Total Tayangan Halaman

Senin, 21 April 2014

Ahli Kitab dan Kerasulan Muhammad SAW

Ahli Kitab dan Kerasulan Muhammad SAW


Oleh: Tasrief Surungan

Berita akan datangnya Nabi akhir zaman, yang kelak bernama Muhammad, Sang Terpercaya, sebenarnya telah ada dalam kitab-kitab sebelumnya, yakni Taurat dan Injil. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa A.S.
" Akan Aku angkat seorang Nabi dari sanak saudara mereka, sebagaimana juga kenabian kepada Kamu, dan Akan Kutetapkan FirmanKu ke mulutnya hingga dia akan berbicara kepada mereka semua yang akan Aku perintahkan. (Deuteronomy 18:18) Siapakah seorang nabi yang dimaksud? Tidak lain adalah Rasulullah Muhammad S.A.W. Beliau menerima firman dari Allah berupa Al Quran, yang di dalamnya terdapat petunjuk yang nyata. Sedangkan yang Allah maksudkan "sanak saudara mereka" adalah anak cucu (keturunan) Nabi Ismail A.S, sepupu keturunan kaum Yahudi, anak cucu Nabi Ishaq A.S. Pernyataan Allah kepada Musa "sebagaimana kenabian kepadamu", mengandung makna bahwa antara kenabian Musa dan Muhammad memiliki beberapa persamaan, antara lain keduanya menghadapi tantangan yang demikian berat, diberi aturan hidup kemasyarakatan yang cukup komprehensif, dll.
Dalam Injil, Isa putra Maryam berkata: Jika Aku masih ada, maka Pemberi Peringatan (Conforter) itu tak akan datang padamu, tetapi jika Aku pergi, maka, Aku akan mengirimkannya kepadamu. Ia akan membimbingmu kepada kebenaran, sebab ia akan berbicara tentang dirinya tetapi apapun yang ia dengar, maka ia harus mengatakannya. (john 16:7 dan 16:13). Kaum Kristiani menafsirkan conforter itu sebagai Roh Kudus, untuk tidak mengakui kenabian Muhammad SAW, padahal, kalau merujuk ke Bahasa Ibrani, sebagai bahasa paling tua dari injil yang dapat ditemukan (kendati Isa AS, berbicara dalam bahasa Aramaik), maka "conforter", tersebut akan mirip dengan nama Ahmad atau Muhammad dalam Bahasa Arab. Tentang apa yang dikatakan Isa Almasih, Al Quran memberi informasi sbb:
Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata:"Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira akan kedatangan seorang Rasul bernama Ahmad (Muhammad)'... (QS 61:6)
Bagi, para ahli kitab yang ikhlas jaman dulu, mereka tahu betul dan bahkan menunggu akan janji Allah itu. Karenanya, seperti diketahui dalam kisah Nabawiah, ketika Muhammad belum menjadi Nabi, masih kanak-kanak, dalam perjalanan berdagang menuju Syam bersama pamannya Abu Thalib, bertemu dengan seorang pendeta Yahudi bernama Bahira, dengan mudah pendeta tsb dapat mengenali ciri-ciri kenabian yang ada pada diri Muhammad. Juga ketika beberapa hari setelah wahyu pertama, Khadija RA membawa Nabi ke pendeta Nasrani, Waraqah bin Nufail yang tanpa ragu mengatakan bahwa" Itu adalah perjumpaan Anda dengan Penghulu Malaikat, Malaikat jibril, malaikat yang sama yang datang kepada Musa. Sekiranya saya masih muda maka tentu saya akan menjadi pengikut dan pendukung anda pada saat nantinnya Anda diusir oleh kaum Anda dari tanah ini.
Orang-orang di sekitar Nabi sendiri yang punya pengetahuan seperti Abu Bakar sangat meridukan akan realisasi kabar kembira dari Alkitab. Abu Bakar, yang sering berdagang ke Syam, sering sekali mendengar penuturan orang-orang yang dijumpainya di Syam, bahwa dari sekitar Mekah itulah kelak akan diturunkan Nabi terakhir. Alasannya, karena di sanalah berdiam anak cucu keturunan Nabi Ismail AS, yang kelak salah seorang daripadanya akan diangkat oleh Allah menjadi Nabi, sebagaimana tercantum dalam kitab Taurat, dan telah dikutipkan di atas. Bagian lain kitab Taurat menyebutkan bahwa kelak nabi itu adalah dari keturunan Ke'dar (Isaiah 42:11),sedangkan Genesis 25:13, menyebutkan bahwa Ke'dar adalah anak kedua dari Ismail. Abu Bakar yang menyaksikan keadaan masyarakat Mekah yang kian hari kian rusak moralnya, menyadari akan semakin dekatnya kedatangan Nabi yang ditunggu itu. Bahkan, terkadang dalam benaknya menebak-nebak, siapa gerangan di antara penduduk Mekah yang akan bakal menjadi Nabi itu. Hingga pada suatu waktu, dalam keresahan dan penantian yang memuncak, Abu Bakar dikabari bahwa Muhammad sahabatnya, yang selama itu dikenalnya sebagai orang paling jujur, paling baik dan paling ikhlas di antara orang Quraish, telah memprolamirkan diri sebagai Nabi, maka tanpa ragu-ragu Abu Bakar saat itu juga membenarkan.
Fenomena pengakuan kenabian Muhammad saw telah berlangsung dari dulu hingga kini. Demikianlah, Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang dikehendakinya. Akan tetapi ada pula dari sebagian ahli kitab yang justru ingkar, kendati pada awalnya menunggu. Bahkan, beberapa di antara mereka dengan lancang mengadakan perubahan terhadap naskah Taurat dan Injil. Sebagai contoh mari kita telaah kisah ibadah qurban oleh Nabi Ibrahim. Taurat menuturkan sbb: " Allah berfirman:" Ambillah sekarang anakmu, anakmu yang tunggal, Ishaq, yang kamu kasihi dan pergilah ke tanah Moria, dan korbankanlah ia sebagai persembahan di salah satu dari bukit yang akan Aku tunjukkan kemudian". (Genesis 22:2). Kalau dicermati, maka ada kontradiksi dalam redaksi ayat ini, sebab menurut kitab Taurat sendiri, Ishaq bukanlah anak tunggal. Ia lahir setelah Ismail. Juga mengenai tempat kejadian, Tanah Moria, kaum Yahudi dan Nasrani menganggapnya di sekitar Palestina, sebagai tempat kediaman Ishaq dan ibunya Zarah, padahal sesungguhnya tanah Moria adalah tanah yang diperlihatkan Allah kepada Ibrahim dalam mimpi, dan terletak di sekitar Baitullah, tempat Ismail dan ibunya St. Hajar bermukim. Itu sebabnya, hinnga kini baik kaum Yahudi dan Nasrani bingung, tak tahu dimana letak tanah Moria itu. Sebab mendasarkan diri pada Taurat yang telah diubah tsb. Juga, apabila peneleahan dilanjutakan hingga akhir Genesisi 22, terlihat jelas bahwa setting background tidak cocok jika tetap dipaksakan bahwa yang akan dikorbankan adalah Ishaq. Berbeda halnya apabila kita menerima versi cerita menurut Al Quran, dimana yang direncanakan untuk dikorbankan adalah Ismail. Sehingga, sekiranya tak ada perubahan terhadap naskah Taurat, kurang lebih akan berbunyi sbb: Dan Ambillah Anakmu Yang pertama Ismail, yang kamu cintai..."
Dengan demikian lanjutannya cerita dari genesis 22 tidak akan kontradiksi, dan akan jelas bahwa memang agama Allah itu satu adanya, yaitu Agama Ibrahim yang hanif, Islam. Upaya pendeta yahudi untuk menghindarkan ketokohan Ismail dalam cerita Taurat tiada lain adalah bagian dari keengganan menerima Islam. Alquran memperingatkan mereka sbb: "Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Quran) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang yang pertama kafir padanya". (QS 2:41). "Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya'kub. (Ibrahim berkata):"Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama islam".(QS 2:132).
Selanjutnya Al Quran mengajarkan bagaimana muslim meresponi mereka, "Dan mereka berkata:"Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk". Katakanlah:"Tidak, bahkan kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah Ibrahim dari golongan yang musyrik". Katakanlah:"Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya'kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepadaNya".(QS 2:136). Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepadaNya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai Orang-orang Yahudi dan Nasrani) mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishaq, ya'kub dan anak-anak cucunya adalah penganut agama Yahudi atau Nasrani? Katakanlah:" Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya? Dan Allah sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan.
Simpulan
Kerasulan Muhammad SAW sejak awal telah diisyaratkan dalam kitab-kitab sebelumnya. Beliau adalah penutup sekaligus pelengkap risalah yang diturunkan Allah SWT. Allah berfirman: " Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu ni'matKu, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu" (QS 5:3).
Allah juga menegaskan " Barangsiapa mencari agama selain dari agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang yang merugi.(QS 3:85)
Maha Benar Allah dengan dengan segala FirmanNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar