang bahwa kata-kata "Salam dan trims pertanyaannya" itu bukan kata-kata basa basi. Saya benar2 berterima kasih karena ditanya. Smg saja Tuhan membantuku sebagaimana selama ini, amin.

Kalau merasa dari jawabanku ada kata-kata yang kurang berkenan, maka sayalah yang harus dimaafkan. Karena kadang, karena sudah merasa akrab maka saya tidak pakai basa basi. tetapi kadang mmg sengaja untuk mencubit supaya terhentak dari kekurang fokusan berfikir. tetapi maksud lain, i-Allah tidak ada. Semuanya i-Allah ditulis dalam kasih sayang. tetapi kasih sayang saya mmg kadang terasa pahit kalau dilihat dari daya-rasa/perasaan. Karena saya, kadang mengurangi perasaan manakala sedang disukusi tentang konsep2 akal. Jadi, maafkanlah selalu saya yang banyak kekurang ini. Hanya ini pintaku pada antum2 semua sebagai balasan jawaban2ku. Aku hanya minta dimaafkan, dan kalau boleh didoakan. tetapi kalau  tidak , maka cukuplah dengan maaf saja. Syukur kalau juga disertai doa2 karena mmg saya sangat memerlukannya.


Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 – 38

Tafsir Tasawuf (Sufi): Surah An-Nur ayat 35 – 38

Burung-burung
Maksud ayat:
“Allah (memberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan (bintang yang bercahaya) seperti mutiara yang menyalakan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya yang minyaknya sahaja menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis) Allah membimbing kepada cahayanya, siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahka untuk dimulakan dan disebut namanya di dalamnya, pada waktu pagi dan pada waktu petang, lelaki yang tida dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah dan dari mendirikan solat dan dari membayar zakat. Mereka takut pada suatu hari (yang dihari itu) Hati dan penglihatan menjadi goncang. Mereka yang mengerjaka demikian itu supaya Allah memberikan balsan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan, dan supaya Allah menambahkan kurnianya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki pada siapa yang dikehendakinya.” (An-Nur: 35-38)
1.1. Hakikat Cahaya
Kejelasan, penafsiran dan pengertian ayat misykat memberi bantuan yang amat besar dalam memahami persoalan hati dan perjalanan suluk.
Pada ayat pertama, komposisi atau komponen manusia diumpamakan dengan lubang yang tidak tembus dengan pelita dan kaca. Misykat adalah suatu lubang di dinding yang tidak tembus ke sebelahnya. Pelita sama dengan lampu, dan kaca adalah dinding yang menghimpun dan melingkupi pelita yang menerangi.
Perumpamaan ketiga-tiga komponen ini adalah perumpamaan dari manusia yang beriman yang padanya ada jasadnya, hatinya dan cahaya yang ada di dalam hati. Jasad diumpamakan dengan misykat, hati diumpamakan dengan kaca dan cahaya diumpamakan dengan pelita yang ada dalam kaca.
“Allah cahaya langit dan bumi”
Bermaksud; Dia adalah pemberi petunjuk (cahaya) kepada langit dan bumi; di mana tiada petunjuk di langit dan di bumi tanpa cahaya-Nya. Selanjutnya Allah mengumpamakan petunjuk-Nya sebahagian petunjuk bagi orang mukmin. Hidayah ditamsilkan dengan perumpamaan-perumpamaan, kebesaran dan kemuliaan hidayah-Nya menjadi jelas.
Jadi, misykat adalah jasad orang mukmin yang melingkupi hatinya, kaca ialah hati orang mukmin yang melingkupi cahaya hati yang merupakan petunjuk dari penunjuk bagi orang mukmin itu sendiri, sehingga dia mampu melihat hakikat segala sesuatu yang berjalan di atas hidayah dari Tuhannya dengan cahaya tersebut. Ini adalah Tahap Pertama dalam perumpamaan.
Tahap perumpamaan kedua ialah kaca yang melingkupi pelita atau hati yang melingkupi cahaya dan kebenderangan cahaya yang sangat cemerlang diumpamakan dengan bintang yang menerangi, di mana bintang itu diserupakan dengan mutiara kerana sangat cemerlangnya cahaya bintang tersebut.
Kita perhatikan di sini, perbincangan tentang kaca dan semua pelitanya atau tentang hati dan cahayanya, seluruhnya diumpamakan dengan bintang yang mutiara (al-Kaukub ad-Durriy) sehingga pelita itu mampu bersinar. Demikian pula kacanya, ia bersinar kerana cemerlang dan putih bersih.
Perumpamaan Tahap Ketiga ialah pelita ada dalam kaca, dari mana dan dengan apa kaca itu dinyalakan? Dari mana cahaya itu didapati? Bagaimana kecahayaan (nuraniyah) mampu berlangsung? Dengan ungkapan lain, cahaya itu ada di dalam hati, dari mana hati itu memperoleh nuraniah? Bentuk pertolongan bagaimana yang yang diberikan kepada hati atau yang diperolehinya hingga ia bernuraniah? Apa yang menimbulkan cahaya rohani tersebut?
Allah SWT berfirman yang dinyalakan, maksudnya yang dinyalakan adalah pelita yang ada dalam kaca atau cahaya yang ada dalam hati orang mukmin dinyalakan, “dengan minyak yang dari pohon yang banyak berkatnya atau yang banyak manfaatnya. Iaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur dan tidak pula di sebelah baratnya”. Sedangkan Zaitun ialah syariat Allah.
Menurut Ibnu Kasir, kejernihan, sinar atau nuraniah yang ada dalam diri seorang mukmin diumpamakan seperti dinding kaca yang jernih lagi murni seperti permata, sedangkan al-Qurán dan syariát diumpamakan seperti minyak jernih, baik, bercahaya dan seimbang tanpa ada sedikit pun keruh.
Perumpamaan terhadap keempat pohon yang penuh berkah merupakan sumber dari cahaya hati, adalah syariat Allah yang penuh manfaat, yang merupakan sumbe dari cahaya kalbu. Dari situlah kalbu mengambil cahaya. Berapa kadar besar minyaknya? Allah befirman:
“Yang minyaknya sahaja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api”
Minyak itu dinyatakan jernih dan bercahaya, kata an-Nasafi kerana kilaunya hampir-hampir bersinar tanpa ada api atau tanpa dinyalakan api. Kadar besar nuraniah syariat yang memberi cahaya pada hati? Dan betapa besar cahaya hati yang diperoleh dari sinaran cahaya syariat?
Demikianlah adanya, dan kerana itulah Allah berfirman:
“Cahaya di atas cahaya”
Ini adalah perumpamaan tahap kelima. Cahaya yang diumpamakan kebenaran itu, kata an-Nasafi, seperti yang bersatu yang berlapis-lapis yang mana di dalamnya terjadi interaksi antara (cahaya) misykat, pelita dan minyak. Sehingga tidak ada satupun yang tinggal untuk memperkuat benderangnya cahaya, kerana pelita yang ada di dalam tempat yang sempit menyerupai lubang yang tidak tembus, di mana ia mampu menghimpun dan memadukan seluruh cahaya. Hal ini berbeza seandainya di tempat yang luas, maka sinar cahayanya akan tersebar dan berserakan. Sedangkan (dinding) kaca merupakan suatu yang paling banyak menambah penerangan, demikian juga dengan minyak dan kebenderangannya.
Menurut Ibnu Kasir’As-Saddi yang pernah berkata tentang firman Allah tersebut, cahaya di atas cahaya adalah cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu akan memancarkan sinar, dan yang satu tidak akan memancarkan cahaya yang lain. Demikian pula cahaya al-Qurán dan cahaya iman bersatu padu.
Dengan demikian, perumpamaan yang Allah buat untuk menerangkan kebebasan hidayahNya telah sempurna, dan dari penjelasan tentang perumpamaan tersebut, kita tahu bahawa penunaian syariat Allah lah yang mampu memberikan cahaya iman yang abadi.
Selain itu, berdasarkan pendapat Ibnu kasir’As-Saddi juga, cahaya api dan cahaya minyak bila bersatu padu memancarkan sinar, dan tidak akan bersinar satu di antaranya tanpa yang lain. Demikian juga cahaya al-Qurán dan cahaya iman ketika bersatu padu, dan satu di antaranya tidak akan memancarkan cahaya tanpa yang lain.
Di sini, kita sudah mulai memahami bahawa kewujudan kandungan al-Qurán merupakan makanan yang kekal bagi kalbu, sebab dengan al-Qurán pelita hati akan tetap menyala terang dan akan tetap memperolehi petunjuk. Bertambahnya perpaduan cahaya hati dan pancarannya bergantung kepada kadar penunaian seseoang terhadap kandungan al-Qurán dan misykat atau jasad akan memantulkan cahaya ini sehingga jalan baginya menjadi terang dan juga bagi yang lain.
“Allah membimbing kepada cahaya-Nya kepada siapa yang dia kehendaki dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Maksudnya Allah membimbing kepada cahaya syariat-Nya atau Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki dari ahli Iman sehingga mereka memperolehinya dan mengikuti petunjuk yang diberikan kepada mereka.
Ayat berikutnya menjelaskan tentang tempat mereka yang hatinya dipenuhi cahaya dan hidayah:
“Di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di dalamnya.”
Ketika menerangkan ayat misykat (lubang yang tidak tembus) yang terdapat di sebahagian rumah Allah, iaitu masjid, an-Nasafi mengulas bahawa Misykat adalah jasad orang mukmin yang hatinya adalah mencintai masjid. Dapat disimpulkan bahawa titik tolak kepada pendidikan keimanan yang tinggi adalah masjid dengan cara menyucikan diri di dalam masjid pada waktu pagi dan pada waktu petang dengan melaksanakan solat di dalamnya. Ini adalah kerana mereka adalah lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula dari jual beli dari mengingat Allah, dari mendirikan solat, dan dari membayar zakat. Mereka takut pada satu hari (yang di hari itu) hati penglihatan menjadi goncang.


Adapun Tentang Makrifat

بسم الله الر حمن الر حيم Adapun Tentang Makrifat:
1. AWALUDIN MA’RIFATULLAH Artinya :Awal
agama adalah mengenal Allah.
2. LAYASUL SHALAT ILLA BIN MA’RIFAT
Artinya :Tidak syah shalat tanpa mengenal
Allah.
3. MAN ARAFA NAFSAHU FAKADE ARAFA
RABBAHU Artinya :Barang siapa mengenal
dirinya niscaya dia pasti akan mengenal
Tuhannya.
4. ALASTUBIRABBIKUM QOLU BALA
SYAHIDNA Artinya :Bukankah aku ini
Tuhanmu ? Betul engkau Tuhan kami,kami
menjadi saksi.(QS.AL-ARAF 172)
5. AL INSANNU SIRRI WA ANNALLAHU
SIRRUHU Artinya :Manusia itu rahasiaKU
dan akupun ALLAH rahasia baginya.
6. WAFI AMFUSIKUM AFALA TUBSIRUUN
Artinya :Aku ALLAH ada didalam Jiwamu
mengapa kamu sendiri tidak dpt melihat
(Q.s. Adz-Dzariyat:21)
7. WANAHNU AKRABI MIN HABIL WARIZ
Artinya :Aku ALLAH lebih dekat dari urat
nadi lehermu.
8. LAA TAK BUDU RABBANA LAM YARAH
Artinya :Aku tidak akan menyembah Allah
bila aku tidak melihatnya lebih dahulu.
9. INNAHU ALIMUN BIZATISH SHUDUR
Artinya: Sesungguhnya AKU ALLAH maha
mengetahui segala isi hati (Q.s AL
MULK:13).
10. WA HUWA MA AKUM AINAMA KUNTUM
Artinya: AKU ALLAH berada dimana saja
kamu berada. (Q.s AL HADID:4).
BAB III.
HAKIKAT NUR MUHAMMAD.
Alimul Fadhil H. Muhammad Zaini bin Abdul
Ghani al-Banjari (Guru Sekumpul) pernah
menyinggung dan menguraikan
pembahasan tentang salah satu tema yang
selalu aktual diperbincangkan dalam dunia
tasawuf, yakni wacana tentang ‘Nur
Muhammad’ dalam salah satu pengajian
beliau di Komplek al-Raudah Sekumpul
Martapura. Untuk membutiri kembali
pandangan tentang Nur Muhammad
dimaksud seiring dengan peringatan haul
beliau yang ke-5 tahun ini (5 Rajab 1431 H
─ 17 Juni 2010 M) berikut tulisan ini
dihadirkan guna pencerahan. Apakah yang
dimaksud dengan Nur Muhammad
tersebut?
Dalam kitab Hikayat Nur Muhammad
diceritakan bahwa tubuh manusia (anak
Adam) mengandungi tiga unsur, yakni
jasad, hati dan roh. Di dalam roh terdapat
hakikat, di dalam hakikat tersimpan
rahasia, rahasia itulah yang dinamakan
makrifah Allah. Di dalam makrifah pula ada
zat yang tidak menyerupai sesuatu pun.

 — bersama 

SIKAP HATI di hadapan Allah:

INI bukan soal salah atau benar. Tapi soal SIKAP HATI di hadapan Allah: antara orang yang ‘senang meminta’ dan ‘senang bersyukur’. Yang senang meminta, sedang menghadirkan ‘kesempitan hidup’ ke dalam jiwanya. Sedangkan yang senang bersyukur, sedang menghadirkan ‘kelapangan hidup’.

Apalagi, TERKABULNYA sebuah PERMINTAAN dalam doa itu ternyata banyak SYARATNYA. Yaitu: (1) hanya jika meminta kepada Allah, (2) hanya bagi yang memenuhi segala perintah-Nya, (3) hanya bagi yang beriman kepada-Nya, (4) Masih ditambah: mudah-mudahan sudah benar prosesnya. Yang demikian itu diceritakan dalam ayat berikut ini.

QS. Al Baqarah (2): 186
Dan jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku dekat. Aku MENGABULKAN permohonan orang yang berdoa APABILA ia memohon (hanya) kepada-Ku, maka HENDAKLAH mereka itu MEMENUHI (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka BERIMAN kepada-Ku, MUDAH-MUDAHAN mereka berada dalam (proses) yang benar.

BANDINGKAN dengan orang yang bersyukur. Allah tidak menuntut persyaratan apa pun. Bahkan langsung memberikan JAMINAN. Bahwa barangsiapa bersyukur, Allah PASTI akan menambah kenikmatan atas apa yang disyukurinya itu. Pokoknya, pandai bersyukur, pasti dapat nikmat..! Ga pakai minta, atau ‘nyuruh’, apalagi ‘mendikte’ segala … :( 

QS. Ibrahim (14): 7
Dan ketika Tuhanmu menginfomasikan: "SUNGGUH jika kamu bersyukur, PASTI Kami TAMBAH (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (kufur), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".

Hmm.., jadi bersyukur itu sebenarnya adalah sebentuk DOA dengan kemustajaban yang sangat tinggi. Jauh lebih mustajab dibandingkan dengan cara meminta-minta. Meskipun, tentu saja, semua itu boleh-boleh aja. Lha wong yang mengabulkan doa itu bukan saya, tapi DIA… :)

~ Salam ‘Berdoa dengan Cara Bersyukur’ ~

Imam Ghozali, Mengenal Allah

Imam Ghozali, Mengenal Allah
Silakan di Share agar lebih banyak orang yang ikut membaca:

Imam Ghozali memiliki karya yang sangat terkenal, yaitu Ihya’ Ulumuddin, sel ain itu dia pula mempunyai karya yang lain: “Munqid min Dhalal, Maqashid Falasifah, Tahafut Falasifah, Iqtishad fi I’tiqad, Jam Awam’an ‘Ilm Kalam, Mi’yar ‘Ilm, Al-Mustashfa (ushul Fiqh), Minhaj “Abidin, Kimia’ Sa’adah, Risalah Laduniyyah, Misykat al-Anwar, Madhmun bih ‘ala Ghair Ahlil, Maqshid Asna fi Syarkh Asma’ Allah al-Husna, dll. Karya Imam Ghozali sangat banyak  dan semuanya bermanfaat. Sementara menurut Ibn Khallikan Ihya’ Ulumuddin dipandang sebagai karya Imam Ghozali yang paling bagus serta luas. Karya Imam Ghozali tersebut menjadi semacam babakan baru dalam sejarah kehidupan pemikiran serta rohaniah Islam.
Imam Ghozali dalam Ihya’ Ulumuddin, Ilmu Tasawuf  terbagi menjadi dua: Tasawuf sebagai ilmu Mu’amalah, inilah yang diuraikan dalam Ihya’ Ulumuddin. Kedua, ilmu Tasawuf sebagai ilmu mukasyafah, menurut Imam Ghozali, ilmu ini tersendiri serta tidak boleh dituliskan. Sebagaimana kata Imam Ghozali , “Fana ialah salah satu tingkatan ilmu mukasyafah. Dari dirinya muncul imajinasi orang yang menyatakan terjadinya hulul  atau penyatuan dan yang menyatakan: Aku inilah Yang Maha Benar!……ini benar-benar keliru, seperti kelirunya orang yang mem vonis cermin sebagai merah hanya karena memantulkan warna merah.”
Mengenai Tauhid, Imam  Ghozali membaginya menjadi empat.
Pertama Tauhid seorang yang menyatakan Tidak ada Tuhan kecuali Allah, sementara kalbunya melalaikan makna ucapakannya, tauhidnya orang munafik.
Kedua, Tauhid yang membenarkan makna ungkapan-ungkapan Syahadat, tauhidnya orang-orang awam.
Ketiga, Tauhidnya orang yang menyaksikan kebenaran ungkapan tersebut secara kasyf dengan cahaya Yang Maha Benar, tauhidnya orang-orang yang  akrab dengan Allah, para muqorrobin.
Keempat tauhid seorang yang tidak melihat dalam wujud kecuali hal yang tunggal, tauhidnya orang-orang yang benar, para shiddiqin, para sufi menyebutnya kefanaan dalam tauhid.
Kebahagiaan, Imam  Ghozali berpendapat, dalam Kimia’ al-Sa’adah, “Seandainya Anda memandang kearah ilmu, anda niscaya melihatnya bagaikan begitu lezat.  Sehingga ilmu itu dipelajari karena manfaatnya. Anda pun niscaya mendapatkannya sebagai sarana menuju akhirat  serta kebahagiaanya, dan juga sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah. Namun hal ini mustahil tercapai kecuali dengan ilmu tersebut. Dan yang paling tinggi peringkatnya, sebagai hak umat manusia, adalah kebahagiaan abadi. Sementara yang paling baik adalah sarana ilmu tersebut yaitu amal, yang mengantarnya kepada kebahagiaan tersebut, dan kebahagiaan tersebut mustahil tercapai kecuali dengan ilmu serta amal. Dan ilmupun tidak mungkin tercapai kecuali dengan ilmu cara beramal. Jadi asal kebahagiaan di dunia dan akhirat itu sebenarnya ilmu.
” Kelezatan khusus kolbu adalah pengenalan terhadap Allah, dan kalbu memang tercipta untuk mengenal Allah. Kelezatan tertinggi dan terluhur pengenalan terhadap Allah. Manusia tidak hanya menikmati kelezatan pengenalan terhadap Allah setelah meninggal dunia saja, tapi diapun bisa menikmatinya ketika dalam keadaan sadar, yaitu ketika dia mampu menyaksikan berbagai hakekat realitas tertinggi, dan kepadanya pun alam malakut disingkapkan. Semua ini mustahil tercapai kecuali dengan keterpalingannya dari berbagai pesona materi, ilusi, serta kelezatan yang fana.” Kata Imam Ghozali.
Apa Anda sependapat dengan Imam Ghozali?


ILMU TASAWUF

ILMU TASAWUF

Pendapat KH Siradjuddin Abbas, dalam buku beliau “40 Masalah Agama” Jilid 3, hal 30.
Ilmu Tasawuf adalah salah satu cabang dari ilmu-ilmu Islam utama, yaitu ilmu Tauhid (Usuluddin), ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf.
Ilmu Tauhid untuk bertugas membahas soal-soal i’tiqad, seperti i’tiqad mengenai keTuhanan, keRasulan, hari akhirat dan lain-lain sebagainya .
Ilmu Fiqih bertugas membahas soal-soal ibadat lahir, seperti sholat, puasa, zakat, naik haji dan lain
Ilmu Tasawuf bertugas membahas soal-soal yang bertalian dengan akhlak dan budi pekerti, bertalian dengan hati, yaitu cara-cara ikhlas, khusyu, tawadhu, muraqabah, mujahadah, sabar, ridha, tawakal dan lain-lain.
Ringkasnya: tauhid ta’luk kepada i’tiqad, fiqih ta’luk kepada ibadat, dan tasawuf ta’kluk kepada akhlak
Kepada setiap orang Islam dianjurkan supaya beri’tiqad sebagaimana yang diatur dalam ilmu tauhid (usuluddin), supaya beribadat sebagaimana yang diatur dalam ilmu fiqih dan supaya berakhlak sesuai dengan ilmu tasawuf.

Agama kita meliputi 3 (tiga) unsur terpenting yaitu, Islam, Iman dan Ihsan
Sebuah hadits menguraikan sebagai berikut:
Pada suatu hari kami (Umar Ra dan para sahabat Ra) duduk-duduk bersama Rasulullah Saw. Lalu muncul di hadapan kami seorang yang berpakaian putih. Rambutnya hitam sekali dan tidak tampak tanda-tanda bekas perjalanan. Tidak seorangpun dari kami yang mengenalnya. Dia langsung duduk menghadap Rasulullah Saw. Kedua kakinya menghempit kedua kaki Rasulullah, dari kedua telapak tangannya diletakkan di atas paha Rasulullah Saw, seraya berkata,

“Ya Muhammad, beritahu aku tentang Islam.”
Lalu Rasulullah Saw menjawab, “Islam ialah bersyahadat bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad Rasulullah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan, dan mengerjakan haji apabila mampu.”
Kemudian dia bertanya lagi, “Kini beritahu aku tentang iman.”
Rasulullah Saw menjawab, “Beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir dan beriman kepada Qodar baik dan buruknya.”
Orang itu lantas berkata, “Benar. Kini beritahu aku tentang ihsan.”
Rasulullah berkata, “Beribadah kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya walaupun anda tidak melihat-Nya, karena sesungguhnya Allah melihat anda.
Dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang Assa’ah (azab kiamat).”
Rasulullah menjawab, “Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahu aku tentang tanda-tandanya.” Rasulullah menjawab, “Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” Kemudian orang itu pergi menghilang dari pandangan mata.

Lalu Rasulullah Saw bertanya kepada Umar, “Hai Umar, tahukah kamu siapa orang yang bertanya tadi?” Lalu aku (Umar) menjawab, “Allah dan rasul-Nya lebih mengetahui.” Rasulullah Saw lantas berkata, “Itulah Jibril datang untuk mengajarkan agama kepada kalian.” (HR. Muslim)
Tentang Islam kita dapat temukan dalam ilmu fiqih, sasarannya syari’at lahir, umpanya, sholat, puasa, zakat, naik haji, perdagangan, perkawinan, peradilan, peperangan, perdamaian dll.

Tentang Iman kita dapat temukan dalam ilmu tauhid (usuluddin), sasarannya i’tiqad (akidah / kepercayaan), umpamanya bagaimana kita (keyakinan dalam hati) terhadap Tuhan, Malaikat-Malaikat, Rasul-Rasul, Kitab-kitab suci, kampung akhirat, hari bangkit, surga, neraka, qada dan qadar (takdir).
Tentang Ihsan kita dapat temukan dalam ilmu tasauf, sasarannya akhlak, budi pekerti, bathin yang bersih, bagaimana menghadapi Tuhan, bagaimana muraqabah dengan Tuhan, bagaimana membuang kotoran yang melengket dalam hati yang mendinding (hijab) kita dengan Tuhan, bagaimana Takhalli, Tahalli dan Tajalli. Inilah yang dinamakan sekarang dengan Tasawuf.

Setiap Muslim harus mengetahui 3 (tiga) unsur ini sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya dan memegang serta mengamalkannya sehari-hari.

Pelajarilah ketiga ilmu itu dengan guru-guru, dari buku-buku, tulisan atau dalam jama’ah / manhaj / metode / jalan.
Waspadalah jika jama’ah / manhaj / metode / jalan yang “menolak” salah satu dari ketiga ilmu itu karena itu memungkinkan ketidak sempurnaan hasil yang akan dicapai.
Ilmu Tasawuf itu tidak bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan bahkan Qur’an dan Sunnah Nabi itulah yang menjadi sumbernya.
Andaikata ada kelihatan orang-orang Tasawuf yang menyalahi syari’at, umpamanya ia tidak sholat, tidak sholat jum’at ke mesjid atau sholat tidak berpakaian, makan siang hari pada bulan puasa, maka itu bukanlah orang Tasawuf dan jangan kita dengarkan ocehannya.

Berkata Imam Abu Yazid al Busthami yang artinya, “Kalau kamu melihat seseorang yang diberi keramat sampai ia terbang di udara, jangan kamu tertarik kepadanya, kecuali kalau ia melaksanakan suruhan agama dan menghentikan larangan agama dan membayarkan sekalian kewajiban syari’at”
Pendapat syaikh Abu Al Hasan Asy-Syadzili, ” Jika pendapat atau temuanmu bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits, maka tetaplah berpegang dengan hal-hal yang ada pada Al-Qur’an dan Hadits. Dengan demikian engkau tidak akan menerima resiko dalam penemuanmu, sebab dalam masalah seperti itu tidak ada ilham atau musyahadah, kecuali setelah bersesuaian dengan Al-Qur’an dan Hadits“.

Jadi syarat untuk mendalami ilmu Tasawuf (tentang Ihsan) terlebih dahulu harus mengetahui ilmu fiqih (tentang Islam) dan ilmu tauhid / usuluddin (tentang Iman).
Dengan ketiga ilmu itu kita mengharapkan meningkat derajat/kualitas ketaqwaan kita.
Mulai sebagai muslim menjadi mukmin dan kemudian muhsin atau yang kita ketahui sebagai implementasi Islam, Iman dan Ihsan.

Orang-orang yang paham dan mengamalkan ilmu Tasawuf dikenal dengan nama orang sufi.
Syekh Abu al-Abbas r.a mengatakan bahwa orang-orang berbeda pendapat tentang asal kata sufi. Ada yang berpendapat bahwa kata itu berkaitan dengan kata shuf (bulu domba atau kain wol) karena pakaian orang-orang shaleh terbuat dari wol. Ada pula yang berpendapat bahwa kata sufi berasal dari shuffah, yaitu teras masjid Rasulullah saw. yang didiami para ahli shuffah.
Menurutnya kedua definisi ini tidak tepat.

Syekh mengatakan bahwa kata sufi dinisbatkan kepada perbuatan Allah pada manusia. Maksudnya, shafahu Allah, yakni Allah menyucikannya sehingga ia menjadi seorang sufi. Dari situlah kata sufi berasal.

Lebih lanjut Syekh Abu al Abbas r.a. mengatakan bahwa kata sufi (al-shufi)
terbentuk dari empat huruf: shad, waw, fa, dan ya.
Huruf shad berarti shabruhu (kebesarannya), shidquhu (kejujuran), dan shafa’uhu(kesuciannya)
Huruf waw berarti wajduhu (kerinduannya), wudduhu (cintanya), dan wafa’uhu(kesetiaannya)
Huruf fa’ berarti fadquhu (kehilangannya), faqruhu (kepapaannya), dan fana’uhu(kefanaannya).
Huruf ya’ adalah huruf nisbat.

Apabila semua sifat itu telah sempurna pada diri seseorang, ia layak untuk menghadap ke hadirat Tuhannya.
Kaum sufi telah menyerahkan kendali mereka pada Allah. Mereka mempersembahkan diri mereka di hadapanNya. Mereka tidak mau membela diri karena malu terhadap rububiyah-Nya dan merasa cukup dengan sifat qayyum-Nya. Karenanya, Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.

Firman Allah ta’ala yang artinya: ”...Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)
Firman Allah yang artinya,

[38:46] Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat.

[38:47] Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.
(QS Shaad [38]:46-47) http://sufismenews.blogspot.com/

ILMU PAPPEJEPPU SEBUAH TASAWUF VERSI BUGIS

ILMU PAPPEJEPPU SEBUAH TASAWUF VERSI BUGIS



Oleh : Muh.Risani.Syam.


Jati diri suatu suku bangsa, ditentukan oleh budaya suku bangsa itu, begitu pula halnya dengan Suku Bugis. Budaya yang menjiwai orang orang Bugis, bukan hanya menyangkut, adat istiadat, atau hubungan antar sesama manusia,tapi juga hubungan manusia dengan Tuhannya. Gabungan dua kutub , yaitu hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan Tuhannya, menyatu dalam jiwa manusia Bugis sebagai perwujudan budaya,dalam kehidupan. Ada satu hal pemahaman dalam budaya mereka ketika ia berdiri pada sebuah keyakinan dengan memegang prinsip bahwa ; Seddimi Tau, Watanna mi maega artinya, Pada hakikatnya manusia hanya satu, hanya raganya yang banyak. Rupanya pemahaman inilah yang kemudian melahirkan sebuah bentuk ilmu tasawuf versi Bugis, yang disebut Ilmu Pappejeppu. Pengertian seddimi tau atau manusia hanya satu, hanya dipahami oleh orang orang yang mengenal dan yang mendalami ilmu pappejeppu, Didalam ilmu pappejeppu, dikenal bahwa dalam diri manusia, disamping raganya, juga terdapat ROH dan NYAWA, didalam ilmu Pappejeppu, dipahami bahwa ROH adalah percikan cahaya yang terpolarisasi dari Nur Ilahi, sedang NYAWA adalah seberkas percikan cahaya yang terpolarisasi dari NUR Muhammad, polarisasi kedua cahaya tersebut kemudian bersinergi, yang melahirkan letupan yang disebut NAPAS. Peranan dan manifestasi Napas inilah yang kemudian menjadi inti ajaran ilmu pappejeppu. Dari napas tersebut kemudian memancarkan lagi gelombang magnetis ke berbagai cakrawala dari segala penjuru alam pemikiran manusia, yang kemudian melahirkan cabang cabang tempat bertenggernya ilmu pengetahuan (Science), Ilmu Pappejeppu, Ilmu Mistik, dan Ilmu mantera. Khusus untuk ilmu mistik, dan ilmu mantera, semuanya tidak terlepas dari peranan napas. Walaupun hal ini nampaknya luput dari perhatian baik yang mendalami Ilmu Tasawuf atau Sufisme, ataupun ilmu pappejeppu itu sendiri. Korelasi napas yang terpolarisasi, kedalam bentuk ilmu Mistik, dan ilmu mantera, juga memberikan inspirasi, dan analisa, bahwa peranan napas pada setiap, manusia telah memberikan keyakinan prinsip seddimi Tau atau hanya satu manusia, bagi pengamal ilmu pappejeppu, hal ini oleh penulis mencoba mengungkap, pada buku ini, pada bagian lainnya. Rupanya prinsip seddimi tau atau manusia hanya satu, kurang disosialisasikan pada masyarakat umum, hal ini mungkin karena perinsip ini memilki nilai filosofi yang mendalam sehingga tidak mudah dicerna oleh orang yang tidak memahami ilmu pappejeppu. Selanjutnya bahwa Ilmu Pappejeppu ini telah dikenal dikalangan orang Bugis, jauh sebelum ajaran Islam masuk ke wilayah daerah Bugis, masuknya ajaran Islam yang, diiringi masuknya, ajaran tasawuf dari berbagai aliran Sufi, juga banyak mewarnai Ilmu Pappejeppu dalam berbagai kesamaan pandangan, namun disisi lain juga banyak perbedaannya. Ketika Ilmu Tasawuf Sufisme, menuntut manusia untuk hidup penuh kepasrahan, dan hidup Zuhud, maka orang Bugis dengan ilmu pappejepu yang dimilkinya, justru ia harus bangkit, dan berjuang, untuk melawan kepasrahan dan nasib, “ “ “(Sebagaimana Fiirman Allah SWT yang menyatakan Inna Laha La yugayirru ma bi kaomeng, hatta yugayiru ma bi anfusihim, artinya, Tidaklah berubah nasib seseorang atau kaum kecuali ia yang merubahnya,) “ hal ini guna meningkatkan kwalitas hidupnya di dunia, dan kwalitas hidup (ROH) yang ada pada dirinya ketika ia kembali ke Rahmatullah, sehingga orang orang yang memahami betul ilmu Pappejeppu, ketika ia menghadapi sakratul maut dengan berani berkata bahwa, nyawa saya tidak akan saya lepas kalau hanya suruhannya ( Malaikatul Maut) yang datang menjemput, kecuali dirinya, sama seperti ketika aku lahir ke Bumi melihat cahaya Dunia. Ilmu Pappejeppu bukanlah sebuah ilmu untuk diketahui, tapi sebuah ilmu hanya untuk dipahami. Sebagaimana pemahaman Ahli Pappejeppu, bahwa Allah SWT, ia tidak mau diketahui, hanya ia mau dipahami.

Bangkitnya orang Bugis untuk menentukan nasib ditangannya, tidak terlepas dari sebuah perinsip hidup yang menjiwai mereka yang mengatakan , Resopa temmangingngi malomo naletei pammase Dewata artinya : Hanya dengan kerja keras secara terus menerus tanpa kenal putus asa, akan mendapatkan Rachmat dari Allah SWT. Oleh karena itu ilmu Pappejeppu bagi orang Bugis bukanlah ilmu Tasawuf yang menghanyutkan manusia masuk kedalam Taqarrub untuk bertajalli, sebagai tujuan hidup, yang tidak lagi memperdulikan kehidupan disekelilingnya. Dan pandangan mereka terhadap orang orang yang hanyut dan tenggelam dalam taqarrub untuk bertajalli akan menjadikan manusia tersebut hanya menjadi beban dunia. Sebaliknya dalam ilmu pappejeppu Justru ber tajalli dalam ilmu Pappejepu bukan tujuan, tapi ia merupakan pegangan dan bekal manusia Bugis dalam menjalani kehidupan di dunia dan di akhirat kelak. Salah satu pengertian ilmu pappejeppu tidak hanya berada dalam alam gaib, yang tidak memiliki wujud realita tertentu, dan hanya dapat dihayati dan direnungkan dalam aktivitas narasi manusia, tapi juga yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana mewujudkan sesuatu yang bermanfaat, atau sesuatu yang dapat dipetik hasilnya dari hasil Pappejeppu yang bersumber dari pemahaman interaksi antara manusia dengan Tuhannya. Perbedaan lain antara ilmu tasawuf atau Sufisme dengan ilmu Pappejepu, dimana sebelum memasuki ajaran ilmu Tasawuf atau Sufisme,terlebih dahulu seseorang harus masuk kedalam salah satu aliran Tariqat, katakanlah aliran Tariqat yang paling populer di Indonesia adalah aliran Naqsyabandiah, bahwa seseorang yang masuk kedalam aliran Tariqat ini, terlebih dahulu ia harus di bay’at, sebagai bentuk kesetiaan dan kepatuhan yang mengikat dirinya terhadap Mursyid atau syaikh, maupun terhadap aliran itu. Disamping itu dalam ajaran sufisme manusia hanya dituntun untuk melakukan berbagai bentuk dzikir, utamanya dzikir yang menyangkut IZMU JALALAH, dengan berbagai metode dan latihan. Sedang dalam menuntut ilmu Pappejeppu, NAPAS adalah merupakan mediator satu satunya seseorang dalam berinteraksi dengan Tuhannya. Begitupula hubungan antara murid dan guru tidak ada suatu keterikatan, atau terhadap mursyid maupun terhadap aliran, karena ilmu pappejeppu tidak memiliki aliran, hanya satu hal yang menjadi Sumpah seseorang murid terhadap mursyidnya adalah sang murid dilarang keras mengajarkan ilmu tersebut kepada siapapun tanpa ada izin dari mursyid. Dalam ilmu pappejeppu, sebenarnya tidak dikenal Guru dan Murid, seseorang yang mengajarkan dengan menunjukkan jalan tentang tata cara Pappejepu, hanya sebuah panggilan, untuk berbagi ilmu.