Total Tayangan Halaman

Kamis, 03 Mei 2012

Wujud sempurna


Wujud sempurna sama sekali tak bergantung pada sesuatu yang lain sedangkan wujud tak sempurna bergantung pada yang lain. Poin ini merupakan mukadimah untuk menegaskan bahwa Wâjibul Wujûd (kemestian ada) tidak berupaya mencapai suatu tujuan tertentu dalam menciptakan. Yang Maha Kuat dan Maha Kaya (tak membutuhkan sesuatu)?. Suatu wujud bisa dikatakan yang Maha Kuat dan Maha Kaya, jika tidak bergantung pada selain dirinya dari tiga aspek: zat, sifat hakiki, kesempurnaan hakiki yang terkait dengan zat. Oleh karena itu, setiap wujud yang butuh dan bergantung kepada wujud lain dari dimensi zat, sifat hakiki, dan kesempurnaan (seperti bentuk, ilmu, kodrat, keindahan) ialah wujud yang tak sempurna, fakir, dan bukan “maha”.
Menurut Ibnu Sina, "Perlu diperhatikan bahwa setiap pelaku yang apabila melakukan suatu perbuatan maka dia akan menjadi lebih baik atau mengerjakan sesuatu baginya lebih baik daripada tidak melakukannya, jika perbuatan itu tidak dilakukan dan dia tak menciptakan sesuatu itu maka secara riil dia akan kehilangan kebaikan dan kesempurnaan, yakni dia tak memiliki kesempurnaan tertentu dan untuk memperolehnya ia mesti berusaha. Wujud yang membutuhkan upaya untuk mencapai suatu kesempurnaan tak bisa dikategorikan sebagai Wâjibul Wujûd, karena wujud seperti itu adalah wujud yang tak sempurna dan wujud yang tak sempurna bukanlah Wâjibul Wujûd. Dengan demikian, hal-hal yang berkaitan dengan Wâjibul Wujûd dan perbuatan-perbuatan-Nya sama sekali tidak bisa berhubungan dengan pencapian dan perolehan segala bentuk kebaikan, keindahan, dan kesempurnaan".
Apabila manusia beranggapan bahwa wujud yang tinggi dan sempurna berusaha melakukan sesuatu di alam yang lebih rendah bagi wujud-wujud yang tak sempurna demi mencapai suatu tujuan kebaikan dan kesempurnaan bagi zat dan dirinya sendiri, maka anggapan itu keliru besar. Bahwa perilaku seperti itu bagi wujud yang tinggi dan sempurna merupakan suatu kebaikan, dan wujud sempurna itu akan tergolong sebagai pelaku yang baik, karena perbuatan seperti itu adalah kebaikan dan keindahan. Dari sisi ini mesti dipahami bahwa wujud sempurna melakukan sesuatu dikarenakan kelayakan kesempurnaan, keindahan, dan keagungan zat-Nya.
Jika wujud tinggi itu disimbolkan sebagai “tuhan”, sangatlah tidak rasional menganggap “tuhan” melakukan atau menciptakan sesuatu dikarenakan untuk mencapai dan memperolah sesuatu dibaliknya. Terkadang hal itu dilegitimasi dengan dalil perbuatan-perbuatan yang mesti “tuhan” lakukan karena mengandung tujuan bagi zat-Nya. Hal ini tidaklah benar, karena kalau demikian halnya maka Wâjibul Wujûd adalah wujud tak sempurna yang terus mengejar kesempurnaan dan kebaikan, sementara Wâjibul Wujûd dari sisi zat dan sifat-Nya sama sekali tidak mengandung kekurangan dan kelemahan. Maka dari itu, kita tidak bisa memandang keberadaan arah dan tujuan bagi kesempurnaan zat-Nya dalam segala perbuatan-Nya, bahkan Wâjibul Wujûd `adalah tujuan dan arah bagi segala wujud alam. Dalam konteks linguistic Dia bukanlah “tuhan” tapi Tuhan
Perbuatan Tuhan, adalah suatu bentuk "pemberian (al-jaud)" .Dalam pemberitaan (dalil), Tuhan sama sekali tidak mengandung satu maksud dan tujuan, karena Dia tidak dikatakan sebagai Maha Pemberi (Jawâd), bahkan disebut sebagai "Pencari Untung" jika demikian.
Sebagian teolog beranggapan bahwa Wâjibul Wujûd sebagai Pelaku Sempurna yang walaupun tak membutuhkan segala sesuatu, namun perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya disebabkan untuk kepentingan dan manfaat makhluk-makhluk-Nya, yakni tujuan-Nya adalah memberikan manfaat kepada yang lain, bukan Tuhan yang mengambil manfaat dan keuntungan dari perbuatan-Nya sendiri.
Untuk anggapan itu, Ibnu Sina menjawab "Memberikan manfaat kepada yang lain, jika dipandang sebagai tujuan bagi Wâjibul Wujûd maka tetap sebagai pertanda akan kelemahan dan kekurangan-Nya. Oleh karena itu, mustahil Tuhan sebagai wujud maha sempurna memiliki tujuan. Wujud yang tinggi dan sempurna tak mungkin melakukan sesuatu disebabkan oleh wujud-wujud yang rendah, sedemikian sehingga perbuatan-Nya itu bagi diri-Nya diletakkan sebagai tujuan,
Dengan demikian, jika suatu perbuatan mengandung tujuan maka pastilah mengandung kebaikan dalam pelaksanaannya. Oleh karena itu, kalau Tuhan melakukan suatu perbuatan untuk manfaat makhluk dan Dia memiliki itu sebagai suatu kebaikan bagi diri-Nya, maka dipandang Dia mendapatkan keuntungan dari perbuatan-Nya. Dan bukan sebagai Pemberi Hakiki. Kesimpulannya, Pemberi Hakiki tidak memiliki tujuan dalam segala perbuatan-Nya dan secara mendasar wujud sempurna tidak menetapkan wujud rendah itu sebagai tujuan dan arah bagi perbuatan-perbuatannya".
Lanjut di edisi (2)-nya?
*Dikutip dari berbagai sumber

Tidak ada komentar:

Posting Komentar