Total Tayangan Laman

Minggu, 20 Januari 2013

Kisah Penciptaan Ruh Manusia Menurut Filsafat dan Qur an


: Kisah Penciptaan Ruh Manusia Menurut Filsafat dan Qur an: Seri tanya-jawab antara Fan Malaka dan Usatd Sinar Agama
Fan Malaka:
assalamu  alaikum ustads, saya mau bertanya tentang jiwa, saya pernah dapat  referensi yang mengatakan bahwa jiwa itu bermula secara material dan  berkelanggengan secara spritual.­­
apa maksudnya  itu, apakah jiwa itu merupakan materi?­­ trus dimana batasan antara  materi dengan non materi? tolong penjelasannya. terimakasih sebelumnya. 

Sinar Agama:
Salam dan terima kasih  pertanyaannya:

(1).  Dalam bahasa Arab hal yang antum tanyakan itu dikenal dengan:  "Maadiyatu al-huduuts wa ruuhaaniyatu al-baqa' ", yakni bahwa ruh itu  adalah materi secara keberadaannya dan ruhi secara kelanggenngannya.

(2).  SEbelum saya terangkan lebih jauh, perlu diketahui bahwa keyakinan para  filosof sebelum Mulla Shadra ra, dan begitu pula para muslimin, meyakini  bahwa ruh manusia itu sudah dicipta sebelum badan dan berada di alam ruh  atau alam alastu (bukankah Aku Tuhan?). Mereka meyakini bahwa ruh itu  ada sebelum badan dan baru setelah badan bayi di dalam perut sudah siap  menerimanya, maka Tuhan melalui malaikatNya, meniupkan ruh itu ke dalam  tubuh janin yang ada di dalam perut ibunya tsb, yakni sekitar kandungan  berumur 4 bulan.

(3). Dalil bagi para Filosof, adalah dari  Plato yang telah membuktikan adanya "alam mitsal" atau "alam barzakh"  atau "alam mirip materi" atau "alam khayal" atau "alam ide" atau "alam  seperti mimpi" atau "alam mirip materi selain materialnya atau matternya"

(4)  Sedang dali dari muslimin adalah QS: 7: 172, yang berbunyi: "Dan  ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan anak-anak Adam dari sulbi mereka  dan Allah mengambil kesaksian dari jiwa mereka (seraya berfirman):  'Bukankah Aku ini Tuhan kalian?' Mereka berkata 'Benar, kami menjadi  saksi.'"

(5) Karena itu, maka alam ruh itu dalam Islam  dikenal denagn "Alam Dzar" atau "alam bibit" atau "alam atom" atau "alam  ruh" atau "alam alastu" (mengambil dari ayat di atas yang berbunyi  "alastu birobbikum", yakni "bukankah Aku Tuhan kalian") karena itu  muslimin juga mengistilahkan dengan nama "alam alastu" yakni "alam bukankah  Aku" ...dst.

(6). Sebelum saya meneruskan jwban ini, saya  perlu ingatkan Antum pada susunan tiga alam makhluk: Pertama makluk Akal  dengan derajatnya yang banyak, yakni malaikat tinggi. Ke dua, makhluk  Barzakh  yang  disebut dengan malaikat tengah antara malakat tinggi dan alam  materi. Ke tiga, alam materi.

(7). Allah mencipta  langsung hanya Akal-pertama, dan dari Akal-pertama itu, Allah mencipta  Akal-ke dua, dan dari ke dua ke ke tiga, begitu seterusnya sampai ke  Akal-akhir yang juga dikenal dengan 'Arsy dan Lauhu al-Mahfuzh.

Dari  Akal-akhir itu Allah mencipta malaikat tengah yang dikenal dalamQur an  dengan "mudabbiraati amran" atau "pengatur semesta materi", seperti malaikat  Jibril, Mikail, malaikat hujan, bumi, langit, sungai, laut, angin, ....  dst dari semua makhluk materi.

Kemudian dari malaikat Barzakh itu, Tuhan mencipta alam materi ini.

SEmua  ini, sudah sering diterangkan di catatan-catatanku tentang filsafat dan irfan ata  akidah dan Kalam. Jadi, kalau ingin tahu dalilnya, tentang megapa harus  demikian, maka silahkan merujuk ke tempat-tempat itu.

(8).  Sebelum aku teruskan, org seperti Moldiy itu pusing dengan keberasalan hadhrat  Faathimah as bahwasannya beliau as dari jabarut dan dikiranya hal itu  sama dengan Kristen yang mengatakan bahwa Isa as dari titisn Tuhan,  karena ketidak mengertiannya terhadap bahasa orang yang berbicara dan  dimaknakannya dengan bahasanya sendiri dan ilmunya sendiri  yang  bak dalam  tempurung.

Ketahuilah, bahwa alam Akal itu disebut dengan  Jabarut. Jadi semua materi dari Barzakh  yang  juga disebut dengan Malaakut, dan  Barzakh ini dari Jabarut itu. Jadi, bukan hanya para nabi dan rasul atau  maksumin atau hadhrat Faathimah  yang  dari jabarut, tetapi  semua alam materi  ini dari sana datangnya. Karena itulah Jabarut itu juga disebut denga  "Gudang Tuhan", atau "Khazaain" (QS: 15: 21)  yang  kurang lebih bunyinya:  "Tidaklah setiap sesuatu apapun, kecuali dari gudang Kami, dan Kami  menurunkannya sesuai ukurannya".

Jadi, kehebatan para  maksum itu bukan dari sananya, tetapi  ketika kembali dengan ikhtiar takwanya  itulah dimana mereka berhasil kembali lagi ke Jabarut itulah yang  dikatakan kehebatan. Karena manusia banyak mangkal di Barzakh bagian  neraka (karena surga neraka bertempat di Barzakh itu), dan kalaulah agak  hebat berada di Barzakh bagian surga. tetapi  mereka melesat jauh sampai ke  'Arsy, dan di atasnya, sampai ke Akal-pertama dan  asma-asma  HusanaNya. Nah,  Ilmu Tuhan tentang keberhasilan mereka yang sampai ke tingkat tinggi itulah  yang dikatakan bahwa merreka berasal dari sana. Karena Ilmu Tuhan  sebelum kejadiannya. rinciannya lihat di Wahdatulwujud. Krena itulah  Akal-satu itu dikatakan juga dengan Nur-Muhammad, yakn Ilmu Allah tentang keakan  mencapainya Muhammad ke maqam itu.

(9). SEtelah kita  ingat lagi akan susunan tiga alam itu, maka ketahuilah bahwa yang  dimaksud dengan alam ruh bagi yang mengimaninya, adalah alam barzakh  itu. Jadi ruh-ruh manusia sudah dicipta di sana dan setlah ada janin yang  siap menerimanya, maka ditiupkan ke dalamnya hingga bayi itu menjadi  hidup. Nah, pertanyaan Tuhan itu, terjadi di alam ruh  yang  disebut dengan  berbagai nama itu  yang , kedudukan alamnya adalah alam Barzakh tsb.

‎(10).  Sesuai dengan yang mengimani alam ruh ini, baik karena dalil filsafat atau  dali Qur an, maka ruh adalah ruhaaniyyatu al-huduuts dan baqaa', yait  bahwa ruh manusia itu adalah non materi secara awal kejadiannya dan begitu  pula kelanggenannya. Karena sebelum ditiupkan adalah non materi (ruhi)  dan setelah matinya nanti kembali lagi menjadi ruhi atau non materi.  Jadi, baik awal kejadiannya atau kelanggengannya, ruh itu adalah ruhi  atau non materi.

‎(11). Akan tetapi bagi Mulla Shadra,  semua pendalilan itu tidak benar dan kurang pada tempatnya. Dengan  alasan,bahwa kalau ruh itu dari awal sudah ada, berarti dia hebat dan  penuh pengetahuan. Karena sewaktu keberadaannya non materi, maka tidak ada  yang terhijabi baginya kecuali keberadaan yang ada di atasnya. Dan  karena itulah, mereka  yang  mengimani itu juga mengiyakannya dan mengatakan  bahwa ketika ruh itu menyatu dengan badan maka semua ilmunya sirna karena  terhijabi dengan badan. Dan karena itulah, kata mereka, kadang kita ketika  melihat sesuatu seperti pernah melihatnya sebelumnya, sebenarnya kejadian  itu karena mmg sudah dilihatnya sewaktu di alam ruh itu tetapi  sudah lupa akrena  hijab badannya.

Nah, ketika ruh itu tahu segalanya, lalau  mengapa Tuhan menurunkannya ke materi hingga menjadi bodoh kembali?  Bukankah semua perbuatan Tuhan itu memiliki hikmah? Lalu apa hikmah  penurunan ruh yang hebat ini ke alam materi dan kebodohan ditambah  dengan syahwat yang nantinya bisa masuk neraka?

Jadi, bagi  MS (kependekan Mulla Shadra), hal seperti itu tidak masuk akal karena tidak  adanya hikmah dari penurunan itu. Lalu bagiamana menurutnay tentang  penciptaa ruh yang non materi ini?

Mulla Sadra mengatakan: ruh itu  mmg ditiupkan kepada badan ketika badan bayi sudah siap menerimanya. Akan  tetapi yang ditiupkan kepadanya bukan ruh  yang  sudah ada, tetapi  pengadaan baru  yang dilakukan dengan peniupan itu yang dilakukan oleh malaikat yang  mengurusi manusia.

Artinya, malaikat ruh itu, adalah wujud  yang satu. Dia adalah tuhan species manusia atau pengatur manusia yang  selalu mengontrol perkembangan ruh lemah ke ruh kuat yang biasa dikenal  dengan ruh manusia ini dan siap menjadikannya, alias membentuknya menjadi  ruh manusia yang de fakto. Jadi, malaikat ruh bukan membuat ruh-ruh yang  banyak dan setelah itu meniupkannya ke bayi di dalam perut, bukan  begitu. Akan tetapi ia sendiri yang satu itulah yang meniupkan ke dalam  badan bayi yang sudah siap itu. Artinya, mewujudkan dan merestui  perkembangan ruh yang dikontrolnya itu untuk menjadi manusia.

Dengan  penjelasan yang lain: Ketika seorang ayah makan daging kambing atau   biji-bijian yang mengandung hormon, maka benda mati yang disebut materi itu  menjadi semakin halus di dalam perut karena menjadi gizi. Di dalam  kaidah dan dalil yang lain di filsafat, tidak ada benda yang tidak memiliki  ruh. Batu, tanah,  biji-bijian, daging, ... semuanya, memiliki ruh. Dalilnya  lihat di catatan-catatan sebelumnya.

Nah, ketika daging atau   biji-bijian yang memiliki ruh daya tambang itu (karena kerja ruhnya hanya  semacam memutar-mutar atom badaniahnya) menjadi gizi, disini ruh  tambangnya belum berubah ke ruh yang lebih tinggi, baik nabati atau  hewani.

Akan tetapi, ketika sudah menjadi mani di kandung  mani seorang calon ayah, maka  benda mati atau yang hanya ber-ruh dengan  rub tambang itu, kini memiliki ruh yang lebih tinggi, yaitu ruh nabati  (berkembang) dan bahkan hewani karena bisa bergerak dengan kehendak.

Ketika  ia bertemu dengan ovum yang juga memliki ruh daya tambang, nabati dan  hewani, maka pertemuan kedua benda itu membuat kedua ruhnya juga  bertemu.

Ruh yang bertemu itu semakin hari semakin  menguat. Hingga pada sekitar umur 4 bulan, ruh itu sebgitu menguatnya  hingga bisa dikatakan ruh manusia. Artinya sudah mulai melakukan gerakan-gerakan  manusia walau dalam bentu keterbatasannya di dalam perut.

Memang,  manusia itu dikatakan manusia ketika sudah bsai memahami universal. Akan  tetapi karena kepotensian dia di dlam perut dan begitu pula nanti setelah  lahir, bisa dikatakan sudah sangat dekat pada de faktonya itu. Karena itu,  bayi di dalam perut dan  yang  sudah lahir tetapi  belum memahmi universalpun  dapat dikatakan manusia, karena kedekatakan potensinya pada de faktonya  itu.

Arti peniupannya itu adalah restu yang berupa  pewujudan pada pencapaian ruh pada estafet manusia yang paling dasar  itu. Karena semua proses itu tidak bisa terjadi kecuali dengan pengaturan  Tuhan yang melalui para malaikataNya itu.

Begitu  seterusnya  berkembang menjadi pandai dan takwa, atau bodoh tan fasik, atau alim dan  fasik .... dan semacamnya, maka pada akhirnya ia mati. Artinya ruhnya  meninggalkan badannya.

Nah, ketika ia mati itulah ia menjadi ruh yang mutlak atau non materi yang mutlak alias tanpa campuran materi lagi.

Jadi,  Ruh Manusia itu pada awal kejadiannya adalah materi, tetapi  dalam  kesinambungan dan kelanggengannya adalah non materi atau ruhi.

Inilah yang diaktakan bahwa Ruh Manusia itu materi di awal kejaidannya dan non materi di kelanggengannya.

Berbeda dengan yang sebelumnya yang mengatakan non materi atau ruhi di awal dan kesinambungannya.

Karena  itulah yang mngingkari Tuhan dikatakan Kafir, karena ia tidak bisa  mengingakarinya. Kafir yakni Coverer atau "yang menutupi". Yakni  menurupi apa-apa yang ada di hatinya tentang kepercayaannya terhadap adanya  Tuhan. Yakni menutupinya dengan kata-katanya  yang  dusta dengan berkata "aku tidak  percaya adanya Tuhan).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar